Back to Kompasiana
Artikel

Raket

Alkar Wijaya

to be the best for the best

Bercermin Pada Ganda Campuran Tantowi Ahmad dan Lilyana Natsir . ( berprestasi dalam perbedaan)

OPINI | 14 March 2013 | 06:23 Dibaca: 4476   Komentar: 0   1

1363216782142419436

Bercermin dari ganda campuran Tantowi Ahmad dan Lilyana Natsir . ( berprestasi dalam perbedaan)

Prestasi demi prestasi terus ditorehkan dari generasi baru pebulutangkis anak negeri ini, terakhir kali Lilyana dan tantowi mempertahankan kejuaraan all England dimana setelah 34 tahun Indonesia selalu pulang dengan tangan kosong melompong. Bahkan keberhasilannya memenangkan tropy kali ini mencetak sejarah dalam dunia perbulutangkisan sebagai pasangan Indonesia yang meraih gelar All England dua kali berturut-turut. Tapi sayang kemenangan dalam kejuaraan tersebut tak satupun TV nasional yang menayangkan siaran langsungnya. Miris, padahal sepakbola disuguhkan tiap hari).

Sosok lilyana dan tantowi tiba-tiba menjadi bintang dalam olah raga cabang bulu tangkis menggantikan duet kebanggaan Indonesia generasi seniornya Ricky dan Reky. Sekarang duet maut itu akan bersiap-siap untuk merebut tropy di Swiss Openpada tanggal 12-17 maret mendatang. Apa yang bisa kita catat sebagai refleksi atau renungan dari prestasi kedua anak bangsa ini di saat lesunya prestasi Indonesia dalam bidang olah raga?. (liat prestasi lengkap Lilyana dan Tantowi di Wikipedia)

Di saat perbedaan justru menjadi kekuatan itulah point plus dari ganda campuran ini. Keduanya memahami perbedaan tidak selalu menjadi halangan atau melahirkan konflik. Dan melalui olah raga itulah perbedaan menjadi sebuah kekuatan untuk melahirkan prestasi yang membanggakan bangsa.

Lilyana Natsir terlahir di Manado, Sulawesi Utara, 9 September 1985; umur 27 tahun, sementara Tantowi Ahmad lahir di Banyumas, 18 Juli 1987; umur 25 tahun seharusnya menjadi model dan contoh prototype bagi penerus bangsa. Lahir dari suku, keyakinan serta kultur yang berbeda dimana hal itu berpengaruh dalam pembentukan karakter dan pola pikir keduanya, namun justru penulis melihatnya perbedaan itu tidak menjadi kendala untuk terus bekerja sama melahirkan prestasi dalam mengharumkan nama negeri. Liliana yang merupakan keturunan cina dan beragama Katolik sementara tantowi asli jawa dan beragam islam membuktikan perbedaan itu indah dan tak perlu dipermasalahkan, bukankah perbedaan itu adalah anugerah Tuhan dan keniscayaan?. Penulis berharap apa yang tunjukkan keduanya bukan merupakan ke-anomalian, akan tetapi sebuah kenormalan yang patut dicontoh oleh bangsa ini. Setiap kali melihat saat keduanya bertanding selalu membuat penulis untuk memojok merenung andai saja masyarakat Indonesia memiliki sikap seperti dua anak bangsa ini, menjunjung prestasi dan mengabaikan hal-hal rasial dan primordialisme yang biasanya menimbulkan konflik. Inilah point plus olah raga yang bisa mempersatukan perbedaan itu sendiri yang tidak dimiliki sarana lain. Dari olah raga inilah pemerintah harus lebih bisa mengoptimalkan dalam hal mengolah perbedaan menjadi persatuan, bukan hanya sekedar slogan berkoar-koar mengatakan binneka tunggal ika. Tapi perlu aksi nyata, dan olahraga itulah aplikasi yang potensial untuk mempersatukan bangsa. Saya yakin yang muslimpun bangga dengan prestasi kedua anak bangsa ini, begitu pula yang katolik.

Sementara itu, mengamati dunia olah raga Indonesia secara umum. Menjadi renungan penting bagi menteri olah raga untuk tidak selalu fokus pada olah raga bola saja (memangnya olah raga hanya bola saja), sementara mengabaikan olah raga lain yang justru lebih potensial dan bisa melahirkan prestasi-prestasi unggul yang bisa membanggakan negara. Termasuk olah raga satu ini (bulu tangkis). Padahal sejujurnya bakat potensial anak bangsa dalam hal olah raga adalah terletak pada satu olah raga ini dan bibitnyapun masih tersemai dengan baik. Bisa dibayangkan seandainya tanpa bulu tangkis apa yang bisa dibanggakan lagi dari negeri ini?.

Apa yang saya rasakan sepertinya juga sama seperti apa yang anda rasakan. Kementerian Olahraga terlalu focus dan mengerahkan semua tenaga dan pikirannya untuk satu cabang olah raga saja, yaitu sepak bola (semga salah). Terlebih saat konflik internal PSSI. Seolah Menpora adalah kementerian yang hanya mengurusi cabang sepak bola, apalagi saat mempora terkena tsunami korupsi korupsi di wisma atlet dan hambalang. Sementara di lain pihak Secara tidak kita sadari bahwa bulu tangkis sebagai olahraga kebanggan rakyat Indonesia yang mengharumkan negara mengalami degradasi yang amat memiriskan hati. Sudah berapa tahun Indonesia tak memenangkan kejuaraan tingkat Internasional semacam Olimpiade, sudah berapa tahun bendera merah putih tak berkibar di atas menjadi juara dengan iringan lagu Indonesia raya. Tahun lalu Lilyana dan tantowi masuk dalam grand final Olimpiade, namun berakhir gagal merebut kemenangan. Tangisan air mata yang seharusnya bentuk kebahagiaan berubah menjadi tangisan kesedihan(miris). Inilah PR buat Pak Menteri, s kita mengingat kan olahraga di Indonesia tidak hanya Sepak bola tapi juga ada olahraga-olahraga lain yang perlu diperhatikan (meskipun saya sendiri juga Soccorer).

Akan menjadi ancaman serius jika bibit-bibit potensial dalam cabang bulu tangkis itu tidak diperhatikan dan dikelola dengan baik. Akibatnya ke depan akan berdampak pada krisis prestasi bagi Indonesia, jika demikan otomastis pula berdampak musnahnya bibit-bibit unggul dari bumi Indonesia dalam cabang bulu tangkis semacam Liliana dan tantowi. Meskipun penulis sendiri menyangsikan kinerja Menpora terhadap PR ini, karena sudah dua kali kemenpora terjerat lingkaran korupsi Wisma atlet dan Hambalang yang menghabiskan uang rakyat. Alih-alih membangun sport center Hambalang, justru uang rakyat masuk perut gendut pejabat pejabat yang tak bertangggungjawab. Tapi kita tak berhenti berharap semoga dunia olahraga indoensia, termasuk bulu tangkis menemukan jalan cerah di tangan orang-orang (pejabat) yang bertanggungjawab memiliki sifat sportif dan selalu on fair play (say amin).

Terakhir, Sekali lagi penulis ingin menggambarkan sosok Liliana dan tantowi bagi penulis adalah symbol biennika tunggal Ika yang wajib dicontoh bagi bangsa ini. Ayo berjayalah bulutangkis Indonesia.

Ini menurutku, bagamana menurutmu kompasianer?

Sumber

http://id.wikipedia.org/wiki/Lilyana_Natsir

http://id.wikipedia.org/wiki/Tontowi_Ahmad

http://olahraga.kompas.com/read/2013/03/12/07121364/Tontowi.Ahmad/Lilyana.Natsir.Incar.Gelar.di.Swiss.Open

http://olahraga.kompas.com/read/2013/03/11/17091020/Tontowi/Liliyana.Cetak.Sejarah

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 5 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 5 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 5 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 11 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Kinerja Buruk PLN Suluttenggo …

Hendi Tungkagi | 7 jam lalu

Jokowi-JK Berantas Koruptor Sekaligus …

Opa Jappy | 7 jam lalu

Luar Biasa, Indonesia Juara Matematika …

Dean Ridone | 7 jam lalu

The Beatles Konser di BI …

Teberatu | 7 jam lalu

Gandeng KPK, Politik Nabok Nyilih Tangan ala …

Abd. Ghofar Al Amin | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: