Back to Kompasiana
Artikel

Sport

Prima Sp Vardhana

FILOSOFI KEMANUSIAAN SUNAN DRAJAT • Memangun resep teyasing Sasomo (kita selalu membuat senang hati orang lain) • Jroning suko selengkapnya

Hadapi PON XIX, KONI Jatim Gelar Puslatda Iptek

REP | 20 April 2013 | 18:23 Dibaca: 267   Komentar: 0   0

Kegagalan dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/2012 di Riau, tidak sekadar pengalaman pahit buat Kontingen Jawa Timur (Jatim). Namun, sebuah kegagalan yang akibat prosesi rekayasa yang harus ditebus. Karena itu, sepulang dari Riau, sebuah evaluasi mendalam dilakukan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jatim. Mempertanyakan kegagalan mayoritas cabor unggulan. Juga, memeras otak untuk menemukan sebuah sistem Puslatda baru yang menjanjikan kepastian prestasi emas dari arena PON XIX/2016 di Jabar.

1366456280813080307SAAT penyelenggaraan PON XVII/2008 di Kalimantan Timur (Kaltim), kontingen Jatim berhasil membuat kejutan. Kontingen yang dikomandani Gubernur Jatim yang juga Ketua Umum KONI Jatim, Mayjend. TNI (Purn.). H. Imam Utomo itu berhasil merebut predikat juara umum. Sebuah prestasi prestisius yang empat tahun sebelumnya diboyong kontingen DKI Jaya. Gelar yang mengibarkan gengsi Jatim ditingkat nasional itu ditebus dengan membawa pulang 139 keping emas 113 perak dan 111 perunggu, sementara mantan juara umum DKI Jaya harus rela tersuruk diperingkat runner-up dengan perolehan medali 119 emas 117 perak dan 122 perunggu.

Prestasi Jatim menggusur DKI Jaya di Kaltim itu melahirkan sebuah kekaguman nasional. Sukses itu pun berbuntut dengan banyaknya daerah yang berbondong-bondong ke Jatim. Para utusan itu datang tak sekadar wisata untuk menikmati tebaran tempat wisata yang dimiliki Jatim. Mereka datang untuk study banding tentang sistem pembinaan olahraga, yang mengantarkan Jatim merebut predikat juara umum PON 2008.

Ini karena Puslatda Jatim 100 yang menjadi kunci sukses Jatim dalam PON XVII, diakui daerah-daerah lain sebagai konsep pembinaan yang sangat menjanjikan prestasi. Itu dibuktikan dengan kemampuan Jatim memutarbalikkan prediksi para pengamat. Jelang penyelenggaran pesta olahraga multieven paling bergengsi di Indonesia itu, Jatim mendulang cemooh para pengamat. Vonis menempati peringkat dua besar atau tiga besar, ditetapkan pengamat olahraga dalam memprediksi prestasi Jatim dalam PON 2008.

Barometer prediksi para pengamat atas peluang Jatim di PON Kaltim, adalah hasil PON XVI tahun 2004. Dalam pertempuran di Sumatera Selatan itu, DKI Jaya merebut predikat juara umum dengan perolehan medali 141 keping emas 111 perak dan 114 perunggu. Jatim di posisi runner-up dengan 77 emas 81 perak dan 111 perunggu, sementara peringkat ketiga direbut Jabar dengan perolehan 76 emas 79 perak dan 94 perunggu.

Berdasar pada selisih medali emas yang sangat jauh, para pengamat menilai merupakan sebuah kemuskilan Jatim mampu merealisasikan sesumbarnya. Menggeser DKI Jaya. Sebab dalam PON XVI yang mempertandingkan 41 cabang olahraga (cabor) dan 625 nomor pertandingan, sebagaimana SK Nomor 19 Tahun 2003 tanggal 21 Februari 2003, direvisi dengan SK Nomor 54 Tahun 2003 tanggal 23 Mei 2003 itu, selisih medali emas DKI Jaya dan Jatim sebanyak 64 keping.

Dengan selisih medali emas yang mencapai 45 presen itu, sangatlah tidak memungkinkan Jatim mampu menggusur DKI Jaya dalam PON XVII yang mempertandingkan 43 cabor dan 749 nomor pertandingan. Bahkan Jatim diprediksi berpotensi untuk digusur Jabar. Ini karena selisih Jatim dan Jabar dalam PON XVI hanya sekeping medali emas, 2 perak dan 17 perunggu.

Yang terjadi di arena PON XVII justru sebaliknya. Kontingen Jatim berhasil mempecundangi juara umum DKI Jaya. Jatim merebut predikat juara umum dengan 139 keping emas, sementara DKI tersungkur di posisi runner-up dengan selisih 20 emas. Sedangkan Jabar tersuruk diperingkat keempat dengan 101 keping emas, sementara peringkat ketiga direbut kontingen tuan rumah Kaltim dengan mendulang 116 emas.

Sukses Jatim menjungkirbalikkan prediksi pengamat lewat program Puslatda Jatim 100 itu, mendapat perhatian daerah lain. Berbondong-bondong mereka mengirimkan utusannya ke Jatim untuk study banding. Sepulang ke daerah masing-masing, konsep pembinaan atlet itu mereka terapkan dalam puslatda yang diselenggarakan KONI daerah asalnya.

Kondisi sama juga dilakukan Jatim, dengan program Puslatda Jatim 100 jilid II. Targetnya Kontingen Jatim harus mampu mempertahankan predikat juara umum dalam PON XVIII/2012 di Riau. Namun yang terjadi justru antiklimaks. Jatim tersuruk di peringkat ketiga dengan perolehan medali 86 emas, 83 perak dan 85 perunggu. Posisi juara umum kembali dirampas kontingen DKI Jaya dengan perolehan 110 emas, 101 perak dan 112 perunggu. Kontingen Jabar menyodok di posisi kedua dengan 99 emas, 79 perak dan 101 perunggu.

Kegagalan Jatim dalam PON 2012 itu pun mendulang beragam pendapat. Sebagian menilai, kegagalan itu disebabkan Jatim lengah dalam menyiapkan kontingen yang dikirimkan. Itu dibuktikan dengan banyaknya cabor andalan yang gagal mendulang emas seperti saat PON Kaltim. Cabor panjat tebing dan renang, misalnya.

Lebih memprihatinkan lagi, ada pendapat yang menilai kegagalan kontingen Jatim sebagai efek domino dari banyaknya perseteruan internal cabor, sehingga program puslatda cabor dilakukan dalam atmosfer yang kurang kondusif. Dampaknya mempengaruhi psikologis atlet. Misalnya, perseteruan di cabor tinju, dan perselisihan jatah atlet sebagaimana yang terjadi di cabor panahan. Demikian pula yang menggoyang cabor renang.

REKAYASA NOMOR

13664646951973237560

KETUA Harian KONI Jatim, H. Dhimam Abror dampingi Komandan Kontingen Jatim, H. Soekarwo saat devile Kontingen dalam pembukaan PON XVIII

Sedangkan beberapa cabor menegaskan, bahwa kegagalan Jatim dalam PON XVIII lalu tak hanya berasal dari tidak kondusifnya suhu internal pengprov cabor. Namun, juga disebabkan oleh beragam intrik dari daerah-daerah pesaing Jatim dalam perebutan medali PON 2012, seperti dari DKI Jaya, Jabar, Jateng, termasuk tuan rumah Riau. Keempat daerah itu secara signifikan dan bergantian melakukan provokasi terhadap KONI Pusat. Salah satunya lewat usulan pengurangan atau penambahan cabor dan nomor yang akan dipertandingkan di PON XVIII/2012.

Permainan intrik yang dilakukan DKI Jaya, Jabar, Jateng dan Riau itu terproyeksi dengan kuatnya dalam Surat Keputusan (SK) Ketua Umum KONI Nomor 73 Tahun 2010. Dalam SK yang disahkan pada 15 September 2010 itu tersurat, bahwa PON XVIII/2012 di Riau ditetapkan mempertandingkan 39 cabor dengan mempertandingkan 555 nomor. Medali yang diperebutkan 555 medali emas, 555 perak dan 729 perunggu. Isi SK secara kental memproyeksikan adanya atmosfer rekayasa untuk menghadang Jatim mempertahankan predikat juara umum. Rekayasa itu tercermin dari dihapuskan atau dikuranginya nomor-nomor cabor yang menjadi lumbung emas Jatim dalam PON XVII/2008.

Pengurangan nomor terjadi pada cabor selam dari 24 nomor menjadi 15 nomor, panjat tebing dari 21 nomor menjadi 14 nomor. Pemangkasan nomor paling ekstrem terjadi di cabor panahan, yang mempertandingkan 12 nomor dari 26 nomor yang digelar dalam PON 2008. Sebaliknya pada cabor renang justru nomornya ditambah, dari 32 menjadi 36 nomor. Uniknya 4 nomor tambahan itu tak mengacu pada multieven internasional, seperti SEA Games, ASEAN Games dan Olimpiade. Nomor rekayasa yang dipaksakan digelar adalah nomor 50 m gaya dada wanita, 1500 m gaya bebas pria dan wanita, serta 50 m gaya punggung pria.

Belum hilang rasa jengkel akibat SK beratmosfer rekayasa yang memaksa KONI Jatim harus mengubah program puslatda yang sudah berlangsung 2 tahun. Juga, membuang sia-sia anggaran puslatda yang berjumlah miliaran rupiah itu, ternyata KONI Pusat kembali bersikap plin-plan. KONI Pusat yang saat itu sudah dipimpin Tono Suratman menerbitkan SK Ketua Umum KONI Nomor 35 tahun 2011. SK yang diterbitkan pada Agustus 2011 itu isinya mengubah SK Nomor 73/2010. Dalam SK baru itu, KONI Pusat memutuskan menambah cabor yang dipertandingkan menjadi 43 cabor dengan mempertandingkan 598 nomor. Medali yang diperebutkan juga mengalami pembengkakan menjadi 598 medali emas 598 perak dan 785 perunggu.

Kentalnya atmosfer rekayasa itu, kata Ketua Harian KONI Jatim H. Dhimam Abror Djuraid, terlihat dari 43 nomor tambahan itu. Nomor-nomor itu bukan yang dikepras lewat SK nomor 73/2010. Sebaliknya merupakan nomor baru pesanan DKI Jaya, Jabar, dan Riau. Selain itu, semua nomor tambahan itu juga tidak mengacu pada nomor yang digelar dalam SEA Games, Asean Games ataupun Olimpiade.

Tambahan 43 nomor pertandingan baru itu adalah pengembangan dari 17 cabor, yaitu menambah 8 nomor cabor menembak, atletik (2 nomor), catur (2 nomor), perahu naga (5 nomor), golf (2 nomor), gulat (5 nomor), taekwondo (2 nomor), tinju (2 nomor), wushu (2 nomor), paralayang (2 nomor), terbang layang (2 nomor), terjun payung (2 nomor), bridge (2 nomor), dan sepatu roda (2 nomor).

PUSLATDA IPTEK

13664653131827508880

EMAS TAKRAW JATIM. Tim putri Jatim memperlihatkan medali emas yang berhasil diraih cabang Takraw beregu di Arena Takraw, Komplek Purna MTQ, Pekanbaru, Riau, Jumat, (14/9). FOTO ANTARA/Fachrozi Amri

Belajar dari kegagalan bertempur dalam PON XVIII/2012 di Riau. Kontingen Jatim harus mengembalihkan mahkota Juara Umum pada DKI Jaya, dengan koleksi 110 emas, 101 perak dan 112 perunggu. Juga, harus tersuruk ke peringkat ketiga dengan perolehan medali 86 emas, 83 perak dan 85 perunggu. Sebaliknya Jabar menyodok di posisi kedua dengan membawa pulang 99 emas, 79 perak dan 101 perunggu.

Tak pelak lagi, KONI Jatim pun terlecut untuk melakukan untaian perbaikan. Tidak hanya melakukan perampingan kepengurusan, dari 168 pengurus menjadi 114 pengurus. Kepengurusan yang kini dikomandani H. Erlangga Satriagung itu, juga melakukan perubahan total terhadap format Puslatda persiapan PON XIX/2016. Perubahan tak hanya menyentuh pada teknik pemilihan atlet penghuni Puslatda. Namun, juga terhadap sistem pengawasan, pembinaan, dan penanggungjawab Puslatda.

“KONI Jatim melakukan perubahan format Puslatda, karena kami tidak ingin mengulang pengalaman tidak nyaman saat Puslatda PON 2012. Kondisi Puslatda beberapa cabor tidak kondusif, karena perseteruan internal pengprov cabor. Namun imbasnya menciderai psikologis atlet, seperti keluhan yang disampaikan beberapa atlet pada saya,” kata H. Erlangga Satriagung di ruang kerjanya.

Format Puslatda yang digodok selama satu bulan penuh oleh sebuah tim dibawah komando Prof. Toho Cholik Mutohir, dikatakan pria yang juga Ketua Real Estate Indonesia (REI) Jawa Timur itu, selesai dibahas pada bulan Februari 2013 lalu. Tim tersebut beranggotakan ahli olahraga, ahli gizi, dan ahli ilmu pengetahuan, yang berasal dari kalangan profesional serta akademisi dari universitas-universitas ternama di Surabaya.

Format yang dirancang tim tersebut, menurut dia, berbasis iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Kebijakan ini dilakukan, karena target KONI Jatim mengejar kekurangan dan kelemahan yang membuat Jatim gagal dalam PON Riau, dengan waktu yang relatif singkat.

Format Puslatda Iptek persiapan PON XIX yang dimulai awal April lalu, diakui, sudah dimulai sejak melakukan seleksi atlet yang layak menghuni puslatda. Para atlet bidikan calon penghuni puslatda, diwajibkan mengikuti dan harus lolos rangkaian uji daya kemampuan, uji kesehatan, serta uji gizinya. Hal yang sama juga berlaku bagi pelatih. Targetnya, Puslatda persiapan PON 2016 hanya dihuni deret atlet dan pelatih pilihan.

“Format Puslatda model baru itu menempatkan semua atlet potensial, baik yang mantan kontingen PON Riau dan atlet non PON dalam porsi yang sama. Mereka yang berhasil lolos uji kompetensi saja yang berhak menghuni kamp Pusltda, yang gagal silahkan menunggu 3 bulan lagi untuk ikut uji kompetensi dan teknik melawan penghuni Puslatda. Atlet yang lolos seleksi itulah yang menghuni puslatda,” ujarnya.

Dalam melakukan proses seleksi, KONI Jatim bekerjasama dengan beberapa instansi. Seperti Pusat Kesehatan Olahraga (Puskesor) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan RSU Dr Soetomo. Selain itu, KONI Jatim juga menggandeng Department of Sport Western Australia. “Kami sudah minta Australia Barat untuk mendampingi kami. Selain akan memberikan metode pemusatan latihan, mereka juga mendampingi kami sampai PON,” katannya.

Dengan format baru itu, tidak dipungkiri, bahwa bukan ketidakmungkinan setiap tiga bulan kedepan akan terjadi penyegaran tim pusltda. Masuk atlet baru menggantikan atlet pusltda, yang gagal dalam seleksi yang dilakukan sebelumnya. Dengan format baru ini, Erlangga memastikan kamp puslatda hanya dihuni oleh para atlet terbaik, terkuat, tertangguh, dan tercepat yang siap dan menjanjikan medali nasional ataupun PON bagi Jatim.

Sedangkan pengawasan Puslatda, menurut Erlangga, tidak lagi ditangani oleh pengurus provinsi (Pengprov) cabang olahraga (cabor). Namun, dilakukan sebuah Satuan Tugas (Satgas), dengan sistem pengawasan melekat seperti pelatihan nasional (Pelatnas) Program Indonesia Emas (Prima) yang berlangsung jangka panjang. Satgas ini nantinya mempertanggungjawabkan hasil Puslatda proyeksi PON 2016 pada KONI Jatim.

Satgas ini secara dipimpin oleh H. Dhimam Abror Djuraid yang juga Ketua Harian KONI Jatim, dengan struktur jabatan Direktur Puslatda PON XIX/2016. Dalam melaksanakan tugasnya, dibantu tiga Wakil Direktur yang terdiri dari Sucipto, Muhammad Nabil dan Irmantara Subagio.

“Pengawasannya akan dilakukan dengan membagi sektor cabor, seperti sektor olahraga dirgantara, olahraga akuatik, olahraga terukur, olahraga tidak terukur, dan olahraga permainan. Setiap sektor dipimpin oleh seorang ketua yang bertanggungjawab pada Direktur Puslatda,” ujar Erlangga Satriagung mengunci pembicaraan.(#)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Susahnya Mencari Sehat …

M.dahlan Abubakar | | 30 August 2014 | 16:43

Penghematan Subsidi dengan Penyesuaian …

Eldo M. | | 30 August 2014 | 18:30

Negatif-Positif Perekrutan CPNS Satu Pintu …

Cucum Suminar | | 30 August 2014 | 17:13

Rakyat Bayar Pemerintah untuk Sejahterakan …

Ashwin Pulungan | | 30 August 2014 | 15:24

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22



HIGHLIGHT

Mengenang Penyair Rendra di Taman Ismail …

Trie Yas | 9 jam lalu

Menyapa Ijen, si Eksotis dari Timur Jawa …

Hari Akbar Muharam ... | 9 jam lalu

Air Sehat Untuk Semua …

Asep Dudinov Ar | 9 jam lalu

Peluang dan Tantangan Kebijakan SBY dalam …

Adi Rio Arianto | 10 jam lalu

Mengenang Skandal Spingate di Richmond 2013 …

Bertho Mulwiennoer | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: