Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Primata Euroasia

Try not to become a man of success, but rather try to become a man selengkapnya

Beda Persepsi Tentang Wasit di IPL dan ISL

REP | 12 May 2013 | 10:17 Dibaca: 1104   Komentar: 31   0

Kembali wasit Indonesia menjadi sorotan. Kali ini tak tanggung-tanggung, Wakil Ketua Umum PSSI yang juga menjabat Ketua BTN La Nyalla Matalitti mengatakan terus terang wasit Indonesia mudah dibeli. “Susah kalau ingin dimintai bukti. Kalau ada deal tertentu untuk memenangkan satu klub dalam sebuah pertandingan hampir pasti tidak ada bukti yang terdokumentasi.­ Tetapi PSSI kan tidak buta. Dari jalannya pertandingan saja sudah bisa terasa kalau laga itu sudah diatur,” ungkapnya, Sabtu (11/5/­2013) pada suarasurabaya.net.

“Ini sepertinya sudah menjadi watak wasit Indonesia. Kalau watuk (sakit batuk–Red) masih bisa disembuhkan, tapi kalau watak itu susah. Sejak dulu sampai sekarang mereka bisa dibeli oleh para mafia. Meski honor sudah tinggi juga tetap saja. Karena ini sudah watak,” tegasnya.

PSSI sendiri sudah berusaha mengantisipasi adanya permainan mafia pada wasit-wasit Indonesia. Diantaranya adalah dengan cara mengacak wasit yang bertugas sesaat menjelang pertandingan. Jika di luar negeri wasit sudah ditunjuk beberapa hari sebelumnya, namun khusus ISL, La Nyalla memastikan tidak akan memakai sistem tersebut. Penunjukan wasit kata dia dilakukan pada hari H pertandingan. Bukan sudah ditetapkan jauh-jauh hari.

“Kalau dulu kan, pertandingan dua bulan lagi sudah ditunjuk wasit yang akan memimpin. Sekarang nggak lagi. Sehari sebelum pertandingan kita kopyok (acak) dulu lewat komputer. Nama wasit yang keluar itulah yang akan memimpin suatu pertandingan. Patokannya hanya satu, wasit tidak boleh berasal dari daerah yang sama dengan klub yang bertanding. Misalnya, yang main klub dari Jawa Timur, ya wasitnya dari Jawa Barat,” terang La Nyalla.

Tetapi cara itupun menurutnya masih bisa diakali oleh mafia. “Entah dari pihak tuan rumah atau tamu, maupun dari pihak luar. Siapa sajalah, pokoknya yang punya duit, sudah langsung tembak di hari itu juga. Begitu mereka tahu siapa wasitnya yang memimpin, langsung dia kontak wasitnya. Nah disitulah biasanya kesepakatan terjadi,” katanya.

Mungkin menurut La Nyalla sistem acak dan penunjukan wasit saat hari H bisa meminimalisir adanya main mata antara tim yang bertanding dengan perangkat pertandingan. Namun, tetap saja akan ada banyak masalah, misal jika wasit yang ditunjuk (oleh komputer, kata La Nyalla), ternyata harus berhalangan hadir dan tak bisa memimpin pertandingan, tentu harus segera ada penggantinya. Nah, penggantinya ini pun kemungkinan besar yang sudah disiapkan oleh “mafia”, baik mafia dari PSSI sendiri maupun dari klub. Lagi pula, siapa yang bisa menjamin dan percaya bahwa wasit yang ditunjuk pada hari H pertandingan tersebut memang sudah diacak (oleh komputer)? Apakah kedua tim yang akan bertanding menyaksikan pengacakan wasit tersebut? Masih belum jelas sepenuhnya konsep perwasitan menurut La Nyalla ini.

Jika dilihat dengan jernih, sesungguhnya masalah wasit Indonesia adalah masalah kepercayaan.Krisis kepercayaan itu bukan pada wasitnya. Tapi pada operator liganya. Ingat IPL musim pertama yang dijuarai Semen Padang, banyak keputusan wasit yang merugikan dan kontroversial. Tapi tidak ada wasit ditonjok sampai terkapar KO. Kejadian kekerasan pada wasit di IPL pun masih minim jika dibandingkan dengan ISL.

Kemudian bandingkan berbagai pernyataan tim-tim IPL dan ISL tentang wasit. Rata-rata tim IPL minta agar kualitas wasit dibenahi, bukan teriak-teriak ada permainan atau wasit dibeli. Kontras halnya dengan di ISL, setiap kali timnya merasa dirugikan oleh wasit, para pengurus klub berteriak lantang wasit sudah dibeli atau ada permainan yang menguntungkan tim tertentu.


Memang, kompetisi IPL masih semrawut dan jauh dari kata profesional. Tapi, dapat dilihat dengan jelas, jika bicara masalah wasit, klub-klub IPL lebih percaya dibanding klub-klub ISL.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalahkan Norwich, Liverpool Kian Dekat …

Achmad Suwefi | | 20 April 2014 | 19:54

Ketagihan “Pecel Senggol” …

Hendra Wardhana | | 20 April 2014 | 16:01

Kebijakan Mobil LCGC Yang Akhirnya Membebani …

Baskoro Endrawan | | 20 April 2014 | 13:30

My Mother Is…? …

Salmah Naelofaria | | 20 April 2014 | 15:03

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 11 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 13 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 15 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: