Artikel

Sport

Mataharitimoer

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

MT adalah blogger Indonesia. Buku yang ditulis : Jihad Terlarang (2007), Guru Kehidupan (2010), Biarkan Baduy Bicara (2009), Lelaki di Bunderan HI (2005), Ekspedisi Walisongo (2011). Blogger for SEAG 2011 Jabat erat!

Serba-Serbi SEAG 2011: Bukan Sekadar Dipekerjakan, Tetapi Diajarkan


REP | 19 November 2011 | 23:48 Dibaca: 149   Komentar: 5   Nihil

Yang paling spesial dirasakan oleh masyarakat Palembang sebagai tuan rumah SEA Games XXVI adalah, gratisnya kendaraan yang ada di kompleks Gelora Jakabaring (Jakabaring Sport City). Mereka bebas naik Angkot, Becak, Golfcar, maupun Bus BBG yang menjadi bagian dari pelayanan transportasi gratis untuk rakyat.

Awalnya salah seorang anggota Tim agak ragu, apakah benar-benar gratis. “Kalau nanti pas sudah naik, kita ditembak (diminta membayar) gimana?” celetuknya.

Keraguan itu sirna setelah kami mencobanya. Lagi pula belum afdhal rasanya kalau tidak membuktikan sendiri, apakah benar-benar gratis. Karena itu kami berlima, Tim “Blogger for SEAG2011″, mencoba satu per satu layanan transportasi gratis itu.

13217212302040914758

ID Card blogger for SEAG 2011 | modified by MT

Kami naik Bus Angkutan Berbahan Bakar Gas (BBG). Buat kami yang sering malang melintang di Jakarta, rasanya seperti naik Bus Transjakarta saja. Sama persis jenis kendaraannya. Kami menumpang Bus BBG menuju Jakabaring Aquatic Stadium bersama masyarakat Palembang lainnya yang ingin menonton pertandingan loncat Indah.

Selain Bus, kami juga sempat menumpang Angkot yang juga gratis, menuju Wisma Atlet yang juga berada dalam kompleks Jakabaring Sport City yang luasnya sekitar 350 hektar. Kukutip kembali pertanyaanku kepada supir angkot, seperti yang pernah kupublikasikan menjadi bagian esaiku di blog pribadi.

“Setiap hari melayani gratis, pak?” Tanyaku kepada supir Angkot SEA Games.

“Sebenarnya tidak gratis. Kami tetap dibayar dan diberi konsumsi. Tetapi semua bayaran itu ditanggung oleh Panitia.” Jawabnya suka cita.

“Dibayar berapa, pak?” Kayaknya ‘senga’ juga pertanyaanku.

“Ah, itu tak perlu disebut, lah.” Jawabnya tersenyum.

Pada hari kedua di Palembang, kami sempat menumpang GolfCar menuju Main Dining Hall, dimana Pak Alex Noerdin, Gubernur Sumatera Selatan telah menunggu kami untuk bercengkrama.

“Wiih, suaranya macam pesawat aja!” Celetukku sesaat kendaraan yang biasanya ada di lapangan Golf itu berjalan.

“Norak!” Balas temanku sambil tertawa dan memotret kami dengan kameranya.

“Yang satu norak, satu lagi narsis, haha…” timpal temanku yang lainnya sambil memasang muka cute karena sadar kamera.

13217178032123592964

Tim Blogger for SEAG Palembang, @lucianancy @wulan_muh, @mataharitimoer. Norak dan Narsis | Foto: @harrismaul

Bahkan sepedapun disediakan oleh panitia SEA Games Palembang. Ada sekitar 500 sepeda yang disediakan untuk masyarakat yang ingin berjalan-jalan di kompleks Gelora Jakabaring ini.

“Dari 500 sepeda yang kami sediakan, sudah hilang sekitar 160 unit, hahaha…” Pak Alex Noerdin menceritakan fakta apa adanya.

Beberapa orang di antara kami geleng-geleng kepala. “Sempat-sempatnya. Udah gratis, eh diembat pula” selorohnya.

1321718082156649056

Tim Blogger for SEAG naik GolfCar memasuki Wisma Atlet | Foto: @harrismaul

Tetapi dari semua kendaraan gratis yang disediakan oleh panitia, yang paling aku suka adalah becak. Ada pengalaman seru dan menarik bagiku sendiri. Tepatnya terjadi saat kami mengejar waktu untuk ke Arena Menembak. Sampai di gerbang Jakabaring Sport City, 5 Becak Gratis berjejer. Karena saat itu Tim kami berjumlah 7 orang, kupikir cukuplah 4 Becak. 3 Becak membawa 2 orang, 1 Becak membaca 1 orang. Tetapi pikiranku salah rupanya.

1321718362257024238

Penggowes Becak harus siap mengantar masyarakat di Jakabaring Sport City | Foto: @mataharitimoer

Seorang pengawas pangkalan Becak memberitahuku, bahwa ketentuan naik becak hanya untuk 1 penumpang saja. Berarti harus ada 7 becak untuk mengantarkan kami ke tujuan.

“Tidak boleh berdua! Satu orang saja!” Perintahnya sambil menahan dua orang temanku dan melambaikan tangan kepada 2 Becak yang baru saja sampai agar selekasnya membawa kedua temanku itu.

“Kenapa tak boleh berdua, pak?” Tanyaku.

“Ya, kasihan Tukang Becaknya dong. Kan bebannya jadi terlalu berat. 1 saja cukup!” Jelasnya.

Oh, baru paham aku. Ternyata pertimbangannya sangat manusiawi sekali. Bagiku yang terbiasa naik Becak di Bogor, belum pernah ada ketentuan seperti di Jakabaring ini. Hebat!

Jadilah kami 7 konvoi Becak. Seru banget. Angin yang menerpa kami, membuat siang yang terik ini tak begitu terasa. Tetapi tiba-tiba becak berhenti di pangkalan dekat Wisma Atlet.

“Lho, kenapa berhenti di sini, pak? Tujuan kami ke Arena Menembak.” Tanyaku kepada Penggowes Becak.

“Estafet.” Jawab mas Musa, seorang Jurnalis yang bertugas menemani kami selama berada di Jakabaring.

“Ya, bagi-bagi tugas sama yang lain. Kalau di sini masih banyak Becak, saya harus lekas kembali ke pangkalan depan, biar tak ada pangkalan yang kosong dari kendaraan.” Jawab pak Efendi, Penggowes Becak yang kutumpangi.

13217185701743133578

Terlibat dalam SEAG Palembang harus memiliki IDCard, termasuk Pak Efendi, Sang Penggowes Becak. | Foto: @mataharitimoer

Wah, salut banget aku dengan berbagai pertimbangan panitia maupun orang-orang yang terlibat dalam pelayanan transportasi di Jakabaring ini. Rupanya mereka bukan hanya diberikan pekerjaan, tetapi juga diajarkan tentang bagaimana melayani dengan cepat dan sigap. Tak boleh ada pangkalan yang kosong, tak boleh ada supir ataupun penggowes becak yang terlihat bermalas-malasan.

“1 atau 2 orang sih ada saja yang malas. Tetapi dibandingkan dengan 350 Becak yang kami sediakan, saya kira itu bisa dimaklumi.” Tandas Pak Gubernur ketika kuceritakan perihal pengalamanku tersebut.

13217187141914166720

Tim Blogger for SEAG Palembang sedang berbincang bersama Pak Alex Noerdin di Main Dining Hall | Foto: @musa

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: