Back to Kompasiana
Artikel

Raket

Yayan

Orang biasa yang belajar menulis berbagai hal, berusaha melakukan kritik dalam bahasa yang santun

Susi Susanti, Pemain Bulutangkis Idolaku

OPINI | 24 May 2012 | 21:46 Dibaca: 968   Komentar: 0   0

Pada masa kuliah dahulu (era 90-an), saya paling semangat menonton pertandingan bulutangkis di televisi dan selalu siap untuk menonton bersama teman-teman.

Suasananya seperti kayak nonton bareng sepakbola, lengkap dengan teriakan histeris sehingga sering ditegur oleh tetangga sebelah rumah kost, tetapi biasanya mereka jadi maklum apabila tahu kami lagi menonton pertandingan bulutangkis.

Pada masa itu nama Susi Susanti baru muncul sebagai pemain muda yang berbakat, sesudah era Verawati dan Ivana Lie hampir berakhir.

Seperti kita ketahui pada era 90-an kejayaan bulutangkis putri Indonesia tidaklah seperti bagian putra yang sudah biasa juara dan mendominasi kejuaraan.

Para pemain putri Indonesia cuma dianggap sebagai kuda hitam, tetapi tetap disegani sebagai kiblat kekuatan bulutangkis dunia.

Pada masa itu kekuatan Putri China dan Korea Selatan sangat dominan dengan speed and Power nya, sedangkan kelemahan Putri Indonesia adalah pada stamina yang cepat kendor sehingga teknik dan kecepatan tidak bisa muncul pada saat-saat akhir yang menentukan.

Pada masa seperti inilah muncul Susi Susanti sebagai pemain Indonesia yang lain daripada biasanya, pemain putri yang sangat menyukai permainan reli-reli yang panjang dan lama serta pasti sangat menguras stamina.

Permainan Susi Susanti sangat sederhana yaitu dimulai dengan servis yang sangat tinggi dan langsung menukik kebelakang area permainan sehingga selalu memaksa pemain lawan melakukan reli-reli panjang yang menjadi kesukaannya.

Keistimewaan Susi Susanti adalah ketenangan, keberanian dan mental yang kuat sehingga dia tidak pernah ragu menempatkan Shuttlecock secara silang yang pastilah menguras stamina pemain lawan.

Biasanya Susanti menang rubber-set apabila menghadapi lawan-lawan yang kuat yang umumnya ditandai dengan kalah di set pertama, menang di set kedua dan membantai lawannya di set penentuan karena sudah kehabisan stamina.

Susi Susanti adalah Legenda bulutangkis Indonesia, semua kejuaraan bergengsi pernah dimenangkannya dan puncaknya medali emas Olimpiade Barcelona 1992.

Sebenarnya pada era 90-an, banyak pemain putri yang mempunyai skill diatas Susi Susanti dan sering mengalahkannya pada saat latihan, konon Susi sering kalah pada saat latihan sama pemain putrid lainnya.

Dapatlah diambil kesimpulan bahwa Susi Susanti adalah sosok langka pemain putri Indonesia, yang sanggup mengeluarkan kemampuan terbaiknya pada saat pertandingan dengan mental baja dan stamina yang luar biasa.

Penampilannya di lapangan selalu sederhana, tidak banyak gaya tetapi anggun dan menciutkan nyali lawan-lawannya.

Mungkin sudah saatnya Susi Susanti mau diangkat jadi pelatih nasional, untuk menularkan mental baja yang dimilikinya kepada para pemain putri Indonesia yang sekarang Cuma dianggap pemain kelas dua.

Kita selalu merindukan kejayaan bulutangkis, karena cuma cabang inilah yang memungkinkan perolehan emas di Olimpiade.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Makan Ikan Petrus dari Laut Galilea …

Andre Jayaprana | | 23 August 2014 | 00:20

Pihak Jokowi-JK Sudah Tepat Bila Mengadopsi …

Abdul Muis Syam | | 23 August 2014 | 03:40

Mana Gaya Manajemen Konflik Anda? …

Pical Gadi | | 23 August 2014 | 07:51

Goa Kalak Pertapaan Prabu Brawijaya …

Nanang Diyanto | | 23 August 2014 | 02:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Dapatkah MK Dipercaya? (2) …

Pecel Tempe | 11 jam lalu

Mulianya Hamdan Zoelva, Hinanya Akil Mochtar …

Daniel H.t. | 13 jam lalu

Ada Foto ‘Menegangkan’ Ibu Ani …

Posma Siahaan | 14 jam lalu

Mempertanyakan Keikhlasan Relawan Jokowi-JK …

Muhammad | 15 jam lalu

Pesta Perkawinan Mewah, Apa Ngaruh dalam …

Ifani | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: