Back to Kompasiana
Artikel

Raket

Hendra Wardhana

menyukai Anggrek Alam Indonesia | tidak suka rokok dan masakan pedas | @_hendrawardhana | wardhanahendra.blogspot.com

Tontowi & Lilyana, Ganda Campuran Tercerdas di Dunia

REP | 14 March 2013 | 15:52 Dibaca: 6927   Komentar: 0   10

Ketika tulisan ini dibuat saya baru selesai menonton video pertandingan final ganda campuran All England 2013 untuk yang ke-7 kalinya. Tak pernah bosan memutar ulang setiap detik perjuangan dan kemenangan ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad dan Lilyana Natsir itu. Rasanya ingin ikut melompat ketika pengembalian Zhao Yunlei menyangkut di net dan game over untuk pasangan China itu !. Rasanya haru ketika announcer menyebut nama Indonesia bersama dua nama pahlawan bulutangkisnya dengan mengumumkannya seperti layaknya di pertandingan tinju dunia.

Sepanjang pertandingan entah berapa kali 2 komentator All England menyebut pasangan Tontowi-Lilyana dengan unbelieveable dan very clever mix double. Sebaliknya Zhang Nan-Zhao Yunlei yang sebenarnya lebih sering menang, mungkin merasa sial hari itu karena harus menghadapi pasangan Indonesia di saat keduanya sedang on fire membuat keperkasaan pasangan China itu seolah inferior.

Menyaksikan penampilan Tontowi-Lilyana di final All England tersebut memang nyaris sempurna. Ketika beberapa kali komentator berkata unbelieveable untuk merujuk pola permainan ganda Indonesia, maka saat itu saya yakin Tontowi-Lilyana akan kembali meraih gelar klasik All England tersebut.

Pada game pertama Tontowi-Lilyana langsung memperlihatkan isyarat jika mereka sedang on fire tak sulit untuk mengalahkan siapapun. Nyaris tak melakukan banyak kesalahan pasangan ini unggul jauh di game pertama. Adalah penampilan Tontowi yang luar biasa di separuh lapangan belakang yang membuat komentator berkali-kali merasa tak percaya dengan aksinya. Pukulan smash Tontowi tak hanya menghasilkan banyak angka tapi juga benar-benar berhasil membuka kelemahan pertahanan pasangan China.

Ganda campuran Indonesia ini sebenarnya bukanlah pasangan terkuat di dunia saat ini. Mereka juga bukan pasangan yang selalu bisa mencapai final superseries. Tapi menghadapi mereka di saat keduanya sedang on fire, pasangan China yang notabene peraih emas Olimpiade itu sudah merasakannya.

Lilyana yang kerap disebut sebagai pemain depan net terbaik di dunia bersama Tontowi yang bertenaga di belakang memang sebuah kombinasi yang ideal untuk ganda campuran. Pengalaman Lilyana malang melintang di turnamen dunia benar-benar menjadi katalisator sekaligus penyeimbang bagi Tontowi yang kerap tergesa-gesa.

Tapi pasangan ini bukanlah tanpa kelemahan. Lilyana meski gesit di depan net bukan tidak bisa ditekan ke belakang. Sementara Tontowi meski smash nya ditakuti lawan, pertahanannya kerap dinilai kurang kokoh. Dan pasangan China membuktikan itu. Di game kedua, strategi Zhang-Zhao dengan cerdik bisa beberapa kali memaksa formasi pasangan Indonesia goyah. Lilyana berhasil didesak ke belakang dan hasilnya pasangan China bisa mengumpulkan lebih banyak angka di game kedua. Ketika bermain di belakang, Lilyana menjadi kurang berbahaya karena beberapa pukulan kerasnya masih terlalu lemah untuk disebut smash. Untungnya Lilyana menyadari hal itu.

Didesak bermain di belakang, Lilyana tak memaksakan smash bahkan ketika shuttlechock sebenarnya bisa dihajar jika di sana ada Tontowi. Sebaliknya Tontowi yang hebat di belakang tapi kerap mati di depan di luar dugaan menjadi ganas di depan net. Ini pula yang mungkin mengejutkan pasangan China. Mereka menjadi serba salah dan kehabisan cara melawan Tontowi-Lilyana. Mendesak Lilyana ke belakang mereka harus menghadapi pukulan keras Tontowi  di depan. Meski reflek serobotannya tak sebaik Lilyana tapi pertandingan final All England kemarin memang menjadi milik Tontowi, dia adalah Man of The Match. Ketika pasangannya terdesak ke belakang, dia mampu membalikan tekanan dengan beberapa kali menghabisi lawan dari depan net. Salah satu aksinya yang luar biasa adalah ketika mereka merebut angka 15 di game kedua. Shuttlechock yang oleh pasangan China dengan sengaja akan di dorong tinggi ke belakang untuk menekan Lilyana secara luar biasa mampu dihadang. Tanpa diduga Tontowi melompat begitu tinggi di depan net untuk meluncurkan smash yang mematikan lawan. Lilyana pun aman di belakang.

13632508771082815934Tontowi Ahmad & Lilyana Natsir dalam penghargaan juara All England 2013 (dokumentasi : http://badmintonindonesia.org/

Jika sedang on fire Tontowi-Lilyana memang seperti tidak memiliki kelemahan. Mereka tak hanya kuat tapi juga cerdik. Di depan dan belakang Tontowi menjalankan perannya sebagai esksekutor yang handal, salah satu pukulannya di final bahkan tercatat berkecepatan 234 km/jam. Sementara Lilyana tampak tenang mengarahkan dan mengendalikan ritme permainan dengan tak pernah membiarkan arena depan net dikuasai lawan. Kalau sudah begini pantas jika komentator menjadi tak percaya melihat cantiknya permainan pasangan peringkat 2 dunia ini. Mereka bisa membalas tekanan dengan  permainan cantik dan rapi. Wajar jika Tontowi Ahmad dan Lilyana Natsir disebut sebagai pasangan ganda campuran paling cerdas di dunia saat ini.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ratusan Ribu Hingga Jutaan Anak Belum Dapat …

Didik Budijanto | | 31 July 2014 | 09:36

Akh Jokowi? Kita Lihat Dulu Deh Kabinetnya …

Ian Wong | | 31 July 2014 | 08:18

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Satpol PP DKI Menggusur Lapak PKL Saat …

Maria Margaretha | 1 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 9 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 9 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 13 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: