Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Primata Euroasia

Try not to become a man of success, but rather try to become a man selengkapnya

Membangun Fanatisme Suporter Sepakbola Indonesia

REP | 20 May 2013 | 22:04 Dibaca: 1345   Komentar: 18   0

Jika ingin melihat budaya sebuah bangsa, lihatlah dulu suporter sepakbolanya. Ini bukanlah adagium atau kata-kata mutiara dari tokoh sepakbola terkenal. Namun, sudah jamak diketahui, jika kita mendapati suporter sepakbola, atau olahraga lain pada umumnya masih sering mendengung-dengungkan kata-kata rasis, berbuat anarki, maka seperti itulah gambaran umum dari budaya bangsanya.

Dimanapun, setiap klub tentulah membutuhkan basis massa, sebagai salah satu bentuk dukungannya. Apa yang didapatkan dari basis massa ini? Sudah tentu dukungan pada klub tersebut. Lalu, mengapa sampai timbul adanya dukungan? Tak lain karena adanya fanatisme. Masalahnya sekarang, sudah tertanam di mindset kita, suporter sepakbola Indonesia selama ini, bahwa fanatisme itu the one and the only, HANYA menyangkut fanatisme suku, daerah atau etnis. Khas banget bawaan sejak era perserikatan.

Memang, fanatisme suku, daerah atau etnis dalam lingkup sepakbola Indonesia terbawa semenjak dibentuknya perserikatan-perserikatan sepakbola di tanah air. Perserikatan, atau bond ini semenjak awal berdirinya memang ditujukan untuk membawa kebanggaan pada daerahnya masing-masing. Dengan harapan bisa menandingi hegemoni beberapa perkumpulan sepakbola yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda sebelumnya. Namun, faktanya, toh rasa fanatisme suku, daerah atau etnis ini mampu juga dipersatukan oleh Ir. Soeratin, tatkala membidani lahirnya Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia. Semua bond, dari berbagai daerah seakan sepakat untuk melepas atribut daerah, suku dan etnis mereka dan melebur untuk membentuk sebuah persatuan persepakbolaan, yang mana kala itu juga dimaksudkan sebagai sebuah alat perjuangan.

Di era modern, fanatisme ala perserikatan itu tetap tak mampu dihilangkan. Padahal fanatisme tidak melulu soal yang tiga itu. Di luar negeri fanatisme yang bersifat chauvanistis sudah lama menghilang, berganti menjadi fanatisme pada identitas klub. Fanatisme itu bukanlah bawaan semenjak lahir, atau melekat pada fitrah seseorang. Fanatisme bisa juga dibentuk, dirancang, dan diskenariokan. Bagaimana dan dengan apa caranya? Salah satunya adalah dengan pemain bintang, atau dengan identitas klub tersebut.

Marilah sedikit belajar dari klub-klub di J-League.  Diawal berdirinya klub-klub J-League, mereka langsung menggandeng perusahaan yang bertindak sebagai sponsor klub untuk membentuk identitas klub mereka. Dari situ kita lihat bahwa klub-klub Jepang tidak terlalu mengandalkan semangat kedaerahan dalam mengelola fanatisme penonton. Penggunaan nama daerah seperti Yokohama, Nagoya, Osaka dan lain-lainhanyalah sebagai penanda domisili klub.

Mereka mengedepankan brand perusahaan/sponsor sebagai identitas klub. Mereka percaya bahwa fanatisme bisa dibentuk, dikelola, direncanakan. Antara lain lewat pemain2 bintang. Itu sebabnya Gary Lineker atau Zico sempat menjadi maskot Liga Jepang.

Hasilnya ?

13690621181156043925

statistik rerata penonton liga di Asia (sumber bigsoccer.com)

Lihatlah gambar data musim 2011-2012 (diambil dari bigsoccer.com). Dengan jumlah penduduk yang hanya 127.333.002, atau cuma separuh dari jumlah penduduk Indonesia yang 241 juta jiwa, jumlah rata-rata penonton J-League justru jauh lebih banyak dari jumlah penonton ISL, panggung para dewa itu.

Penonton J-League rata2 pertandingan mencapai 17.307. Sementara penonton ISL hanya 10,228. Dengan jumlah total penonton J-League tetap lebih banyak, 4.205.571, berbanding 3.129.700 milik ISL.

Padahal sepakbola bukanlah olahraga paling favorit bagi rakyat Jepang. Baseball menempati urutan pertama.

Lihat juga di tanah Italia. Dulu siapa kenal sama Napoli ? Tapi sejak kehadiran Diego Maradona, klub Napoli terangkat derajatnya, fanatismenya pun juga demikian. Pemain-pemain lain seperti Careca dan Alemao juga ikut terangkat. Dan hebatnya tifosi Napoli toh tidak berkurang walaupun Maradona sudah pergi.

Demikian juga klub-klub kota London di EPL. Ada 4 klub London di EPL, masing-masing dengan suporter fanatik, dan bersedia membayar karcis terusan. Dan tidak ada tuh yang merasa fanatik hanya karena mereka merasa warga kota London. Fanatisme mereka ya karena kedekatan emosional. Antara lain karena pernah ada seorang pemain bintang tertentu yang bermain di klub mereka. Atau karena memang identitas klub yang mereka sukai. Coba tanyakan pada beberapa suporter asal Indonesia yang kini fanatik atau menyukai klub-klub kaya baru, semisal Chelsea atau Manchester City. Sebelum jadi kaya dan mendatangkan banyak bintang, apakah mereka konsisten mendukung dan menyukai klub tersebut? Atau tanyakan berapa banyak pertambahan suporter dari kedua klub, sebelum dan sesudah klub itu menjadi kaya dan bisa membeli banyak bintang sepakbola.

Selain faktor pemain bintang, fanatisme juga bisa berbasis pada sistem permainan klub tersebut. Misalnya sekarang Swansea bertambah fansnya karena Swansea menjadi satu-satunyanya klub EPL yang menganut permainan tiki-taka ala Barcelona. Atau berapa banyak yang tiba-tiba fanatik dengan Bayern Munchen dan Borussia Dortmund, hanya karena permainan mereka yang ciamik hingga mampu menjungkirbalikkan prediksi dan menggasak habis dua raksasa Spanyol di semifinal UCL?

Sebenarnya, di Indonesia kita juga pernah sukses membangun fanatisme tanpa rasa chauvanistis. Lihatlah kala klub-klub Galatama berjaya. Kehadiran Fandi Ahmad dan David Lee di Niac Mitra, serta Jairo Matos di Pardedetex mampu mengubah rasa fanatik suporter, yang pada awalnya chauvanist menjadi fanatik pada identitas klub dan bintang lapangannya. Bandung Raya dan Arseto juga memberikan nuansa berbeda, karena menjadikan bintang lokal sebagai “jualan” mereka. Arseto, satu-satunyanya klub tanpa pemain asing di Galatama mempunyai Ricky Yacob.

Sementara Bandung Raya mempunyai key player seorang Adjat Sudradjat. Kehadiran Ricky dan Adjat terbukti ampuh untuk menciptakan fenomena yang disebut fanatisme itu.

Jadi, omong kosong bila ada yang berkata bahwa fanatisme hanya bisa dicapai dengan daerah, suku dan etnis sebagai barang jualan. Omongan seperti itu hanyalah bualan para politikus dan birokrat yang memang sengaja menunggangi sentimen positif rakyat pada sepakbola demi kepentingan ambisi pribadi dan jabatan mereka.

Atau memang para pengelola dan pemangku kepentingan sepakbola kita yang pada MALAS berpikir, malas berkreatifitas untuk menciptakan apa yang disebut fanatisme tersebut. Sehingga kemalasan dan Kekurangkreatifitas itu menjalar kepada rakyatnya di akar rumput sana, yang memang sudah terkenal cuma tahu beres itu. Makanya jangan heran jika sepakbola di Indonesia hanya menjadi mainan para politikus, dan suporternya jadi target meraih suara semata.

(ditulis untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Bisakah Membangun Usaha Tanpa Uang? …

Maskal Novessro | | 20 April 2014 | 08:52

Ketika Rupiah Tidak Lagi Dianggap sebagai …

Dhita Arinanda | | 20 April 2014 | 05:10

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Gara-gara Amien Rais Mental Prabowo dan …

Mas Wahyu | 5 jam lalu

PDI-P Sudah Aman, tapi Belum Tentu Menang …

El-shodiq Muhammad | 7 jam lalu

Rapor TimNas U-19 Usai Tur Timur Tengah dan …

Hery | 19 jam lalu

Nasib PDIP Diujung Tanduk …

Ferry Koto | 19 jam lalu

Alumni ITB Berkicau, Demo Mahasiswa ITB …

Hanny Setiawan | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: