Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Shesar

Alumni sekolah manajemen bisnis, pecinta lingkungan, dan penggemar video game & board game… ngepress di alamat selengkapnya

Menggugat Reportase a la Setiawan Widiyoko (Bentrok Suporter PSIS)

OPINI | 07 May 2013 | 23:21 Dibaca: 3577   Komentar: 23   2

Sepeda motor terbakar pada kerusuhan di Grobogan (poto : Solopos.com)

Sepeda motor terbakar pada kerusuhan di Grobogan (poto : Solopos.com)

Kerusuhan paska pertandingan sepakbola antara Persipur vs PSIS pada Minggu (5/5) lalu tak terbatas hanya di wilayah Godong – Grobogan – tapi ternyata imbasnya turut terlempar jauh ke Jepara, yang mana klub sepakbolanya sama sekali tidak berada di divisi dan liga yang sama dengan PSIS dan Persipur. Bagaimana bisa? Adalah tulisan dari Setiawan Widiyoko yang jadi embrionya.

Pada tulisan berjudul Bentrok Suporter PSIS 6 Tewas , yang oleh Setiawan dikategorikan sebagai reportase, berisi kabar bahwa terjadi kerusuhan di Godong akibat ulah tak patut suporter PSIS (belum jelas apakah Snex, Panser Biru, keduanya, atau tak tergabung dalam kelompok suporter PSIS manapun) yang kemudian memicu kemarahan warga setempat. Setiawan juga menulis bahwa ada keterlibatan suporter Persijap Jepara dalam peristiwa itu. Bisa ditebak, urusan terakhir inilah yang memicu kehebohan di warga Jepara berdasar pengamatan saya di jagad perkicauan Twitter karena banyak dari mereka yang merasa difitnah oleh tulisan ‘reportase’ Setiawan.

Mencermati tulisan itu dengan seksama dan dalam tempo sedang-sedang saja, saya menemukan banyak cacat jurnalistik dalam tulisan tersebut.

1) Setiawan melaporkan bahwa suporter Persijap sengaja datang dari Jepara dan menunggu suporter PSIS melintas di Godong. Alasannya masih ada dendam yang tersisa saat pertandingan di Semarang.

Benarkah masih ada dendam? Darimana Setiawan tahu? Kecuali jika ternyata ia seorang cenayang yang bisa sihir membaca hati dan pikiran orang lain. Saya menggugat ketidaktahuan (atau ketidakmautahuan?) Setiawan tentang kapan pertandingan di Semarang itu? Gugatan lainnya, melenceng dari pokok utama, sejauh mana Setiawan mengerti sejarah perseteruan suporter PSIS dengan suporter Persijap?

Apakah anda, Setiawan, tahu bahwa saat Tugiyo mencetak gol penggondol gelar juara pertama PSIS di tahun 2000 tak sedikit warga Jepara yang ikut bersorak merayakan gembira? Atau tahukah saudara Setiawan tahu sejak kapan suporter Persijap berseteru dengan suporter PSIS beserta asap penyebab apinya? Kembali ke pokok utama, darimana Setiawan tahu ada dendam di hati suporter Persijap untuk suporter PSIS? Asumsi atau survei ke para suporter Persijap?

Benarkah masih ada dendam? (photo : persijap-total.blogspot.com)

Benarkah masih ada dendam? (photo : persijap-total.blogspot.com)

2) Setiawan melaporkan bahwa ada enam suporter PSIS meninggal tewas dalam bentrok tersebut, sementara pihak kepolisian melaporkan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Ini tidak bisa sepenuhnya disalahkan, karena ada kemungkinan pula pihak kepolisian menutupi beberapa fakta. Menjadi ganjil adalah ketika dalam komentarnya di tulisan itu sendiri Setiawan berujar seperti berikut,

“Informasi yang meninggal masih simpang siur Mas”

“Mbak Yessi Safitri bisa dicek di lapangan berapa orang yang meninggal, saya tidak mau menyebutkan berapa tetapi hasil investigasi di lapangan ada korban yang meninggal”

Aneh? Menurut saya iya. Bagaimana bisa pada judul ia menyebut dengan tegas, jelas, dan yakin bahwa ada tujuh jiwa yang kembali ke peraduannya malam itu, tapi ketika di kolom komentar ditanya malah menjawab seperti tersebut di atas. Inkonsisten.

Beberapa jam setelah tulisannya terbit di Kompasiana dan mendapat banyak respon, Setiawan menerbitkan tulisan yang mengklarifikasi bahwa suporter Persijap tidak terlibat dalam kerusuhan tersebut. Ada bagian-bagian yang menurutnya provokatif kemudian diedit dengan alasan agar masalah tidak berkepanjangan.

Ketika saya mengkritik darimana sejatinya ia mendapat kabar kerusuhan tersebut dan mengapa ia seolah ingin menghapus jejak dosa dengan tulisan klarifikasi tersebut (yang tanpa menyebut darimana sumber beritanya), Setiawan membalas macam berikut ini,

“Saya hanya mencoba agar masalah ini tidak berkepanjangan, tetapi klo Bung Seshar mau turun ke lapangan, melakukan invenstigasi maka akan tau kebenarannya..bisa diklarifikasi dri warga Godong maupun dari suporter PSIS langsung…saya hanya CINTA DAMAI, jadi perkataan yang profoktif saya hapus, itupun karena masukan dari teman teman dan masyarakat.”

1367943538234449503

Komentar saya yang ditanggapi Setiawan

Sekali lagi, dalam pandangan saya, yang tanpa ada maksud jadi sok jurnalis, ada yang janggal dalam komentarnya itu. Setiawan meminta saya untuk turun ke lapangan guna melakukan investigasi agar saya tahu kebenarannya. Bukankah sebuah reportase itu satu tulisan yang melaporkan fakta di lapangan sesuai adanya? Jika memang Setiawan menganggap tulisannya adalah satu reportase mengapa ia mengedit tulisan awalnya? Jika ia menyuruh saya menginvestigasi langsung lapangan agar tahu kebenarannya, apakah bisa diartikan bahwa ada kebenaran yang disembunyikan (atau malah diubah?) dalam tulisannya sampai-sampai saya perlu turun sendiri ratusan kilometer dari Jakarta ke Grobogan?

Sepanjang tahu saya yang tidak terlalu mendalam, pokok inti jurnalisme adalah menyampaikan fakta di lapangan dalam bentuk sejujurnya, yang tentunya tidak boleh berasal dari satu pihak saja. Jika Setiawan memang yakin bahwa apa yang ia tulis memang benar adanya bukankah harusnya ia tetap mempertahankan dan membela ‘reportase’-nya, dan kukuh menjelaskan bahwa memang ada suporter Persijap terlibat dalam kerusuhan itu? Bukan malah membuat tulisan klarifikasi dengan payung alasan agar masalah tak berkepanjangan dan klise semacam cinta damai?

Inikah reportase a la saudara Setiawan Widiyoko, ST, SH? Jika iya, saya menggugat sepenuh jagat.

©Shesar_Andri, 7 Mei 2013
sembari mendengarkan suara unik Karni Ilyas

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 12 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 14 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 15 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 16 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: