Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Hery

Banyak baca dapat menambah cakrawala pola pikir kita....suka bola & balap..he..he

Tangapan terhadap Artikel “Kekalahan Pejuang Reformasi Sepakbola Karena Terlalu Berhalusinasi”

OPINI | 14 May 2013 | 16:50 Dibaca: 669   Komentar: 19   3

13685244871782880656sumber foto : kpuboyolali.wordpress.com


Penulis : Pengkuh Budhiyah Prawira

OPINI | 13 May 2013 | 23:23 http://stat.ks.kidsklik.com/statics/kompasiana4.0/images/ico_baca.gifDibaca: 370   http://stat.ks.kidsklik.com/statics/kompasiana4.0/images/img_komen.gifKomentar: 27   http://stat.ks.kidsklik.com/statics/kompasiana4.0/images/ico_nilai.gif1 aktual

Perjuangan menciptakan sepak bola bersih dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab merupakan perjuangan yang mulia. Sepak bola sebagai sebuah permainan memang harus murni merupakan sebuah permainan, jangan sampai dikotori oleh tangan-tangan mafia. Selama tiga tahun belakangan ini, muncul kelompok yang menyuarakan dirinya sebagai kaum reformer yang menyatakan diri berjuang untuk kepentingan sepak bola yang bersih.

Untuk paragraph ini saya coba komentari apa yang dimaksud dengan munculnya kelompok yang menyuarakan dirinya sebagai kaum reformer…….ini yang dimaksud pengurus PSSI atau penulis opini yang ada dikompasiana ini, yang anda anggap Repormer…?? Kalau yang dianggap pengurus PSSI sebelum KLB,  jelas kalau menurut pengamatan saya sejak awal DA terpilih menjadi ketua Umum PSSI sudah mencoba  melakukan perubahan ke arah sepakbola yang bersih itu,  tapi apa daya ternyata kepemimpinan DA tidak mendapat dukungan yang mutlak dari semua pihak yang berkepentingan dengan  persepakbolaan di Indonesia…. Maka terjadilah apa yang disebut kegagalan membangun fondasi persepak bolaan yang kokoh itu….tapi fakta langkah kearah itu sudah dimulai….

Kalau yang anda anggap Reformer adalah kompasioner yang aktif menulis kritis terhadap Grombolan KPSI sebelum ini dan PSSI Pasca KLB 17 Maret….kalau boleh saya bilang justru anda yang berhalusinasi…..itu sangat jelas anda baru bergabung dikompasiana 1 januari 2013……maaf tau apa anda dengan apa yang terjadi di kompasiana ini khususnya kanal bola dengan persepakbolaan di Indonesia periode Januari 2012 sampai desember 2012 atau sejak mulai terjadinya pemberontakan di PSSI sekitar akhir th 2011…??? Sementara saya yang hadir dikompasiana disaat pertempuran sedang berkecamuk antara PSSI dan KPSI jadi saya sangat merasakan yang namanya aura kebenaran itu ada dipihak mana…… Maaf sekali lagi maaf dari situ terlihat justru andalah yang berhalusinasi…ok

Tetapi, setelah diamati selama beberapa tahun ini, perjuangan yang dilakukan oleh para reformer ini terlihat hanya sebuah retorika. Menimbulkan gaung yang begitu tinggi tetapi tidak pernah nampak dalam kenyataan. Reformasi sepak bola yang bersih tetap saja hanya sebuah wacana yang tidak terbuktikan, walaupun kesempatan itu ada pada saat para reformer mengisi posisi sebagai sebagai panglima dalam pengaturan persepakbolaan nasional. Mungkin hal tersebut dikarenakan bahwa para reformer itu terlalu bermimpi, Bermimpi menciptakan iklim persepakbolaan nasional menjadi lebih baik, tetapi mereka lupa meletakkan dasar yang kuat untuk mewujudkannya dalam kenyataan. Kalau mau diibaratkan, seperti mau membangun sebuah rumah yang megah, tapi tidak didahului dengan pembangunan pondasi yang kokoh. Hasilnya, bangunan itu ambruk sebelum bangunannya bisa dihuni.

Nah kalau yang paragraph kedua ini jelas terlihat yang anda maksud adalah para pengurus PSSI periode sebelum KLB 17 Maret 2013…..ok jelas langkah itu sudah dilakukan PSSI periode yang lalu salah satu bukti adalah pembentukan klub sepakbola professional dengan menjauh dari yang yang namanya DANA APBD sementara hal itulah yang tidak diinginkan oleh kaum pemberontak yang tetap keukeh dengan hasil kongres bali yang serba ga jelas dan wacana pemakaian dana APBD sampai tahun 2014. Dan Bermimpi menciptakan iklim persepakbolaan nasional menjadi lebih baik, tetapi mereka lupa meletakkan dasar yang kuat untuk mewujudkannya dalam kenyataan………. Nah ini juga terlihat justru anda yang berhalusinasi  kenapa .? terpilihnya DA pada saat itu justru dengan semangat perubahan yang akan dilakukan di PSSI, kalau tidak dengan semangat perubahan buat apa sampai terjadi Reformasi kepemimpinan dengan tumbangnya Nurdin Halid dari kepemimpinan di PSSI pada waktu itu…??? Meletakkan dasar yang kuat untuk mewujudkannya dalam kenyataan ini jelas sudah sudah dilakukan dimulai dengan wacana Deposit peserta Liga untuk menghindari ketidakmampuan klub pada saat kompetisi berjalan….tapi yang terjadi apa..??? hampir semua klub menolak terutama klub yang berlaga di LIGA ISL sekarang…sampai akhirnya gerbong itu keluar dari Induknya PSSI dengan membentuk Gerbong sendiri yaitu KPSI, dan wacana Verifikasi klub sesuai stanndart AFC/FIFA yang sudah mulai ditetapkan dan sesuai jadwal PSSI terakhir September 2013 semua klub harus sudah terferifikasi…..tapi apa yang terjadi seperti yang kita ketahui semuanya gagal karena berbagai kendala/factor baik itu dukungan dari Pemerintah, klub peserta liga dan Pihak pemberontak KPSI yang selalu menggangu program apa yang di wacanakan PSSI pada saat itu.

Dasar reformasi yang disuarakan oleh kaum reformer tersebut hanya angan-angan. Bagaimana mau membangun sebuah bangunan yang megah, apabila pondasinya hanyalah angan-angan? Perjuangan untuk mewujudkan sepak bola yang bersih itu adalah sebuah kerja nyata. Bukan hanya dengan penebaran isu mafia atau tudingan terhadap sesuatu kelompok hanya berdasarkan analisa subjektif tanpa ada bukti. Dunia ini mungkin sudah terbalik, dimana orang sekarang ini lebih percaya dengan analisa yang berbau halusinasi daripada kenyataan yang terlihat secara kasat mata. Tetapi ada hal yang harus kita sadari, publik lebih percaya terhadap kenyataan yang terpampang nyata daripada isu-isu yang dilontarkan oleh kelompok-kelompok tertentu.

Pada paragraph ini juga maaf sekali lagi saya berangapan justru anda yang halusinasi….kenapa..?? disini saya mulai ragu lagi ini ditujukan buat pengurus PSSI sebelum KLB atau para kompasioner pendukungsepakbola bersih di kompasiana ini..?? tapi ok lah…

Kalau anda menuju ke pengurus PSSI sebelum KLB, semua itu bukanlah angan2 tapi adalah suatu langkah yang harus ditempuh PSSI kala itu,  kalau mau melakukan perubahan sesuai dengan misi yang diemban PSSI kala itu,  untuk melakukan Reformasi Sepakbola di Indonesia, jadi kalau saya menilai itu semua sudah dilakukan PSSI waktu itu, Cuma keberadan PSSI tidaklah seperti Organisasi yang solid dan kokoh/kuat …PSSI kala itu jelas dirongrong berbagai kepentingan sehinga semua kebijakan yang dibuat tidak mendapatkan dukungan seratus persen dari angotanya dan begittu juga dengan pembiaran yang dilakukan pihak pemerintah terhadap apa yang menimpa Organisasi Induk Sepakbola di Indonesia ini. Dan bagi kita yang mengikuti perjalanan PSSI ini pasti tau. dan begitu juga dengan penebaran isu mafia atau tudingan terhadap sesuatu kelompok …semua ini jelas seperti yang dikatakan “mafia sepakbola “ dan itupun diakui oleh pengurus yang berkuasa saat ini terkait keberadan mafia sepakbola yang malah sudah diwacanakan pengurus PSSI sekaran bahwa itu masa lalu untuk kedepan sudah tidak ada lagi “Tak ada lagi mafia wasit atau pengaturan skor seperti dulu. Yang menentukan kemenangan adalah pertandingan, bukan wasit,” tandas Roberto. Musim lalu, imbuh Anggota Eksekutif (Exco) PSSI, citra wasit benar-benar rusak

Mengenai tudingan terhadap satu kelompok……kalau ini jelas dari kaca mata PSSI dan pendukung reformasi sepakbola sangat jelas justru KPSI lah yang menghancurkan persepakbolaan Indonesia dalam periode dua tahun kebelakan dengan merongrong semua program pembaharuan yang dicanangkan PSSI waktu itu, makanya terjadi kemelut yang berkepanjangan di PSSI,  fakta yang sangat jelas terlihat adalah pelarangan pemain Liga ISL untuk membela Timnas bangsa dan negaranya dalam ajang international ( Yang sangat berpengaruh dengan kebutuhan akan pemain yang berkwalitas dan pengaruh terhadap hasil peringkat kita di FIFA ) dan hebatnya dalam kondisi seperti ini adanya pembiaran oleh pemerintah, dalam hal ini kemenpora yang seharusnya bersikap lebih tegas demi kepentingan Negara…tapi itu semua tidak dilakukan kemenpora. Dan memang pada awalnya PSSI sempat menolak pemain dari LIGA yang diangap breakway League untuk membela Timnas tapi akhirnya dengan segala resiko PSSI mengambil keputusan untuk memangil pemain dari Liga Breakway league itu yaitu Liga ISL.

Tapi inti dari semua ini adalah mari kita sama-sam beropini ria dalam menulis tentang apa dan bagaimana PSSI sebagai organisasi persepakbolaan yang kita cintai ini bisa kembali hidup normal menuju perestasi yang membanggakan buat bangsa dan Negara, jadi kalau menurut saya biarkan perbedaan diantara kita tetap ada,  dan tidak perlu kita merasa benar sendiri justru dengan perbedaan kita bisa mendapatkan jawaban yang benar seharusnya benar, bukan malah yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar…….selamat menikmati.

Borneo 14 May 2013

Salam Olah Raga

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah (Bocoran) Kunci Jawaban UN SMA 2014! …

Mohammad Ihsan | | 17 April 2014 | 09:28

Tawuran Pasca-UN, Katarsis Kebablasan …

Giri Lumakto | | 17 April 2014 | 09:09

Maunya Bugar dengan Vitamin C Dosis Tinggi, …

Posma Siahaan | | 16 April 2014 | 22:34

Kebun di Atas Rumah? …

Wulan Harismayaning... | | 16 April 2014 | 21:01

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 4 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 4 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 5 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 5 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: