Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Apakah Cukup Bermodal Nongol di Website FIFA?

OPINI | 11 September 2013 | 23:14 Dibaca: 1178   Komentar: 84   0

Pernyataan menarik dalam satu tulisan Zaky Praja yang mengatakan modal utama Persebaya 1927 untuk ikut dalam unifikasi liga indonesia tahun depan adalah bahwa saat ini IPL masih diakui oleh FIFA sebagai Liga resmi dan masih tercatat di situs resmi FIFA.

Zaki Praja juga meyakini jika dengan merebut posisi 4 besar sebagaimana persyaratan yang disepakati KLB Borobudur tahun kemaren maka mau tidak mau PSSI harus mengakomodasi Persebaya 1927 sebagai peserta Liga Indonesia tahun depan.

Baiklah, saya barangkali tidak perlu berulang-berulang menjelaskan karena apa 6 klub tidak diikutkan dalam unifikasi liga.

Syarat utama dalam keukutsertaan dalam sebuah kompetisi adalah pengakuan pemegang otoritas sepakbola , baik itu pengakuan yang didapatkan dari PSSI maupun FIFA. Bagaimanapun banyaknya dukungan dan pengakuan supporter sebuah klub akan tetapi jika tidak mendapat legitimasi dari induk organisasi pengelola sepakbola itu maka sama halnya dengan kesia-siaan.

Sebaliknya kalaupun tidak banyak supporter yang mengakui eksistensi sebuah klub namun karena secara yuridis formal diakui oleh induk ornanisasi maka mereka tanpa masalah diikutsertakan dalam sebuah kompetisi resmi.

Oleh karena itu jika kita hubungkan dengan kasus Persebaya 1927, kalaulah mereka secara sah diakui oleh kedua induk organisasi tersebut maka keikutsertaan mereka pada unifikasi liga tahun besok tidak harus mesti mencapai empat besar, karena unifikasi tahun depan tidak hanya menyangkut kompetisi kasta tertinggi yang mensyaratkan 4 besar, oleh karena itu tanpa finis di empat besar sekalipun mereka dipastikan ikut dalam unifikasi liga dengan bergabung di divisi utama.

Pertanyaanya apakah Persebaya 1927 saat ini sudah mendapatkan legalitas formal dari PSSI dan FIFA?

Untuk legalitas di PSSI rasanya tidak perlu saya bahas lagi karena sudah berulang kali saya tulis di dalam artikel sebelumnya.

Oleh karena itu mari kita bahas apakah FIFA akan mengakui Persebaya 1927 sebagai klub resmi tahun depan?

Kenyataan bahwa saat ini Persebaya 1927 masih tercantum sebagai anggota resmi Liga Indonesia dan tercantum di situs resmi FIFA saat ini tidak menjamin keikutsertaan mereka dalam skema unifikasi liga tahun depan. Kenapa demikian?

Sebenarnya kalau rekan-rekan Bonek seperti adinda Mirza jeli melihat situasi maka mereka akan menemukan kasus yang sama dalam tubuh Persebaya yang saat ini tampil di Divisi Utama PT LI.

Dimana pada satu musim sebelum IPL sebagai liga resmi bergulir, Persebaya Persikubar juga tercatat sebagai anggota Liga resmi di federasi yang diakui oleh FIFA, atau istilah kerennya juga tercantum di website FIFA . Namun apakah dengan modal mengikuti liga yang diakui oleh FIFA di musim sebelumnya memberi jaminan Persebaya Persikubar ikut dalam Liga baru bentukan PSSI tahun lalu? Ternyata tidak Persebaya yang diakui oleh tuan IPL lah yang akhirnya nongol di website FIFA. Padahal pada musim sebelumnya justru Persebaya tuan IPL lah yang ikut dalam liga illegal. Kenapa demikian? Karena FIFA hanya akan mengikuti keputusan yang ada di federasi yang dinaunginya dalam hal ini PSSI. Istilah kasarnya cukup menambahkan angka 1927 di belakang nama Persebaya maka sirnalah status Persebaya Persikubar sebagai anggota yang mendapat legitimasi dari PSSI dan FIFA. Demkian pula dengan keberadaan Persebaya 1927 di website FIFA saat ini, PSSI cukup mengirim selembar kertas maka besok juga angka 1927 dipastikan akan lenyap.

Oleh karena itu bermimpi untuk memperoleh pengakuan FIFA hanya karena masih tercatat sebagai sebagai anggota resmi atau hanya karena website FIFA adalah suatu dan merupakan selemah-lemah usaha yang pernah dilakukan oleh kelompok revosioner apa lagi mengklaim dirinya sebagai kelompok pemberani dan berjiwa pahlawan.

Berdasarkan hal itu untuk sekian kali saya menyarankan bawalah kasus ini ranah hukum. Jika anda tidak percaya pada peradilan pemerintah Indonesia sebagai solusi dualism Persebaya karena banyak Bakrie nya maka opsi paling mungkin menyidangkan kasus ini di peradilan Badan Artibase Olahraga Internasional (CAS). CAS adalah solusi terakhir mengingat FIFA berafiliasi dengan lembaga tersebut, nah jika anda memenangkan dualisme itu di sana (CAS) sana maka FIFA bisa memaksa PSSI untuk menganulir keputusannya mengenai Persebaya 1927, dan hal paling buruk jika PSSI bersikeras tidak mau mengeksekusi keputusan CAS adalah PSSI di banned dari keanggotaan FIFA. Opsi PSSI mati bersama Persebaya 1927 rasanya solusi paling baik jika memang PSSI tidak mau mematuhi CAS. Sayapun sudah melihat itu dari pernyataan pernyataan bolek yang berseliweran di dunia maya.

Namun jika rekan-rekan Bonek tetap masih tidak percaya dengan CAS karena dianggap ada Bakrie nya juga, rasanya tidak berlebihan kalau saya menyarankan teman-teman sekalian agar memeriksakan diri ke psikiater karena kemungkinan besar firus fobia Bakrie telah merengguti seluruh jiwa raga anda. Terima kasih (Amy Lubizz)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Dilema Sekolah Swasta …

Ramdhan Hamdani | | 19 December 2014 | 18:42

PĂ©rouges, Kota Abad Pertengahan nan Cantik …

Angganabila | | 19 December 2014 | 19:54

Bintang dan Tumor …

Iyungkasa | | 19 December 2014 | 21:29

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Singapura Menang Tanpa Perang Melawan …

Mas Wahyu | 6 jam lalu

RUU MD3 & Surat Hamdan Zoelfa …

Cindelaras 29 | 9 jam lalu

Potong Generasi ala Timnas Vietnam Usai …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Penyebutan “Video Amatir” Adalah …

Arief Firhanusa | 14 jam lalu

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: