Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Rico Hermawan

Bachelor from Gadjah Mada University. football analyst and Fake Historian part-timer.

Musim 2012-2013 : Panggung Anak Muda

OPINI | 20 May 2013 | 22:12 Dibaca: 1167   Komentar: 0   0

Oleh : Rico Hermawan

Musim 2012-2013 akan segera berakhir. Tidak ada banyak kejutan besar yang terjadi di liga-liga besar Eropa. Kompetisi tetap dikuasai oleh para cultural clubs. Liga Spanyol kembali ke tangan Barcelona. Begitu pun Manchester United kembali mengambil alih gelar dari seteru kota. Juventus tetap mendominasi di Italia. Bayern Muenchen berhasil mematahkan dominasi Borussia Dortmund dua musim terakhir. Ajax Amsterdam memperpanjang rekor juaranya menjadi tiga musim berturut-turut. Hanya Perancis yang menampilkan juara baru, siapa lagi kalau bukan klub petroeuro, Paris Saint Germain.

Lupakan sejenak berita “menyedihkan” tentang keputusan Sir Alex Ferguson yang telah menyatakan pensiun sebagai manajer Manchester United. Satu hal lain yang patut dilihat dari berakhirnya musim 2012-2013 adalah performa pemain-pemain muda pada musim ini. Mereka adalah para pemain muda berbakat yang biasa disebut, meminjam istilah pada konsol game sepak bola terkenal, Football Manager, Wonderkid. Mereka yang disebut sebagai wonderkid biasanya berusia dibawah, atau sama dengan, 23 tahun. Pada musim 2012-2013 banyak wonderkid yang semakin bersinar.

Musim ini saja, terdapat beberapa klub yang mengandalkan banyak pemain muda, sebut saja Borussia Dortmund. Bundesliga Jerman, dengan segala curahannya pada pengembangan pemain muda, memang menjadi salah satu episentrum bagi munculnya anak-anak muda berbakat. Disamping Jerman, negara lain yaitu Belanda. Kita tak boleh mengesampingkan keputusan pelatih tim nasional Belanda, Louis van Gaal, yang berani menepikan pemain veteran seperti Rafael Van der Vaart atau Wesley Sneidjer demi memberi ruang untuk pemain muda minim pengalaman macam: Adam Maher, Siem De Jong, Kevin Strootman, Jordy Clasie di skuat timnas Belanda. Eksperimen Van Gaal ini terbilang sangat jitu. Penampilan mereka berhasil menjaga dominasi Belanda atas tim-tim lain. Dengan kombinasi tua-muda, Belanda selangkah lebih maju menuju Brasil 2014 di banding seteru lain di grup.

Untuk ukuran usia pemain muda, kita memang tak bisa mengira-ngira pada usia berapa seorang pemain muda dibilang hebat. Pele melakukan hal yang luar biasa pada usia 17 tahun saat mengantar Brasil menjuarai Piala Dunia 1958. Lionel Messi pada usia belum genap 25 tahun sudah menjadi legenda sepak bola dunia dengan empat gelar Ballon d’or. Ada pula nama Neymar dari klub Santos, Brasil. Di usia 21 tahun, ia di daulat sebagai penjaga “nama baik” Joggo Bonito Brasil. Mereka-mereka yang disebutkan diatas adalah nama-nama yang tak pernah diprediksi bisa melakukan sesuatu yang fenomenal pada usia mudanya.

Formasi Terbaik

Usia muda bukan melulu usia emas. Emas akan berkurang nilainya jika belum diasah. Maka dari itu dengan latihan yang keras nama-nama berikut telah berhasil menjadi emas di usia mudanya. Penulis mencoba menyusun sebuah tim berisikan anak-anak muda yang akan menjaga keseruan sepak bola di masa depan. Mereka yang dipilih bisa dibialgn merupakan figur baru, namun ada juga figur lama tetapi semakin berkembang di musim ini. Bahkan, beberapa diantaranya telah menjadi tulang punggung bagi timnya masing-masing sejak musim lalu.

Posisi penjaga gawang ada nama David De Gea. De Gea sejatinya adalah figur lama yang telah menunjukkan potensinya sejak lulus dari akademi Atletico Madrid dan oleh Pelatih Diego Simeone dijadikan sebagai penjaga gawang Los Chloconeros pada usia 18 tahun. Pria kelahiran 7 November 1990 ini bahkan sempat memberikan trofi Europa League sebelum pada tahun 2011 ditransfer Manchester United. Namun, debut musim pertama De Gea di MU tak berakhir manis. Ia kerap tampil inkonsisten dan bahkan sempat kehilangan jabatan kiper. Namun pada musim keduanya sekarang, De Gea telah belajar banyak dari kesalahan musim sebelumnya. Tangan dingin Fergie berhasil “memaksa” De Gea untuk menampilkan siapa dia sebenarnya. De Gea tampil gemilang. Aksi penyelamatannya kerap menjadi penentu ketangguhan MU atas lawan-lawannya. Salah satu aksi terhebatnya adalah ketika MU menghadapi Real Madrid di leg pertama babak-16 besar Liga Champions. De Gea sukses memaksa Ronaldo dkk. Frustasi dengan beberapa aksi fantastisnya. Puncaknya adalah ia berhasil membawa MU menjuarai Liga Inggris sekaligus memberi kado bagi trainer Ferguson yang harus pensiun musim ini.

Nama lainnya : Thibaut Courtois (11 Mei 1992, Atletico Madrid)

Di posisi bek kanan ada nama Mattia De Sciglio. Pemain didikan asli AC Milan ini berhasil menembus skuat utama AC Milan pada musim ini. Ia berhasil mengakusisi posisi seniornya yang juga masih terbilang muda, Luca Antonini. Sciglio adalah bek yang terbilang cukup fleksibel. Ia bisa dimainkan di posisi bek sayap sebelah kanan maupun kiri. Salah satu penampilan terbaiknya adalah ketika menggalang pertahanan AC Milan menghadapi permainan ball possesion Barcelona di leg pertama babak 16-besar Liga Champions. Konsistensi dan kecemerlangannya berhasil menarik minat pelatih timnas Italia, Cesare Prandelli untuk menggunakan jasanya. Kehadiran Sciglio telah memberikan banyak pilihan bagi Italia di sektor Fullback. Hal ini jelas memberikan dampak positif bagi Italia yang sempat dikhawatirkan kehabisan stok pemain belakang pasca berakhirnya era Maldini, Nesta, dan Cannavaro.

Nama lainnya : Rafael da Silva (9 Juli 1990, Manchester United)

Di poisisi bek tengah, musim 2012-2013 menampilkan banyak pemain muda yang potensial. Untuk tiga pilihan nama yang pantas masuk skuat muda terhampar nama Raphael Varane dari Real Madrid, Phil Jones dari Manchester United dan Mamadou Sakho dari Paris Saint German. Nama pertama jelas menjadi salah satu yang terdepan. Bukan karena nama besar Real Madrid ataupun sang pelatih, Jose Mourinho, tetapi sosok Varane sendiri yang telah melakukan sesuatu yang meyakinkan dunia bahwa ia pantas menjadi pilar lini belakang tim besar macam Real Madrid di masa depan. Dengan usia yang belum mencapai angka 20 tahun, 19 tahun, Varane sukses menjadi pilar utama skuat Mourinho. Bahkan nama besar seperti Pepe yang sangar, berhasil ia “kangkangi” musim ini. Berduet dengan Sergio Ramos di lini belakang, menjadikan Varane memiliki sosok pemimpin dan panutan di belakang. Ia tumbuh menjadi pemain yang dewasa dan tak gentar pada lawan. Sukses besarnya musim ini adalah ketika berhasil membawa Real Madrid sukses tak terkalahkan oleh Barcelona dalam beberapa kali pertemuan bertajuk El Clasico. Belum lagi membawa Madrid hingga semi final Liga Champion dan gelar yang tersisa, Copa Del Rey. Kinerjanya pun mendapatkan ganjaran ketika pelatih timnas Perancis, Didier Deschamps memanggilnya ke timnas Perancis. Madrid pun sendiri telah melabeli Varane sebagai pemain yang untouchable alias tidak tersentuh (transfer) di musim depan.

Nama kedua, Phil Jones, sebenarnya bukan nama baru. Sama halnya dengan Varane, Jones sejatinya sudah menjadi pemain MU sejak musim lalu. Namun, baru pada musim 2012-2013 ini kontribusi pemain kelahiran 21 Februari 1992 ini semakin terlihat nyata. Ferguson benar-benar memanfaatkan apa yang dimiliki oleh Jones dalam skuat United. Fergie tahu bahwa kelebihan yang dimiliki oleh Jones fisiknya yang kuat. Stamina yang kuat membuat daya juangnya tinggi. Tak ayal, cap pemain versataile pun melekat pada dirinya. Posisi alami Jones sejatinya adalah bek tengah, namun musim ini Fergie setidaknya beberapa kali mencoba menempatkan Jones pada berbagai posisi diantaranya, bek tengah, bek sayap kanan, dan gelandang bertahan. Terhadap ketiga posisi tersebut, Jones terbilang sukses melakukannya. Penampilan cemerlangnya adalah ketika menjadi anchorman saat United berhasil mengimbangi Real Madrid di Santiago Bernabeu. Puncaknya kecermerlangannya musim ini adalah berhasil membawa MU merengkuh gelar EPL ke-20. Seiring dengan semakin menuanya bek-bek timnas macam Rio Ferdinand dan John Terry, Jones digadang-gadang menjadi pemimpin timnas Inggris di masa depan.

Nama ketiga adalah Mamadou Sakho. Anak muda ini adalah lulusan akademi PSG ini lahir pada 13 Feburari 1990. Sejak muda ia memang telah menunjukkan bakat alaminya sebagai pemain belakang yang tangguh. Kehadiran Ancelotti di posisi entraîneur semakin membuatnya berkembang. Lini belakang PSG pun semakin kuat seiring kedatangan Thiago Silva dari AC Milan. Duetnya dengan Silva di lini belakang membawa kejayaan bagi PSG musim ini yang berhasil menjadi juara Ligue 1 setelah 19 tahun silam. Bersama Varane, Sakho akan menjadi kekuatan di lini belakang timnas Perancis di masa depan.

Nama lainnya : Stevan Caulker (29 Desember 1991, Tottenham Hotspurs)

Untuk pengisi pos bek kiri semua mata akan tertuju pada bek kiri Bayern Muenchen, David Alaba. Pemain Austria berdarah Filipina-Nigeria yang lahir pada 24 Juni 1992 ini sebenarnya telah menjadi pilar lini belakang sebelah kiri Muenchen sejak musim lalu. Duetnya dengan Franck Ribery dalam menyisir sisi kanan pertahanan lawan sangat mematikan. Gaya mainnya yang mengandalkan dribel cepat, umpan satu dua dan menusuk ke kotak penalti lawan menjadi ancaman serius dari seorang bek sayap ini. Kontribusinya musim ini terbilang luar biasa. Musim ini Alaba berkontribusi besar mendekatkan Bayern Muenchen pada predikat treble winners. Setelah gelar Bundesliga, yang diperoleh dengan cara “sangar”, masih ada trofi DFB Pokal dan Liga Champion. Guardiola akan sangat beruntung memiliki bek kiri seperti Alaba. Apalagi karakternya cocok dengan taktik Guardiola yang selama ini menekankan bek sayapnya untuk maju sejauh mungkin membantu mengepung pertahanan musuh, seperti yang dilakukan Dani Alves di Barcelona.

Nama lainnya : Marquinhos (14 Mei 1994, AS Roma), Daley Blind (9 Maret 1990, Ajax Amsterdam)

Untuk posisi gelandang bertahan sebenarnya tersemat banyak nama. Namun, dua nama yang cukup pantas sekiranya adalah Ilkay Gundogan dari Borussia Dortmund dan Paul Pogba dari Juventus. Gundogan adalah gelandang andalan Jurgen Klopp. Ia didatangkan untuk mengisi posisi Nuri Sahin yang memilih hijrah ke Real Madrid musim lalu. Kontribusi anak muda keturunan Turki yang lahir 24 Oktober 1990 ini langsung melahirkan gelar ganda untuk Dortmund, Bundesliga dan DFB Pokal. Capaian itu kemudian disempurnakan pada musim ini dengan membawa Dortmund lolos ke final Liga Champions. Gaya bermainnya mencerminkan ciri gelandang bertahan modern saat ini yang dituntut kecerdasannya, dengan kata lain lebih mengedepankan otak daripada otot. Mirip dengan Andrea Pirlo atau Paul Scholes, seorang box to box atau deep playmaker, penyalur bola dari belakang ke depan. Maka dari itu tidak heran jika Gundogan masuk daftar pemain paling di buru musim depan.

Nama kedua adalah Paul Pogba. Kepergiannya ke Juventus bisa jadi adalah blunder terburuk yang pernah dilakukan oleh Sir Alex Ferguson. Apalagi ia keluar dengan status bebas kontrak alias gratis. Ini jelas keuntungan bagi Juventus. Di Juve ia menjelma menjadi pemain muda paling hot prospect musim ini. Antonio Conte berhasil mengendus bakat pemain keturunan Guinea kelahiran 15 Maret 1993 ini, untuk di plot sebagai suksesor “sang maestro” Andrea Pirlo di masa depan. Dalam setiap kesempatan tampil yang diberikan, Pogba berhasil melakukannya dengan sempurna, baik ketika menggantikan Pirlo maupun bermain bersama dalam komposisi lima gelandang. Di musim pertamanya Pogba berhasil membuat 36 penampilan dengan torehan lima gol bersama Juventus dan membawa Juventus meraih scudetto ke-29. Performa ciamiknya pun mengundang perhatian pelatih timnas Perancis Didier Deschamps untuk menggunakan jasanya. Pogba melakukan debut pertamanya di timnas Perancis saat melawan Georgia pada kualifikasi Piala Dunia 2014. Ia pun digadang-gadang sebagai “The New Patrick Vieira”.

Nama lainnya : Marco Verrati (5 November 1992, Paris Saint Germain), Kevin Strootman (13 Februari 1990, PSV Eindhoven), Jordy Classie (27 Juni 1991, Feyenoord Roterdam), Geoffrey Kondogbia (15 Februari 1993, Sevilla), Koke (8 Januari 1992, Atletico Madrid), Matteo Kovacic (6 Mei 1994, Inter Milan).

Untuk gelandang serang sayap, dunia memiliki banyak pilihan. Namun, untuk nama yang pantas menempatinya terdapat nama Eden Hazard dari Chelsea dan Marco Reus dari Dortmund. Menempatkan nama Hazard -begitu pula Reus- mungkin dianggap kurang fair karena mereka sendiri sejatinya telah menjadi pemain bintang sejak musim lalu, Hazard bersama Lille dan Reus di Moenchengladbach. Namun perkaranya adalah bahwa tahun ini menjadi tahun pembuktian kebintangan mereka setelah pindah ke klub lebih besar. Bersama Chelsea, Hazard berhasil menunjukkan betapa pentingnya ia bagi lini serangan Chelsea. Gaya permainan pemain kelahiran Belgia, 7 Januari 1991 ini mirip dengan Andreas Iniesta. Duetnya dengan Juan Manuel Mata menjadikan duet playmaker paling mematikan di EPL. Mereka menjadikan serangan Chelsea menjadi lebih berarti dikala penyerang Chelsea seperti Fernando Torres –atau Demba Ba- tak mampu menggembirakan penonton dengan golnya. Statistik Hazard menunjukkan sesuatu yang fantastis. Ia berhasil membuat torehan total 38 gol dengan komposisi 13 gol dan 25 assist di seluruh ajang yang dimainkan Chelsea. Hasratnya mendapatkan trofi Liga Champions bersama Chelsea harus gagal terlaksana, namun gelar Europa League setidaknya bisa melepas rasa penyesalannya.

Marco Reus (31 Mei 1989) berhasil membuktikan pada Joachim Loew bahwa ia pantas menempati posisi Lukas Podolski di sebelah kiri serangan timnas Jerman. Pemain bertipe rambut blonde, yang mengingatkan kita pada anak muda bangsa Arya idaman Adolf Hitler, ini telah menjadi fenomena baru di Bundesliga sejak musim lalu saat membela Moenchengladbach. Ketika kembali ke klub masa kecilnya, Dortmund, Reus semakin menunjukkan kebintangannya. Meski gagal mempertahankan gelar Bundesliga, Reus berhasil membawa Dortmund melangkah jauh di kompetisi Eropa dengan membawa Dortmund lolos ke final Liga Champions. Tak ayal, setelah kehilangan Mario Gotze yang akan hijrah ke Bayern Muenchen musim depan, Dortmund memproteksi Reus agar tidak ikut-ikutan keluar dari Signal Iduna Park. Jurgen Klopp akan sangat bergantung padanya di masa depan.

Nama lainnya : James Rodriguez (12 Juli 1991, Porto), Eduardo Salvio (13 Juli 1990, Benfica), Julian Draxler (20 September 1993, Schalke 04), Victor Fischer (9 Juni 1994, Ajax Amsterdam), Wilfreid Zaha (10 November 1992, Crystal Palace [Manchester United]), Lucas Moura (13 Agustus 1992, PSG), Raheem Sterling (8 Desember 1994, Liverpool), Callum McManaman (25 April 1991, Wigan Athletic), Kevin de Bruyne (28 Juni 1991, Werder Bremen)

Musim 2012-2013 juga menjadi ajang lahirnya playmaker muda jempolan. Untuk posisi yang satu ini sulit menempatkan nama selain Mario Gotze. Gotze (3 Juni 1992) adalah sebuah tradisi dalam sepak bola Jerman. Setelah era Gunter Netzer yang menjadi andalan lini tengah Jerman era 1980an, estafetnya diteruskan oleh oleh Thomas Hassler di era 90an, dan dilanjutkan Michael Ballack pada awal 2000 dan terakhir adalah Mesut Oziel. Namun, disaat Oziel belum habis, Jerman melahirkan Gotze. Hal ini sebenarnya bukanlah masalah bagi Jerman, karena Gotze dan Oziel memiliki karakter yang sedikit berbeda. Setelah kepergian Shinji Kagawa ke Manchester United, praktis jabatan playmaker jatuh ke tangan Gotze. Klopp seperti yakin bahwa kehilangan Kagawa bukanlah sebuah masalah bagi Dortmund karena terbukti Gotze berhasil memberikan sesuatu yang lebih bagi Dortmund. Karakternya yang lebih cepat dan memiliki dribel yang hampir sempurna menjadi penyokong ideal bagi Lewandowski. Kehadirannya menyempurnakan serangan Borussia Dortmund yang bertumpu pada empat serangkai : Lewandowski, Reus, Blaszykowsky, dan Gotze. Hasilnya, meski tak mampu mencegah Bayern Muenchen menguasai Bundesliga, Dortmund berhasil lolos ke Final Liga Champions untuk pertama kalinya sejak menjadi juara tahun 1997 silam. Untuk yang satu ini Gotze berharap bisa memberikan kado terindah sebelum meninggalkan klub masa kecilnya ini menuju Bayern Muenchen musim depan. Tentu ia tak berharap fans Dortmund mencemoohnya musim depan, untuk itu gelar Liga Champions diharapakan bisa menjadi peninggalan yang terhormat bagi fans Dortmund.

Nama lainnya : Isco (21 April 1992, Malaga), Christian Eriksen (14 Februari 1992, Ajax Amsterdam), Oscar (9 September 1991, Chelsea), Adam Maher (20 Juli 1993, AZ Alkmaar), Lewis Holtby (18 September 1990, Tottenham Hotspurs), Philippe Coutinho (12 Juni 1992, Liverpool)

Untuk posisi penyerang, terdapat nama-nama penyerang muda yang muncul ke permukaan. Namun untuk satu nama untuk menggenapi komposisi sebelas terbaik ini tersebut nama Christian Benteke (3 Desember 1990) dari klub Aston Villa. Benteke merupakan salah satu penemuan terbaik pada musim ini. Dengan komposisi minimnya penyuplai bola yang handal pada barisan gelandang Villa, Benteke terbukti tajam. Benteke adalah tipe target-men yang mau turun ke belakang untuk menjemput bola. Gerakan tanpa bola dan pengambilan positioning-nya menjadi salah satu yang terbaik di EPL. Posturnya yang tinggi memudahkannya beradu bola di udara. Dan mau tak mau statistiklah yang kemudian berbicara. Musim ini Benteke total mencetak 23 gol bagi Villa di seluruh ajang. Tak ayal, kini ia menjadi salah satu perburuan paling panas di musim depan. Rumornya Borussia Dortmund membidiknya untuk menggantikan posisi Robert Lewandowski yang hampir pasti pindah klub musim depan. Di timnas Belgia, Benteke juga menjadi bagian dari “golden generation era” bersama nama-nama seperti : Eden Hazard, Vincent Kompany, Thomas Vermaelen, Jan Vertonghen, Radja Nainggolan, Kevin Mirallas, dan lainnya. Kita nantikan ketajaman Benteke di masa depan.

Nama lainnya : Stephen El Shaarawy (27 Oktober 1992, AC Milan), Romelu Lukaku (13 Mei 1993, Chelsea), Son Heung-Min (8 Juli 1992, Hamburg SV), Mauro Icardi (19 Februari 1993, Sampdoria)

Formasi 4-2-3-1 : De Gea; Mattia De Sciglio, Phil Jones, Raphael Varane, David Alaba; Ilkay Gundogan, Paul Pogba; Eden Hazards, Mario Gotze, Marco Reus; Christian Benteke.

Komposisi pemain yang telah disusun diatas merupakan persepektif penulis. Begitu pun dengan para pembaca yang bebas menentukan komposisinya masing-masing.

Penulis tinggal di Twitter : @HermawanRico

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Bisakah Membangun Usaha Tanpa Uang? …

Maskal Novessro | | 20 April 2014 | 08:52

Ketika Rupiah Tidak Lagi Dianggap sebagai …

Dhita Arinanda | | 20 April 2014 | 05:10

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Gara-gara Amien Rais Mental Prabowo dan …

Mas Wahyu | 2 jam lalu

PDI P Sudah Aman, tapi Belum Tentu Menang …

El-shodiq Muhammad | 5 jam lalu

Rapor TimNas U-19 Usai Tur Timur Tengah dan …

Hery | 16 jam lalu

Nasib PDIP Diujung Tanduk …

Ferry Koto | 17 jam lalu

Alumni ITB Berkicau, Demo Mahasiswa ITB …

Hanny Setiawan | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: