Back to Kompasiana
Artikel

Bola

El-shodiq Muhammad

"Sering aku perhatikan, mereka berdebat bahkan kadang saling menghujat hanya karena beda sumber bacaannya" (Gus selengkapnya

Inikah Penyebab Tunggakan Gaji Pemain PSMS?

OPINI | 21 June 2013 | 11:13 Dibaca: 685   Komentar: 12   1

Para sahabat Kompasianer akhir-akhir ini banyak yang menyoroti tentang belum dibayarkannya gaji para pemain PSMS Medan (ISL) yang gajinya tertunggak selama 10 bulan. Para pemain bahkan sampai rame-rame ke Jakarta (PSSI) demi menemukan sebuah solusi dan secercah harapan yakni gajinya segera cair sebagaimana harusnya.

Banyak media yang menulis kisah pilu usaha mereka selama di Jakarta; mulai dari kecopetan, tidur di Monas bahkan dari mereka ada yang kecopetan. Semua itu mereka tempuh demi satu tujuan, agar orang-orang PSSI mau memberi solusi dengan kenyataan pahit yang sedang mereka hadapi.

Sayangnya, penderitaan mereka yang belum menerima gaji 10 bulan tersebut hanya dianggap remeh dan biasa oleh Sekjend PSSI yang baru; Djoko Driono.

“Itu hal biasa. Namun, cara yang mereka lakukan sangat nyentrik dan menarik untuk media. Pembayaran gaji merupakan urusan pemain dan tim,” kata Joko Driyono di Kantor PSSI, Senayan, Kamis (20/6/2013) sore. (Inilah.com).

Lihatlah, sebuah klub yang belum membayar gaji pemainnya selama 10 bulan dianggap hal yang biasa dan lazim terjadi di sepak bola Indonesia. Jika kita merunut ke belakang ketika ISL mau digulirkan dulu, bukankah ada kesepakatan antrara operator PT LI, Djoko Driono, dan Plt Ketua BOPI, Haryo, bahwa salah satu syarat ISL bisa bergulir adalah salah satunya agar klub melunasi tunggakan-tunggakan gaji pemainnya?

Dari jawaban Djokodri di atas, kita akhirnya bisa memahami mengapa di Indonesia banyak klub-klub yang menunggak gaji pemainnya, sebab ternyata hal itu dianggap wajar. Djokodri selama ini menjabat sebagai operator PT LI, maka dialah sebenarnya yang berperan besar terhadap kelangsungan sepak bola di Indonesia, makanya sangat wajar kalau kemudian kita menyaksikan banyaknya klub-klub yang ogah melunasi gaji pemainnya. (Saya juga tidak menafikan tunggakan gaji yang dilakukan oleh klub-klub IPL terhadap pemainnya, ya…).

Tunggakan Gaji dan Pengaturan Skor

Jika lazimnya sebuah klub tidak mampu melunasi gaji para pemainnya karena faktor keuangan klubnya, nampaknya ada indikasi lain untuk PSMS Medan. Indikator tersebut bisa dilihat dari pernyataan pelatih dan para pemain PSMS Medan itu sendiri. Usut punya usut, ternyata CEO PSMS Medan, Heru Pramono, pernah memerintahkan pada para pemain PSMS untuk mengalah pada dua laga ketika menghadapi Persisko dan Persih Tembilahan dalam lanjutan Divisi Utama (PT Liga Indonesia). Bahkan dia menjadikan tunggakan gaji sebagai alat penekan.

“Ya, dia mengatakan hal itu sebelum pertandingan. Dia memerintahkan kami untuk mengalah saat melawan Persisko kalau mau mendapat gaji,” kata sang bek, Susanto,  kepada INILAH.COM di Senayan, Jakarta, Kamis (20/6/2013).

Untungnya, para pemain PSMS tidak mau tunduk terhadap perintah Heru Pramono meski mendapat ‘ancaman’. Hal ini terbukti dengan keseriusan para pemain dalam menghadapi dua klub tersebut sehingga akhirnya PSMS pun menang dengan skor telak 2-0 lawan Persih dan 3-0 lawan Persiko.

Apa yag dituturkan Susanto di atas ternyata bukan hanya isapan jempol belaka, terbukti dengan pembenaran yang ucapkan pelatih PSMS, Soeharto.

“Apa yang dikatakan pemain tentang Heru memang benar. Dia mengatakannya di depan semua pemain, ofisial dan asisten pelatih PSMS, termasuk saya,” ucap Soeharto saat dihubungi INILAH.COM, Kamis (20/6/2013) sore.

Lebih jauh sang pelatih melanjutkan; “Alasannya menyuruh kami kalah? Mungkin dia sudah ada perjanjian dengan oknum-oknum tertentu. Dia mau menyogok kami dengan diiming-imingi pelunasan gaji, tapi kami tidak mau kalah dengan cara terhina. Kami pun membuktikannya dengan kemenangan,” ia menyambung.

Rupanya rencana pengaturan skor itulah juga yang menjadi landasan para pemain PSMS ke Jakarta menemui pengurus PSSI, bahwa kedatangan mereka tidak semata-mata minta bantuan agar gajinya cepat cair, tapi juga melaporkan praktik pengaturan skor dan mungkin juga suap dalam sepak bola.

Lalu, apa tanggapan Djoko Driono, Sekjend PSSI yang baru..?
“Pengaturan skor itu musuh kita bersama. Namun kami tidak bisa menerima laporan secara verbal saja. Harus ada bukti yang konkret untuk mengusut kejadian ini,” Joko Driyono menegaskan.

“Kualitas laporan itu penting, tapi kami tidak bisa melakukan investigasi dengan bukti yang minim. Tidak boleh rentan dengan laporan yang belum jelas,” dia menambahkan.

“Saya dengan Komisi Disiplin PSSI sudah menindaklanjuti laporan pemain PSMS. Kita biarkan dulu sampai buktinya kuat,” ujar mantan CEO PT Liga Indonesia tersebut. (Inilah.com, 21 Juni 2013).

Jika memang alat bukti yang diminta Djokodri, mari kita bandingkan dengan pengaduan Deltamania (suporter Deltras, Sidoarjo) yang mendatangi Komdis PSSI dengan tujuan agar Komdis mau mengusut pertandingan yang menurut Deltamania sebagai sebuah pertandingan aneh. Pertandingan aneh tersebut merupakan pertandingan terakhir grup 3 antara Perseba Super Bangkalan kontra Perseta Tulungagung. Kemenangan yang diraih Perseta di kandang Perseba dianggap aneh dan dinilai ada permainan.

Menurut ketua Deltamania, Syaiful Bakirok, kedatangan mereka sebenarnya sudah diterima Komisi Disiplin (Komdis) PSSI. Tapi, dalam pertemuan dengan Komdis, pernyataan dan alat bukti yang dibawa untuk menguatkan bahwa terjadi permainan dalam pertandingan itu, ternyata dimentahkan.

“Kami ini sudah bawa bukti, sudah tunjukkan tulisan di media, ada rekaman pertandingan. Kenapa mereka malah tanya balik ke kami,” ucapnya.

Harusnya, lanjut Saiful, Komdis melakukan pengembangan sendiri dengan bukti awal yang sudah ada.

“Jangan malah membalikkan. Kami suporter tahu fakta dan kondisinya, mengenai sepak bola aneh, Komdis harus mengusutnya dengan tuntas,” ujar dia. (JPNN, 21 Juni 2013).

Kenapa Deltamania sampai harus protes pada Komdis PSSI? Ternyata  laga tersebut juga berpengaruh terhadap peluang Deltras untuk lolos 12 besar mendampingi Persebaya Surabaya dan Perseba yang lebih dulu memastikan lolos.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 4 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 5 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 7 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 7 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Sayang Dijadikan Sebuah Alasan Untuk …

Fairusyifa Dara | 7 jam lalu

Semarak Pesta Rakyat Situ Bungur (Bingkai …

Agung Han | 8 jam lalu

Kenapa Lebih PD Dengan Bahasa Asing Dari …

Seneng | 8 jam lalu

Car Free Day Bukan Solusi …

Nitami Adistya Putr... | 9 jam lalu

ATM Susu …

Gaganawati | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: