Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Hery

Banyak baca dapat menambah cakrawala pola pikir kita....suka bola & balap..he..he

Ironi Sepakbola Indonesia & Persija yang Mati Rasa

OPINI | 23 June 2013 | 17:20 Dibaca: 1660   Komentar: 34   7

1371979603346827143sumber foto : sidomi.com

Masih terkait dengan kejadian yang menimpa Persib Bandung kemaren saat Bus rombongan pemain dan ofisial Persib Bandung ‘dihujani’ batu oleh sekelompok orang tidak dikenal dalam perjalanan menuju Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Sabtu (22/6).

Adapun Perilaku Anarkisme yang diperlihatkan oleh mungkin saja partisan/supporter sepak bola yang berbaju “Orange” dan di duga dilakukan oleh Jack Mania sebagai pelakunya,  kembali mencoreng wajah dunia persepakbolaan di Indonesia, yang terjadi pada Indonesia Super League (ISL) musim kompetisi 2012-2013, Antara Persib “Maung Bandung” dengan seteru bebuyutannya, Persija Jakarta atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Macan Kemayoran”  sesuai jadwal akan berlangsung Saptu 21 Juni 2013. di Stadion GBK Bung Karno senayan Jakarta

Seperti yang kita ketahui Liga ISL yang dikenal sebagai Liga professional terbaik dan hanya diikuti (katanya) oleh klub-klub sepakbola terbaik di Indonesia dengan kualitas pesepakbola yang juga terbaik di Indonesia. tapi pada kenyataannya, jangankan  berharap peningkatan kualitas bagi sepak bola secara Nasional, yang terjadi malah perilaku arogan dan anarkis dari pertisan/supporter yang pada kasus ini diduga dilakukan sekelompok pendukung Persija atau lebih dikenal dengan “Jack Mania” yang jelas merupakan perbuatan yang tak bertanggung jawab. Dan terkait hal itu apapun alasannya, tindakan anarkis dan merusak adalah suatu perbuatan yang tak mungkin bisa kita diterima dan maafkan,


Memang dalam sebuah pertandingan olah raga, termasuk sepak bola, kemenangan atau kekalahan adalah hal lumrah dan biasa dalam satu pertandingan. Justru yang paling penting disini adalah menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas, prinsip fair play, dan profesionalisme dari semua pihak, baik itu di dalam ataupun diluar lapangan.


Tapi pada kenyataannya seperti yang kita lihat adalah anarkisme pendukung dalam sepakbola seakan sudah menjadi darah daging dalam persepakbolaan nasional. Di tengah merosotnya prestasi persepakbolaan Nasional di tingkat internasional, dan termasuk juga kekerasan dalam sepakbola baik itu yang dilakukan antar pemain atau pemain dengan wasit yang mewarnai pertandingan-pertandingan sepakbola di Indonesia,yang pada akhirnya semakin menenggelamkan wajah persepakbolaan Nasional.


Kita mengetahui ada satu teori yang terkait fenomena anarkisme penonton sepak bola,  dimana sepakbola dijadikan pelampiasan dari segenap beban dan tekanan yang dialami massa. Tekanan itu kemudian terakumulasi secara tidak sadar, dan kemudian “meledak” secara kolektif ketika ada peletupnya yaitu ajang pertandingan olah raga atau khususnya cabang sepak bola.

Semuanya itu sebenarnya hanya bisa terjadi dalam kondisi di bawah rezim otoriter. Namun saat ini kalau kita melihat khususnya ke PSSI sebagai otoritas persepakbolaan Nasional yang katanya sudah berada pada Fase kondusif dengan tidak ada lagi dualisme dalam kepengurusan persepakbolan Nasional dan begitu juga dengan dualisme kompetisi yang memang sebentar lagi juga akan berakhir dari kancah persepakbolaan Nasional, namun yang menjadi pertanyaan bagi kita kenapa praktik kekerasan yang seolah akumulatif itu tetap saja terjadi di persepakbolaan Nasional.?.


Apa mungkin, pendekatan dari aspek hukum yang harus dijadikan rumusan untuk mencari akar dan solusi permasalahan. ? Memang terkadang bentuk kekerasan dalam olah raga khususnya sepakbola bisa saja ditularkan oleh pemain. Atau sebaliknya, dari penonton menular ke pemain. Jadi ada semacam hubungan timbal balik. Dimana Hal itu bisa didorong oleh stigmatisasi psikologis yang akhirnya dipandang sebagai sesuatu keniscayaan. Atau semacam pembenaran dalam atau untuk bertindak anarkis.


Faktor lainnya yang bahkan menjadi paling memungkinkan adalah lemahnya hukum untuk mengendalikan akibat-akibat dari situasi caos yang akhirnya melahirkan kekerasan. Hukum tidak mampu menjangkau semua kalangan, karena selalu dipraktikkan budaya diskriminasi bagi pihak-pihak tertentu untuk tak tersentuh hukum,

Dalam situasi massa berkumpul dalam satu lokasi, selalu muncul kolektivitas yang dapat mengaburkan bahkan menghilangkan identitas pribadi. Untuk itu kunci melawan kekerasan, baik itu yang dilakukan oleh pemain maupun penonton adalah ketegasan dalam memberikan sanksi hukum. Hukum tidak mengenal siapapun oleh karena itu, dalam keributan antar penonton, polisi harus mampu mencari siapa provokatornya penyebabnya , dan memberikan sanksi dengan tegas.

Demikian juga kepada pemain, Pelatih, manajer, pengurus dan petinggi klub, serta ofisial pertandingan yang kalau terbukti tidak menjalankan tugas dengan benar, PSSI juga harus bisa tegas menjatuhkan sanksi tanpa memandang siapa-siapanya melainkan adalah kesalahan yang dilakukannya. jadi dengan kata lain paradigma dalam olah raga jangan disamakan dengan politik kekuasaan yang cenderung menghalalkan segala cara. Para pelaku sepak bola harus berani menetapkan hati nuraninya bahwa kemenangan tanpa moral-etika bukanlah merupakan kemenangan sejati.

Seperti kalau kita kaitkan dengan kejadian kemaren yang benar-benar membuat kita miris dimana Persija sebagai tuan rumah kalau boleh kita menilai “maaf” tidak mempunyai rasa solidirits sama sekali menyangkut kondisi yang dialami Persib Bandung sesama Tim Sepakbola, yang dalam kondisi begitu Pelatih Persija Jakarta, Benny Dollo, mengaku kecewa pertandingan batal dilaksanakan. Di sisi lain, dia mempertanyakan mengapa kubu Persib tidak meminta kendaraan rantis. dan parahnya lagi para pemain Persija tetap masuk kelapangan dan bersalaman dengan ofisial pertandingan. tampa ada rasa prihatin dengan kondisi Persib Yang barang tentu memberi peluang ancaman kalah WO bagi Persib sesuai aturan pertandingan,  tampa peduli apa yang dialami Persib.?.

Bahkan seorang pelatih sekelas Benny Dollo masih sempat berpikir untuk meraih kemenangan WO, “Sesuai peraturan yang berlaku Persib dinyatakan WO. Tinggal menunggu keputusan PSSI seperti apa,” ucap Benny Dollo

Padahal seperti diberitakan Manajer Persib Bandung, Umuh Muchtar, menyinggung masalah keamanan yang disediakan panpel Persija Jakarta untuk mengawal tim tamu dimana Umuh mengaku cukup heran karena timnya hanya dikawal dua motor voorrijder dari pihak kepolisian.

“Kita sudah tanya beberapa kali ke panpel, apakah kali ini aman? Kenapa ngga pake rantis (kendaraan taktis/barracuda)? Dia katakan aman. Begitu maju, cuma motoris dua. Itu yang saya tidak mengerti,” kata Umuh seperti dikutip situs Simamaung.com.

Dan anehnya tuan rumah Persija sebaliknya menyebut Persib tidak meminta barracuda. Pelatih Persija Jakarta, Benny ‘Bendol’ Dollo, mempertanyakan mengapa tim Persib tidak meminta kendaraan taktis atau rantis….ha..ha mana yang benar ?

”Pengalaman kita di Persib, kita pakai rantis. Enam biji,” kata Benny. ”Pulang pun kita pakai rantis dulu menuju pintu tol. Baru di sana kita ganti pakai bis.”

“Kalau Persib tahu kondisi, kenapa dalam manager meeting tidak minta barracuda (rantis). Itu yang saya pertanyakan,” kata Benny.

Coba kita analisa dua komentar diatas siapa sebenarnya yang jadi tuan rumah Persib atau Persija ? kok malah jadi dibolak balik balik…ha..ha… memang aneh jadi “maaf” kalau judul tulisan saya kali ini agak menyingung Persija dan suportenya “Jack Mania” sekali lagi “maaf” buat saya “Persija Memang Sudah Mati Rasa” sementara yang dipikirkannya hanya kemenangan tampa ada rasa prihatin dan memaknai arti prinsip Fair Paly sebagai pegangan dalam olahraga …. Malah mengagungkan kemenangan tampa peduli Nasib sesama klub sepakbola yang suatu saat bisa juga terjadi pada Persija……

Akhir Kata dari saya,  semoga tulisan ini bisa mengingatkan kita bahwa Penggunaan kekerasan dalam sepak bola harus diartikan sebagai tindakan bodoh dan bentuk penghinaan diri baik itu suporter atupun pemain sepakbola dan Kemenangan haruslah dipersepsikan sebagai hasil kerja keras tim, didukung skill individu, plus kolektivitas tim , dan soliditas tim. Begitu juga dengan Kekalahan juga harus tetap dipandang terhormat, jika itu terjadi setelah berjuang keras penuh sportivitas di atas lapangan. Paradigma itu pula yang harus dipahami oleh pendukung sepak bola sejati.

Borneo 23 Juni 2013

Salam Olah Raga.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 12 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 15 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 16 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 17 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: