Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Primata Euroasia

Try not to become a man of success, but rather try to become a man selengkapnya

Erick Thohir, Investor Baru Internazionale Milan?

REP | 09 May 2013 | 23:58 Dibaca: 3751   Komentar: 13   5

Kabar tentang adanya investor dari Indonesia yang ingin membeli saham kepemilikan klub Internazionale Milan masih simpang siur. Sebelumnya, bos besar Inter, Massimo Moratti membantah adanya kabar burung tersebut. Moratti menyangkal sudah menjalin kesepakatan dengan investor, yang disebut-sebut seorang pengusaha asal Indonesia, untuk menggelontorkan dana yang akan dipakai untuk pembangunan stadion baru Inter Milan.

“Satu-satunya kontak yang dimiliki Inter dengan perusahaan internasional terkait pembangunan stadion baru adalah, pada saat ini, cuma tampilan awal ketertarikan,” terang Moratti di situs resmi Inter.

“Saya akan berada pada posisi untuk mempertimbangkan mereka dan ketika ketertarikan itu menjadi lebih konkret, meskipun masalah itu bukan prioritas kami pada saat ini.”

“Oleh karena itu, saya cuma bisa membantah laporan yang saya baca pagi ini di media, terkait kemungkinan kesepakatan dengan sebuah grup dari Indonesia, atau salah satu perusahaan lain seperti yang dikutip.”

Namun, dalam perkembangan terbarunya, Moratti dikabarkan siap melepas sebagian kepemilikan sahamnya di Inter Milan. Dan, investor yang akan membelinya pun dikonfirmasi memang berasal dari Indonesia.

Adalah Erick Thohir, sosok yang disebut-sebut bersedia membeli sebagian saham Inter Milan tersebut sebagaimana yang dikutip dari akun twitter resmi Inter Milan. Bos grup Mahaka tersebut dikabarkan bersedia membeli 51% saham Inter Milan. Namun, Moratti hanya bersedia melepas 30% saja. Selain Erick Thohir, grup investor asal Kazakhstan dikabarkan juga berminat membeli saham klub asal kota Milan itu.

Bukan sekali ini Erick Thohir mengeluarkan gelontoran dananya untuk sebuah klub sepakbola. Di tahun 2012, pengusaha yang juga presiden direktur VIVA Grup ini membeli saham mayoritas klub sepakbola asal Amerika Serikat, DC United. Lewat aksi pembeliannya itu, Erick menjanjikan akan membawa pesepakbola Indonesia untuk bisa mencicipi atmosfer sepakbola luar negeri. Janji itu dibuktikannya dengan memberi kesempatan pada Andik Vermansyah untuk mengikuti latihan di DC United. Dan dilanjutkan dengan meminjam pemain Indonesia dari klub CS Vise Belgia, Syamsir Alam untuk bisa bermain di DC United. Sayangnya, Syamsir ternyata belum bisa menembus skuad inti dan malah harus terpaksa dipinjamkan lagi ke klub divisi III MLS. Sebuah kejadian langka dimana ada pemain pinjaman untuk kemudian dipinjamkan lagi.

Kabar pembelian saham Inter Milan oleh Erick Thohir mungkin bisa membawa angin segar bagi pesepakbola Indonesia. Siapa tahu, jika Erick Thohir jadi tercatat sebagai salah satu pemilik Inter Milan, akan ada pemain Indonesia yang bisa merasakan atmosfir liga Italia.

Namun, jika kabar ini benar terbukti adanya, boleh jadi pembelian saham Inter Milan ini bisa dibilang sebagai kemubadziran. Bisa dibilang, para pengusaha Indonesia yang membeli saham mayoritas klub asing hanya karena gengsi dan gagah-gagahan saja untuk menunjukkan jati diri kalau mereka adalah orang ‘besar’.

Terbukti klub asing yang di miliki orang asal Indonesia tak ada yg berprestasi malah umumnya pada jeblok. Selain itu, janji untuk memberi kesempatan pada pemain Indonesia bermain di klub asing mereka sampai saat ini masih terbatas pada lip service saja. Meski punya saham mayoritas, tak selamanya mereka bisa ikut campur dalam masalah teknis pemilihan pemain di klubnya.

Akan lebih baik, jika para pengusaha yang bergelimang uang seperti Erick Thohir bersedia menyisihkan kelebihan dana mereka untuk pengembangan sepakbola usia dini. Cobalah lihat, betapa banyak talenta-talenta muda di Indonesia, namun hanya karena keterbatasan biaya mereka tidak bisa memperlihatkan kemampuan olah bola mereka. Lihat pula betapa PSSI saat ini kurang peduli dengan timnas kelompok umur, seperti kasus timnas U-14 yang sampai saat ini masih terlantar, hingga beberapa orang tua pemain terpaksa harus mencari dana sendiri untuk bisa memberangkatkan anak-anak mereka, demi membela nama baik Indonesia di pentas internasional.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Satpol PP DKI Menggusur Lapak PKL Saat …

Maria Margaretha | | 31 July 2014 | 17:04

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Ke Candi; Ngapain Aja? …

Ikrom Zain | | 31 July 2014 | 16:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 7 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 11 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 11 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 15 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: