Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Mbah Mupeang

belum sempat minum obat

Mourinho, “Manusia Setengah Dewasa”?

OPINI | 04 June 2013 | 20:12 Dibaca: 262   Komentar: 22   4

Jose Mourinho sudah resmi menjadi manajer Chelsea dengan durasi kontrak hingga tahun 2017. Pada periode 2004-2007 Mou pun pernah menjadi manajer Chelsea dan mempersembahkan piala juara Premier League (2x), Piala FA (1x) dan Piala Liga (2x).

Sebenarnya Mou masih terikat kontrak dengan Madrid hingga tahun 2016, tapi melalui sebuah kesepakatan bersama, Mou pun boleh pergi. Ditengarai ketidakberhasilan Mou meraih satu gelar pun di musim 2012-13 penyebab adanya kesepakatan tersebut.

Ketidakharmonisan Mou dengan beberapa pemain inti Madrid pun diyakini sebagai pemicu atau mempercepat Mou pergi meninggalkan Santiago Bernabeu. Menurut Arbeola, salah satu pemain Madrid, semua pihak memiliki andil atas kepergian Mou. “Setiap orang bertanggung jawab. Kami tidak memiliki kedewasaan dalam situasi sulit. Mourinho selalu mengedepankan Madrid. Dia sering mengorbankan citranya untuk klub ini, tetapi pemain tidak bisa melakukan hal yang sama”. [1]

Mou pun memiliki pendapat tentang sepakbola modern yang menurutnya mulai kehilangan nilai-nilai sepak bola, pendidikan, dan profesionalisme. Meski tidak secara jelas ditujukan kepada siapa, tersirat seperti sebuah sindiran halus kepada beberapa pemain Madrid. “Saya percaya bahwa kesuksesan tim bergantung pada tujuan sebuah kelompok yang mampu mengenali, mematangkan, dan berjuang. Namun, sekarang ini hal demikian sangat sulit. Nilai-nilai sepak bola sudah tak ada, pendidikan dan profesionalisme pun menjadi bertambah buruk. Bekerja secara tim sudah menjadi masalah pada masyarakat dan sepak bola pada khususnya”. [2]

Kontroversial, itulah salah satu sikap yang melekat pada diri seorang Mourinho. Sebagian pihak ada yang mendukung atau memujinya, di sisi lain ada yang tidak menyukai atau mengkritiknya. Johan Cruyff memiliki pendapat yang cukup pedas tentang dirinya. “Dengan perilakunya, tak ada yang bisa diraih. Jika Anda memulai pertengkaran dengan pemain terbaik Anda, itu tak benar. Menurut saya, ia bertindak melampaui batas. Bukan kali ini saja ia melakukan kesalahan, tetapi sejak dua atau tiga tahun lalu. Ia sama sekali tak membantu Madrid”. [3]

Musim depan Mou kembali melatih Chelsea dan Premier League seperti kedatangan anak yang hilang. Meski Sir Alex Ferguson sudah pensiun, diprediksi Mou tidak akan mudah membawa kembali kejayaan Chelsea seperti dulu. Selain bertambah satu klub kuat - Manchester City - sebagai pesaing utama merebut gelar juara Premiere League, sebagian besar pemain yang pernah diasuhnya sudah pergi. Pemain asuhannya yang masih tersisa pun sudah dimakan umur. Tangan dingin Mou diperlukan untuk meracik pemain Chelsea yang ada saat ini sambil menunggu kepergian atau kedatangan pemain baru untuk memenuhi strategi dan taktik yang diinginkannya.

Mou ditengarai tipikal pelatih yang lebih mengedepankan hasil, dalam artian lebih mementingkan kemenangan, meski harus menggunakan jurus “Parkir Bus”. Kata kalah seperti hal yang tabu dalam kamus hidupnya. Namun selama ini dia sudah banyak belajar dari sahabatnya, Sir Alex Ferguson. “Saya belajar bahwa apa pun yang terjadi saya ingin menang. Namun, saya juga sudah menerima bahwa kekalahan adalah bagian dari karier profesional saya. Sekarang ini kekalahan bukan lagi sesuatu yang harus dijadikan drama. Dengan kepergian Ferguson, saya menyadari bahwa menjadi pelatih yang masih muda dan berada di level teratas telah menjadikan saya sosok yang lebih bertanggung jawab”.

Mou sudah menyadari kekalahan adalah bagian dari sepakbola dan kariernya, tidak lagi menanggapinya secara berlebihan, tapi apakah Mou pun sudah menyadari arti kemenangan?. Dan tidak lagi menanggapinya secara berlebihan?.

13703455671353295405

Terakhir kali luapan kegembiraan Mou atas sebuah kemenangan yang mendapat kritikan karena dinilai berlebihan terjadi saat Madrid mengalahkan Manchester City 3-2 di babak penyisihan Liga Champions 2012-13.

Kemenangan pun bagian dari sepakbola, ibarat dua sisi mata uang dengan kekalahan. Pun memerlukan sikap yang dewasa dalam menanggapinya. Jika Mou sudah atau baru menyadari satu sisi saja, yaitu kekalahan, apakah Mou masih seperti “Manusia Setengah Dewasa”?.

Bila ada sebagian pihak yang mengkritik dan menilai sikap Mou di atas tadi berlebihan, sebagian pihak lagi menilai wajar dan biasa saja sebagai bentuk ekspresi seorang Mou. Dan bagi fans Chelsea yang berharap Mou mampu mengembalikan kejayaan Chelsea mungkin tidak menilainya seperti “Manusia Setengah Dewasa”, melainkan “Manusia Setengah Dewa”.

Satu hal lagi, dengan asumsi Mou sudah menyadari kekalahan adalah bagian dari sepakbola (kariernya) dan tak perlu lagi terlalu didramatisir, ditambah keinginan seorang Abramovic melihat Chelsea memainkan sepakbola indah, apakah akan ada perubahan - meski tidak terlalu drastis -  dalam hal strategi dan taktik yang akan dimainkan oleh seorang Mourinho?.

Sebaiknya kita tunggu saja kiprahnya di Premier League musim depan.

Salam bola itu bundar, bukan peang.

*****

Sumber Gambar

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 9 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 13 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 13 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 14 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: