Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Zakkier Zanetti

#INTERISTI #CommunityLearning follow me on Twitter : @muzakkir58

Ozora Tsubasa dan Mimpi Indonesia

REP | 05 November 2013 | 01:21 Dibaca: 855   Komentar: 4   2

13835893761708419266

Evan Dimas dkk

Dalam Beberapa kali kesempatan penulis ingin menuangkan cerita heroik  timnas Garuda Jaya asuhan Indra Syafri ke dalam sebuah tulisan sederhana, namun belum juga menemukan padanan yang pas. Hingga akhirnya dalam sebuah kunjungan di Gramedia Medan , sebuah komik jadul berjudul Captain Tsubasa, Road to 2002 mengusik saya untuk melihat nya lagi.

Ditambah seringnya coach Indra hadir di televisi, semakin membuat jemari ini gatal untuk mengutak-atik keyboard dan meramunya dalam sebuah tulisan bebas dengan judul seperti di atas.

By the way,, bagi teman-teman football lovers kelahiran tahun 90-an tentu tidak asing dengan nama Captain Tsubasa,..

yah, serial komik manga Jepang yang kemudian ditampilkan dalam serial kartun anime televisi di banyak Negara , termasuk Indonesia. Sebuah cerita yang menampilkan sosok Tsubasa Ozora sebagai aktor utama nya, dan filosofi “Bola adalah Teman” sangat melekat bagi siapa saja yang menontonnya saat itu.

Dengan dicirikan sebagai sosok yang tak pernah mengenal kata menyerah , Tsubasa Ozora hadir di setiap benak anak-anak Indonesia saat itu, baik di sekolah maupun di lapangan-lapangan sepakbola tempat kita bermain.

Bagi  penulis yang masih berusia sekitar 12-13 tahun kala itu, tentu itu hanyalah sebuah tontonan atau komik bacaan pengisi waktu  selain bermain bola saja,..yang kadang-kadang terkesan sangat impossible dengan  atraksi-aktraksi luar biasa yang ditampilkan.

Yah…hanya sekedar penghibur masa kanak-kanak.

Namun 10 tahun berlalu, melihat kondisi sepakbola Jepang kini, membayangkan kembali alur-alur cerita di serial Tsubasa, penulis yakin ada kekuatan yang dahsyat sebagai benang merah atas semua itu, kekuatan itu bernama “Mimpi”. Tentu mimpi disini bukan sekedar bunga tidur namun lebih kepada sinonim  impian, harapan dan cita.

Penulis yakin  dan percaya komik Captain Tsubasa tersebut adalah salah satu dari sekian banyak harapan masyarakat Jepang yang ingin melihat negaranya sukses di bidang olahraga terpopuler di planet ini. Dan jika kita lihat realita sekarang ini, benang merah antara mimpi dan nyata itu semakin terbukti , dengan melalui proses yang tidak sebentar. Lihatlah nama-napa Nippon yang mulai menghiasi klub-klub besar Eropa kini, semisal Nagatomo (Inter Milan), Kagawa (Dortmund), Honda (CSKA), Uchida (Schalke 04), Ryo (Arsenal) dan masih banyak lagi. Ini sesuai dengan mimpi penulis komik Tsubasa yang menggambarkan bahwa banyak pemain Timnas Jepang muda di serial itu, yang bermain untuk klub-klub hebat  Eropa, seperti Tsubasa di Catalunya alias Barca, Hyuga di Piomente alias Juve, Aoi Singo di Lombardia alias Inter Milan, dan Wakabyashi di Grunwald,alias Hamburg. Mungkin ketika kita menontonnya  kita yakin itu adalah mimpi yang tak bakal terjadi , namun kenyataan berkata sebaliknya kini, ditandai dengan banyaknya pemain Jepang di klub-klub top Eropa, dan mereka tidak sekedar menjadi brand ambassador penjual iklan klub-klub tersebut, namun menjadi pemain penting bagi klub mereka.

Maka benarlah ungkapan yang mengatakan bahwa “mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari”

Lanjut ke cerita Captain Tsubasa tadi, salah satu point yang ingin disampaikan jika melihat kaitannya dengan Timnas Garuda Jaya, adalah sebuah tim yang terdiri dari beberapa pemain hasil pencarian bakat ke daerah-daerah.  Teman-teman penggemar Tubasa pasti tahu, sosok pelatih berkaca mata dan berambut panjang bernama Gamo, mantan pemain Timnas Jepang di serial itu, namun tidak bersinar, yang kemudian  setelah pensiun ia ditunjuk sebagai pencari bakat Timnas Jepang yang dipersiapkan untuk tampil di Piala Dunia Junior. Ia pun mulai bekerja mencari pemain di daerah-daerah yang kita lihat di beberapa kompetisi sepakbola antar sekolah saat itu. Alhasil setelah dalam proses pencarian bertahun-tahun ia pun berhasil mengumpulkan pemain-pemain berbakat  untuk disatukan dalam sebuah tim impian Jepang, yang kemudian menjadi buah bibir sepakbola dunia di serial tersebut.

Sama halnya yang dilakukan Indra Syafri yang juga kurang menonjol ketika saat menjadi pemain. ia mengumpulkan nama-nama berbakat dari ujung Aceh hingga Papua ketika ditunjuk sebagai pelatih. Dalam proses pencarian tersebut lah muncul nama-nama yang sudah mulai akrab di telinga kita, semisal Maldini Palli, Ilhamuddin Armayn, Zulfiandi, Ravi Murdianto, I putu gede, Yabes dan tentu saja sang Captain, Evan Dimas Darmono. Dari nama-nama saja kita sudah tahu bahwa timnas Garuda Jaya diisi oleh perwakilan daerah-daerah di Nusantara. Indra Syafri seolah mengajarkan kembali kepada kita tentang arti Bhineka Tunggal Ika.

Salam Respect coach.

Dan ketika melihat aksi-aksi mereka, semakin menambah rasa optimis penulis dan pasti juga 200-an juta penduduk Indonesia lainnya untuk melihat sebuah generasi sepakbola yang berbicara banyak di pentas dunia. Semoga piala dunia u-20 yang akan hadir 2015 bisa kembali menjadi bukti bahwa apapun bisa dilakukan untuk merubah mimpi menjadi nyata, seperti yang dilakukan penulis komik Captain Tsubasa untuk Piala Dunia Junior di serial itu. Dan semoga juga, seperti hal nya cerita  Tsubasa yang memimpikan hadirnya pemain-pemain Jepang di klub-klub besar Eropa dan Dunia, begitu juga lah mimpi kita semua untuk melhat nama-nama Indonesia menghiasi jersey klub-klub besar Eropa dan dunia. I hope….


Pada titik ini, saya berharap kepada Evan Dimas cs untuk tetap lah menjadi ‘anak-anak’ , Karena ketika anak-anak lah mimpi dan imajinasi tinggi itu mulai terpatri. Dan semoga semangat, mimpi serta imajinasi anak asuhan Indra Syafri ini tidak dikotori oleh orang-orang dewasa pencinta hedonis yang membuat kabur antara kebaikan dan kejahatan di negeri ini.


Salam Olahraga


Forza Garuda Jaya

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pelajaran Akan Filosofi Hidup dari Pendakian …

Erik Febrian | | 18 April 2014 | 10:18

Memahami Penolakan Mahasiswa ITB atas …

Zulfikar Akbar | | 18 April 2014 | 06:43

Curhat Dinda dan Jihad Perempuan …

Faatima Seven | | 17 April 2014 | 23:11

Sandal Kelom, Sandal Buatan Indonesia …

Acik Mdy | | 18 April 2014 | 00:40

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 5 jam lalu

Senjakala Operator CDMA? …

Topik Irawan | 6 jam lalu

Tips Dari Bule Untuk Dapat Pacar Bule …

Cdt888 | 7 jam lalu

Seorang Ibu Memaafkan Pembunuh Putranya! …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Manuver Amien Rais Menjegal Jokowi? …

Pecel Tempe | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: