Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Rpo

Distinguished ... !

Evolusi Sepakbola

OPINI | 26 May 2013 | 12:36 Dibaca: 359   Komentar: 0   0

Sebagai olahraga paling populer sedunia, kecuali di Amerika Serikat, pembicaraan mengenai sepakbola selalu menarik dan tidak ada habisnya. Mulai dari klub dan Negara favorit, pemain bintang, hingga formasi dan taktik yang digunakan agar bisa menghasilkan kemenangan, bahkan dinasti dalam satu era.

Sebenarnya, sepakbola telah menjadi sesuatu yang lebih dari olahraga. Sepakbola sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan dan menjadi bagian dari budaya: sebagai hiburan dikala resesi ekonomi, wujud kecintaan pada suatu kota bahkan Negara.

Dalam konteks olahraga itu sendiri sepakbola berkembang sedemikian rupa dalam evolusi permainan. Tidak akan pernah habis diskusi yang membahas mana tim yang ebih baik: Brazil 1958, Jerman 1974, AC Milan di era 90an, Barcelona 2008-2012, atau yang kini masih gres, Bayern Munchen 2013. Rasanya semua itu tidak bisa dibandingkan secara sejajar karena evolusi itu sendiri.

Di tahun 50an – 60an filosofi sepakbola adalah menyerang habis-habisan dan pertahanan bukanlah bagian dari taktik yang dominan. Kemudian muncullah berbagai taktik permainan yang terus berkembang dari total Football, Catenaccio, hingga Tiki Taka. Namun sebagaimana hal lain di dunia, nothing lasts forever.

Ketika AC Milan di puncak kejayaan tahun 90an saya begitu kagum dan melihat seakan-akan mustahil bisa mengalahkan AC Milan. Namun ketika saya melihat kembali pertandingan-pertandingan itu, ada perbedaan yang mencolok dengan sepakbola masa kini atau sejak era 2000an. Pressing di lini tengah pada era 90an tidaklah seketat sekarang ini. Karenanya mungkin lini tengah dan depan Milan saat itu begitu hebat dalam mengeksploitasi celah pada lawan-lawan mereka.

Demikian pula dengan era Tiki Taka. Bisa dibilang itu adalah model permainan yang sempurna karena lawan akan sangat sedikit menguasai bola. Ditambah pemain-pemain bertalenta luar biasa seperti Messi, Iniesta, dan Xavi, rasanya saat itu tidak terbayang Tiki Taka bisa dihentikan.

Ternyata sepakbola kembali berevolusi. Tiki Taka bisa dihentikan dengan pressing super ketat sebagaimana yang dilakukan Bayern hingga sebagian besar penguasaan bola Barcelona adalah di daerah sendiri dan penguasaan bola yang tinggi tidak lagi menjadi ancaman. Faktanya, sangat minim shot on goal yang bisa dilakukan Barcelona di dua leg pertemuan mereka.

Kini Bayern adalah tim terbaik di Eropa. Berbagai rekor dipecahkan baik di Bundesliga maupun UEFA Champions Leauge. Pertanyaannya, sejauh mana cara bermain mereka bisa bertahan untuk mengungguli tim-tim lain di masa yang akan datang. Pekerjaan yang tidak mudah bagi Pep Guardiola. Saat ini sepakbola yang dimainkan Bayern adalah yang terkuat di Eropa. Mengubahnya belum tentu menjadikan lebih baik. Di sisi lain pelatih-pelatih top di dunia juga tengah berpikir keras membangun taktik untuk menghentikan cara bermain Bayern.

Pada akhirnya, sepakbola terus berevolusi dan kita sebagai penonton akan terus melihat dan menikmati evolusi itu. Hingga akhirnya, tidak akan pernah ada jawaban mana tim terbaik sepanjang masa, atau pemain terbaik sepanjang masa. Maradonna belum tentu bisa sehebat ia di tahun 80an bila bermain saat ini. Demikian pula Christiano Ronaldo mungkin akan kesulitan bila menghadapi Jerman 1974. Mari kita bertumbuh dan menjadi tua dengan menikmati sepakbola yang terus berkembang dan menghibur kita.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Foto: Slamet, Raksasa dari Pulau Jawa …

Hendra Wardhana | | 17 September 2014 | 12:29

Referendum Skotlandia, Aktivis Papua Merdeka …

Wonenuka Sampari | | 17 September 2014 | 13:07

Anggota BPK, Jabatan Karier atau Politik? …

Galumbang Sitinjak | | 17 September 2014 | 13:37

Etika Meng-counter Tulisan di Kompasiana …

Samandayu | | 16 September 2014 | 19:16

Setujukah Anda jika Kementerian Agama …

Kompasiana | | 16 September 2014 | 21:00


TRENDING ARTICLES

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 5 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 5 jam lalu

Sebuah Drama di Akhir Perjalanan Studi …

Hanafi Hanafi | 7 jam lalu

Di Airport, Udah Salah Ngotot …

Ifani | 7 jam lalu

Pak Ridwan! Contoh Family Sunday di Sydney …

Isk_harun | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Sayang, Aku Cinta Padamu …

Nidaul Haq | 7 jam lalu

Pertanyaan Maut …

Lasro Siahaan | 7 jam lalu

Kamar Tanpa Jendela …

Tri Lovianti | 7 jam lalu

Kenaikan LPG 12 Kg sebagai Sarana Berbagi …

Bai Ruindra | 8 jam lalu

Mesut Oezil: Playmaker Tanpa Dukungan …

Agung Wicaksono | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: