Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Zen Muttaqin

AKU BUKAN APA-APA DAN BUKAN SIAPA-SIAPA. HANYA INSAN YANG TERAMANAHKAN, YANG INGIN MENGHIDUPKAN MATINYA KEHIDUPAN selengkapnya

Indra Syafri, Sang Garuda Berhati Singa

REP | 06 October 2013 | 10:01 Dibaca: 2170   Komentar: 17   2

13810284341700877524

sumberfoto,tribunews.com

.

FOKUS: Angin Segar Dari Pelatih Muda Padang

Indra Syafri, Sang Arsitek Timnas U-19 Asal Lubuk Nyiu

Profil Singkat Indra Syafri

Indra Sjafri, Tinggalkan Keluarga Demi Talenta Sepakbola

Indra Sjafri

Lahir

2 Februari 1963 (umur 50)
Bendera IndonesiaLubuk Nyiur, Batang Kapas, Pesisir Selatan, Sumatera Barat

Kebangsaan

Bendera IndonesiaIndonesia

Pekerjaan

Pelatih Timnas Junior

Agama

Islam

Pasangan

Temi Indrayani

Anak

Aryandra Andaru
Diandra Aryandari

Indra Sjafri (lahir di Lubuk Nyiur, Batang Kapas, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 2 Februari 1963; umur 50 tahun)[1] adalah seorang mantan pemain sepak bola yang kemudian menjadi pelatih sepak bola Indonesia.[2] Ia dipercaya menjadi pelatih Timnas Junior Indonesia (PSSI), seperti Timnas U-12, U-17 dan U-19 yang dijuluki Garuda Muda.[3]

Indra Sjafri pernah membawa timnas junior merebut trofi juara pada turnamen sepak bola tingkat Asia, yaitu pada HKFA U-17 dan HKFA U-19 di Hongkong. Sebelumnya, Indra bertugas sebagai instruktur dan pemandu bakat di PSSI sejak Mei 2009. Indra merupakan mantan pemain sepak bola yang pernah membela PSP Padang pada tahun 1980-an, dan juga pernah menangani klub sepak bola dari ibukota provinsi Sumatera Barat itu sebagai pelatih.[4]

Pada 22 September 2013, Indra Sjafri sukses membawa tim asuhannya, Timnas Indonesia U-19 menjuarai Turnamen Kejuaraan Remaja U-19 AFF 2013 setelah di final mengalahkan tim kuat Vietnam dalam pertandingan dramatis yang berujung adu penalti, dimana tim Indonesia menang dengan skor 7-6. Gelar juara ini merupakan gelar pertama Indonesia sejak 22 tahun terakhir dimana Indonesia tak pernah meraih satupun gelar juara baik di level Asia Tenggara maupun level yang lebih tinggi.[5]

Angin segar sepertinya tengah berhembus di dunia kepelatihan sepakbola Sumatra Barat. Di tengah regenerasi yang tengah terjadi, satu per satu pelatih muda potensial bermunculan dari bumi “Ranah Minang” dan langsung menyedot perhatian di tingkat nasional.

Selama ini dari Sumatera Barat Sangat langka pelatih yang bisa berkibar dan dikenal luas publik sepakbola Indonesia. Pernah di kenal hanya punya dua pelatih sepakbola, Suhatman Imam dan Jenniwardin. Soalnya, di tangan kedua pelatih tim Semen Padang itu, ada prestasi yang lahir.

Suhatman mempersembahkan satu-satunya trofi bergengsi untuk SP, yaitu juara Liga 1992.dan semi-final Liga Indonesia 2002.Sedangkan Jeniwardin, hanay membawa Semen Padang ke 10 besar Liga Indonesia 1998/99

Ternyata terjadi proses regenerasi di dunia kepelatihan sepakbola di Sumbar, kini muncul pelatih-pelatih muda yang sejatinya adalah murid-murid kedua pelatih kawakan itu.

Yang paling menonjol tentu Nil Maizar, pelatih kepala Semen Padang FC saat ini. Dalam debutnya sebagai pelatih kepala dengan tim baru promosi, Nil mampu membawa timnya meraih peringkat empat Superliga 2010/11.

Dari sini nama pelatih berusia 42 tahun, jebolan PSSI Garuda II itu mulai akrab ditelinga publik sepakbola nasional. Menjadi pelatih timnas senior tahun 2012, pada kejuaraan AFF 2012, sayAng karena masalah perebutan kekuasaan pengurus PSSI Nil Masizar terhenti.

Padahal sempat memberikan gambaran betapa bagusnya dirinya menukangi TimNas waktu itu, dari TimNas yang bukan apa apa menjadi kekuatan yang memberikan harapan masa depan, padahal dengan materi seadanya dengan diwarnai pemboikotan pemain2 teras nasional.

Belum rasa kehilangan masyarakat sepakbola dengan hengkangnya Nil Maizar dari kepelatihan Nasional Indonesia, muncul pelatih baru yang mendadak sontak menjadi perhatian seluruh masyarakat Indonesia.

Sumatera Barat Seolah tak pernah kehabisan stock, muncul Indra Syafri yang Sukses membawa timnas U-17 juara di invitasi sepakbola U-17 tingkat Asia di Hongkong beberapa waktu lalu membuat mantan pemain dan pelatih PSP Padang ini mulai dikenal publik sepakbola Indonesia. Indra dianggap memberikan seteguk air di tengah gersangnya prestasi sepakbola nasional.

“Saya masuk lingkaran PSSI di tahun 2007 sebagai instruktur pelatih. Kontrak untuk melatih timnas baru diteken 2011 sampai sekarang,” cerita Indra

Lahir di lubuk Nyiur batang kapas Sumatera Barat tanggal 2 Februari 1963, yang selama ini lebih banyak berkutat sebagai instruktur dan talent scouting di PSSI sejak Mei 2009, mulai diperbantukan di timnas U-23 dan senior  menjadi asisten Aji Santoso.

Pada tahun 2011, ketika PSSI mencanangkan pembinaan usia muda, berbenah membereskan tim nasional Indonesia masa depan. Tugas berat itu pun dibebankan kepada Indra Sjafri, yang saat ini dipercaya menangani Timnas U-17.

Cerita dibalik sukses selalu terabaikan, bahwa sebenarnya latar belakang Indra syafri demikian fenomenal, ada cerita dibalik kesuksesannya ini, tak banyak yang tahu jika semua torehan itu didapat hanya gara-gara sakit hati. Ya, semua bermula ketika Indra Sjafri muda masuk dalam tim Pra PON Sumatera Barat di tahun 1985.

Ketika itu, hati kecilnya berontak melihat banyaknya pemain yang punya kemampuan individu di atas rata-rata namun susah mendapat tempat untuk membela Merah Putih di kancah internasional.

“Tidak ada pemandu bakat dari PSSI pusat maupun pelatih timnas yang datang memantau. Sehingga saya merasa terkucilkan. Perasaan itu saya yakin tidak sendiri. Ribuan bahkan jutaan anak negeri kecewa jika kemampuannya tidak terpantau dengan baik,” tuturnya menjelaskan alasannya fokus pada pembinaan pemain muda.

Karenanya, Indra Sjafri akhirnya memutuskan fokus jadi pelatih setelah pensiun sebagai Kepala Kantor Pos di sebuah kota di Sumatera Barat Setelah lulus pendidikan pelatih berlisensi A, Indra Sjafri pun mulai bergerilya ke daerah-daerah terpencil. Dukungan dari keluarga pun menjadi bekal penting dalam karir kepelatihan Indra selama ini.

“Andaru (putra sulungnya) bahkan mengaku lebih bangga jika saya melatih timnas daripada tetap sebagai kepala kantor pos di depan teman-teman sekolahnya,” aku bapak beranak dua itu sambil tersenyum.

Tak kurang dari 43 daerah yang sudah dikunjungi demi mencari bibit terbaik untuk Indonesia. Menurut Indra, resikonya adalah waktu untuk keluarga yang minim. Sejak menanggani Timnas U17- U-19, ia mengaku hanya bisa 1-2 hari kumpul bersama. “Selebihnya, komunikasi saya lakukan melalui perangkat teknologi,” selorohnya disinggung dukanya demi menggapai misi itu.

Dirinya menggambarkan salah satu kesulitannya dalam merengkuh seluruh wilayah Indonesia, ketika mencari bibit pemain terbaik ke Muara Teweh, sebuah kota kecil yang kini masuk provinsi Kalimantan Utara. “Bayangkan saja, perjalanan darat kesana ditempuh selama 10 jam dari Jakarta. Tapi itu sangat berarti bagi saya maupun pecinta bola di sana. Apalagi tak pernah ada pelatih timnas yang rela datang ke daerah kecil seperti itu. Dampaknya luar biasa, saya dikabari kini sudah ramai SSB (sekolah sepakbola).”

Belum mengenai pembiayaannya yang terkadang susah diperoleh dari PSSI sendiri, yang waktu itu mengalami kesulitan pendanaan, dengan segala keberanian dan kejujuran hatinya hal itu dikemukakan kepada pengurus2 daerah untuk memberikan bantuan selama mengadakan talent scouting didaerah mereka.

Dan ternyata sambutannya sangat baik dan diterima dengan memberikan kemudahan dan fasilitas yang dibutuhkan selama didaerah, itulah rahasia kenapa dirinya mampu menjalani seluruh programnya mengadakan pencarian bakat ke seluruh pelosok tanah air.

Dari perburuan pemain yang berusia dibawah 17 maka tersusunlah pemain2 yang terdiri dari seluruh daerah di Indonesia, yang terbawa oleh system recruiting yang menjadi ciri khas dirinya, bahkan menjadi fenomena baru dalam menjaring pemain2 yang baik.

Blusukan “ala Indra Syafri menghasilkan TimNas U19 yang kini tersaji di dunia sepakbola Indonesia, yang tidak hanya terbatas memiliki pemain sebatas 11 pemain atai 23 pemain namun puluhan pemain yang siap segera menjadi pengganti dan siap mengikuti skuad yang dibentuk setiap waktu.

Data pemain2 yang baik kini ada di kantong Indra Syafri, dan menjadi perbendaharaan PSSI untuk bisa didaya gunakan setiap saat, tanpa kekhawatiran kekurangan pemain2 berbakat.

Aktivitas mendatangi daerah-daerah di seluruh pelosok tanah air itu ternyata memang jadi 3 misi yang diembannya.

  1. Untuk menyeleksi langsung pemain-pemain di daerah yang selama ini luput dari radar talent scouting PSSI,
  2. Untuk membangkitkan gairah sepakbola dan menularkan ilmu kepelatihan yang didapat Indra Sjafri
  3. Untuk menyamakan persepsi pembinaan.

“Hasilnya, saya bisa menyebutkan jika Timnas U-19 yang saya bawa untuk Piala AFF 2013 dan kualifikasi Piala AFC, merupakan representasi sesungguhnya dari Indonesia. Nyaris semua daerah ada di sini. Salah satunya adalah Yabes Malavani, putra Alor yang masih bertahan dari tiga anak daerah sana,” ucapnya penuh kebanggaan.

Sampai kapan tugas berat itu dilakukan, Indra Sjafri menjawab, sampai PSSI tidak lagi tahan dengan ‘ulahnya’. Prinsipnya benar-benar dilakukan ketika menangani sebuah tim. “Pemain terbaik anak bangsa di langit pun pasti akan saya cari. Kecuali naturalisasi. Saya tidak mau itu. Kita ini bangsa besar yang punya potensi selangit,” ucapnya.

Menurut Indra Syafri SSB hanya untuk pembinaan usia muda, bukan untuk menyiapkan tim. “Tapi untuk menyiapkan individu-individu pemain yang punya kemampuan skill, mental dan fisik di atas rata-rata yang muaranya nanti untuk Indonesia,” tambahnya.

Kontroversi dan fenomena Indra syafri terbukti memberikan hasil yang memuaskan dan telah sesuai dengan jalur masyarakat sepakbola Indonesia. Yang seharusnya menjadi pedoman seluruh pengurus sepakbola Indonesia PSSI,

Hasilnya sudah kita peroleh kini, dengan Dua gelar juara kelompok umur, The HKFA (Hongkong Football Association) International Youth Invitational Tournament U-17 dan The HKFA U-19, menjadi bukti visi Indra Sjafri untuk bangsa ini berada di jalur yang tepat.

Dan yang terakhir adalah Juara AFF U19 yang selama 22 trahun mengakhiri puasa gelar bagi PSSI dari seluruh tingkatan usia.

Indra Sjafri merasa dan melihat, sepakbola Indonesia ada di titik terendah dalam sejarahnya. “Saya tidak mau dikotak-kotak masuk kelompok A atau kelompok B. Saya punya satu pegangan, untuk Merah Putih! Semua yang saya lakukan di federasi (PSSI) untuk Indonesia,” tegasnya.

Karenanya, Indra Sjafri tetap rela mengeluarkan ongkos pribadi ketika di masa-masa kelam dimana gajinya selama 7 bulan tak kunjung cair hanya demi mencari potensi terbaik dari seluruh penjuru negeri. Kini dengan rekonsiliasi yang terjadi, dia berharap seluruh stake holder di sepakbola bisa bersatu lagi.

Indra Syafri optimis dengan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap nasib dan prestasi sepakbola Indonesia, asal kita benar benar ada dalam jalur Merah Putih yang tak tersentuh oleh kelompok dan golongan, bahkan ketika terjadi kemacetan pembiayaan dalam mempersiapkan TimNas untuk HKFA yang lalu, dengan memanfaatkan pertemanan, maka diperoleh jalan keluar untuk memberikan fasilitas bagi keperluan pembinaan sebelum kejuaraan HKFA tahun lalu.

Berkaca dari pengalaman itu, Indra Sjafri optimis jika PSSI mau melibatkan stake holder daerah, ongkos mahal pembinaan sepakbola hingga daerah-daerah dapat ditekan. Dengan catatan, pelatih timnas ataupun pengurus PSSI mau terjun langsung menyapa daerah.

Itu dibuktikan dengan keberhasilannya yang rela mencari dan terus mencari pemain berpotensi sehingga layak menyandang status pasukan Garuda Muda. “Parameternya juga jelas dan bisa menghilangkan pemain titipan atau like and dislike,” tutup suami Temi Indrayani ini.

Kini Indra Syafri memperoleh tantangan yang tak begitu mudah untuk dilalui, ibaratnya menemui jalan tanjakan menuju puncak, dengan membawa TimNas U19 memasuki era kejuaraan yang lebih besar yaitu kawasan ASIA.

AFC Cup U19 yang akan di gelar babak penyisihannya di Indonesia, telah di tentukan masuk dalam Kelompok yang terdiri dari, Korea Selatan sebagai juara bertahan, Laos, Philipina. Tentu bukan tantangan yang ringan untuk menduduki peringkat satu yang tidak mungkin terambil, karena Korea Selatan yang demikian kuat di kawasan Asia.

Hanya mengharapkan lolos ke putaran final dengan menduduki peingkat kedua dengan catatan memiliki nilai yang tinggi dan mampu bersaing dengan tim peringkat kedua dari kelompok lain.

Namun dengan begitu banyak pengalaman dan sarat dengan lika liku perjuangan, yang tanpa kenal lelah untuk mencapai tingkat permainan TimNas yang baik, merupakan modal dasar untuk menapaki jalan dengan optimis.

Hanya karena ketegaran dan kebesaran jiwa, yang tentu memberikan kekuatan penuh kepada anak asuhnya untuk memberikan kemampuan terbaiknya, mengingat begitu besar pengorbanan dan tekad, yang mendasari seluruh perjuangan Indra Syafri dalam menggodok TimNas U19.

Indra Syafri, Sang Garuda yang berhati Singa

.

Merdeka ! Merdeka ! Merdeka !

.

Jakarta, 6 Oktober 2013

.

Zen Muttaqin

.

.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Kinerja Warga Kubangwungan …

Roselina Tjiptadina... | | 21 December 2014 | 22:08

Kejutan Tingkah Polah Remaja di Lokasi …

Dhanang Dhave | | 22 December 2014 | 11:47

Rimba Beton dalam Labirin Kota …

Ratih Purnamasari | | 22 December 2014 | 11:25

Drama Proyek Jembatan Linggamas …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 12:32

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 7 jam lalu

Ibu Melemparku ke Tiga Benua …

Sunaryoadhiatmoko | 10 jam lalu

Hari Ibu Selow Aja …

Ifani | 10 jam lalu

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 18 jam lalu

Karena Gede Pasek, SBY Akan Terus Berjaya …

Giri Lumakto | 18 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: