Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Shardianto

Karyawan + Mahasiswa

Asa Sepak Bola Nasional

OPINI | 24 September 2013 | 14:26 Dibaca: 225   Komentar: 0   1

Sepak bola adalah salah satu cabang olah raga yang paling digemari banyak kalangan. Atmosfer stadion, strategi ampuh seorang pelatih dan semangat juang para pemain adalah sedikit dari alasan mengapa olah raga ini begitu populer. Keributan antar supporter maupun pemain, tak jarang terjadi dalam suatu pertandingan. Namun semua itu hanyalah penyedap, yang membuat pertandingan semakin menarik.

Pada tanggal 22 September 2013, Timnas U19 Indonesia berhasil menorehkan tinta emas persepakbolaan nasional dengan menjuarai Piala AFF. Di final Indonesia mengalahkan Vietnam melalui pertandingan dramatis yang harus diselesaikan melalui adu finalti dengan skor 7-6 untuk keunggulan Timnas U19. Hasil ini sontak memicu euphoria massa, pasca mengalami puasa gelar selama 22 tahun! Hal ini tak lepas dari peran pelatih asal Padang, Indra Safri. Kepelatihan Indra di Timnas U19 mulai mendapatkan sorotan ketika timnya menjungkalkan Afghanistan dengan skor telak 25-0 di ajang Piala Pelajar Asia di Iran pada tahun 2012.

Prestasi ini memunculkan banyak komentar positif tentang persepakbolaan di Indonesia setelah kisruh yang berkepanjangan selama beberapa tahun terakhir. Tak ayal lagi, ucapan selamatpun datang dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, seperti dikutip dari akun Twitternya: “bersyukur… bangga. Terima kasih para pahlawan sepak bola U-19″. Satu hal yang membuatnya gembira adalah janji dari pengurus PSSI pusat yang akan memasukkan 11 nama baru calon anggota Timnas U-19 dalam skuad AFC nanti.

Pada kesempatan lain, Menpora Roy Suryo juga mencoba untuk mengurangi naturalisasi dalam tubuh Timnas Indonesia. “Saya mencoba mengurangi naturalisasi atau bahkan memberhentikan naturalisasi karena anak-anak Indonesia itu luar biasa. Naturalisasi hanya ngetop satu dua tahun saja. Setelah itu jadi bintang iklan. Belum lagi kasus-kasus karena mereka merasa sudah menjadi superstar. Tidak ada efeknya bagi teman-teman yang lain. Kita lebih baik melatih ikan-ikan menjadi ahli semua daripada kolam kita masukkan ikan ahli, tetapi ikan yang lain tidak jadi ahli.” kata Roy Suryo.

Untuk mendapatkan sebuah tim sepakbola yang tangguh, tidak bisa dilakukan dalam waktu sekejap. Perlu observasi yang cermat untuk menjaring pemain berbakat dari seluruh daerah di Indonesia. Penyatuan liga IPL dan ISL juga diharapkan mampu menjadi sebuah liga yang kompetitif untuk membentuk peta kekuatan baru sepak bola nasional. Mental juara adalah sinyal kuat untuk menjadi yang terbaik. (SH)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Merawat Identitas Melalui Karya Seni …

Khus Indra | | 23 September 2014 | 11:34

Menemukan Pembelajaran dari Kasus Habibi dan …

Maria Margaretha | | 23 September 2014 | 03:26

Ke Mana dan di Mana Mantan Penghuni …

Opa Jappy | | 23 September 2014 | 08:58

Pak Jokowi, Jangan Ambil Kepala Daerah Kami …

Felix | | 23 September 2014 | 10:00

[Studio Attack] Mau Lihat Geisha Latihan …

Kompas Video | | 23 September 2014 | 11:00


TRENDING ARTICLES

Mendikbud Akhirnya Tegur Guru Matematika …

Erwin Alwazir | 3 jam lalu

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4 …

Jonatan Sara | 5 jam lalu

PR Matematika 20? Kemendiknas Harus …

Panjaitan Johanes | 7 jam lalu

Kesamaan Logika 4 X 6 dan 6 X 4 Profesor …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Cara Gampang Bangun ”Ketegasan” …

Seneng Utami | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Lawu, Episode Mendaki Melarung Rindu …

Endah Lestariati | 8 jam lalu

Kalah atau Menang Itu Wajar, Tapi Kalau …

Wahyu Hidayanto | 8 jam lalu

Rumah Sakit Harus Ikuti Clinical Pathway …

Info Jkn-bpjs Keseh... | 8 jam lalu

Termostat …

Martua Raja Pane | 8 jam lalu

Maaf, Kemampuan Menerjemah Bahasa Inggris …

Gustaaf Kusno | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: