Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Tri Makno

laki-laki yang mencoba tidak ingkar janji

Hasil ISL

OPINI | 07 May 2013 | 18:26 Dibaca: 682   Komentar: 33   0

Berita rusuh suporter PSIS dan warga Grobogan terlambat datang. Kompas baru menulis jam 8 pagi hari senin 6 Mei, setelah Suporter PSIS terkepung 15 jam. Seribuan Supoerter semalaman terkepung dalam gelap dan lapar. Ditengah lemparan batu dan serangan-serangan mendadak yang bisa datang dari arah mana saja. Berita dari teman yang tinggal di Grobogan, itulah bayaran setimpal dari aksi penjarahan dan perusakan. Tamu yang menginjak-injak kehormatan tuan rumah

Masih dari berita teman, kondisi malam itu sungguh mencekam, semua arah keluar suporter ditutup, lampu sepanjang jalan dimatikan. Setidaknya ada 5 truk yang dibakar dan puluhan sepeda motor dihancurkan, ada puluhan yang menjadi korban (mati). Tentu saya tidak bisa mengkonfirmasikan kebenaran berita ini, karena sesuai siaran resmi yang meninggal 1 orang, itupun karena korban kecelakaan. Tapi bagi saya terbayang terkepung selama 15  jam dalam gelap dan lapar dan serangan yang terus menerus tentu memakan korban, dan emosi massa tidak ada yang bisa mengendalikan.

dari berita resmi, setidaknya 1 SSK TNI dan Brimob membantu evakuasi. Dari berita kawan, setidaknya 50 truk Batalion Benteng Raider Kodam menjemput suporter. Sebatalion pemukul andalan Kodam diperlukan selain kawalan Brimob dengan kekuatan penuh. Ini Grobogan mas… tukas teman saya.

Dari kejadian itu ada dua hal yang saya tangkap. Pertama membuktikan betapa kuat rezim PSSI ini menguasai media. Seingat saya Kompas baru menulis kejadian ini senin pagi, detik, tribun, okezone juga sama. Berita yang sungguh terlambat setelah pengepungan selama 15 jam. Berita korban juga simpang-siur, tapi teman saya meyakinkan korban jiwa berjatuhan dan jumlahnya puluhan. kata dia Grobogan kompak, seluruh komponen turun. Ini kejadian besar, bahkan jika sempai berita ini bocor secara internasional jelas membawa dampak buruk.

Dan saya yakin ini kejadian bukan terkahir kali, karena… DENGAN PASTI SAYA TUNJUK ISL BIANG KELADINYA !!!!

Sepakbola, sekarang telah menjadi sportaiment. Hiburan yang memuat oleh raga sebagai dagangan. Sebagai komoditas dagangan, ada pangsa pasar yang menjadi target pasaran. Dan siapa target pasaran Sepakbola ISL? Target pasar yang disasar masih di level pemuda pemula dengan solidaritas-emosional tinggi (seperti beberapa kompasioner yg membanggakan diri aremania karena berani berkelahi). Pangsa pasar ini memang menghasilkan penonton yang fanatik dan hingar-bingar sayang tanpa kemampuan finansial yang cukup. Harga tiket menonton dibuat murah, yang penting ramai.

Dengan pangsa pasar ini yang diambil, dampak apa yang diharapkan?

Secara finansial kita bersama mengetahui krisis keuangan klub-klub sepakbola INA. Penonton boleh penuh, tapi penghasilan tiket sangat tidak menutup. Sepakbola menjadi pesta akhir pekan, pesta hura-hura yang tanpa makna. Teriakan-teriakan mereka yang tidak bisa berteriak di ruang-ruang karaoke. Saluran kebringasan setelah menempuh hari-hari keras.

Pemain menjadi korban pertama sistim ini. Gaji yang mengharapkan jasa baik broker-broker mafia judi, ataupun jasa baik tuan rumah. Sportifitas sudah tidak mejadi nafas. Sekarang jualanya Fanatisme bukan Sportifitas. Dan siapa yang menikmati sistim ini?

pertama para elit. Karena demokrasi kita demokrasi massa, demokrasi baliho, kerumunan massa menjadi dagangan yang strategis. Pemilik klub dianggap juga memiliki suporter. Demokrasi keblinger.

Kedua pekerja balik meja sepakbola. Mereka bisa menggorang hasil pertandingan, tranfer pemain, proposal bantuan KONI, Wasit-hakim garis, Perjudian liar, kartu kuning-merah atau skorsing, tiket gelap, jatah tiket, dll.

Yang menjadi korban jelas pemain, penonton-pemerhati (suporter kadang bukan penonton, mereka sibuk bernyanyi atau mengibarkan bendera saja), dan Rakyat INA yang mestinya punya timnas yang mumpuni, yang mustinya bangga menjadi warga INA.

Mustinya ISL sebagai operator liga meningkatkan levelnya. mengalihkan jualan Fanatisme menjadi Jualan Sportifitas seperti arahan AFC 2008 silam. Menjaring penonton-penonton berkualitas, menempatkan sepakbola sebagai hiburan keluarga yang aman dan sehat. Memastikan tiket bernomor kursi dengan fasilitas stadion yang memadahi, jaminan keamanan dan hiburan. Menempatkan perangkat pertandingan yang adil, pemain-pemain yang berkualitas, dan tegaknya aturan yang khas sepakbola, keras dan tanpa kompromi.

Belajarlah dari Inggris setelah tragedi heysell. Suporter Inggris jaman itu sangat liar karena adanya tribun gratis yang diisi pemuda-pemuda mabuk. Tidakah kita mau memperbaiki diri ? Harusklah kita dihajar lebih kersa lagi ? mustikah berjatuhan nyawa lebih banyak lagi? semoga tidak (tapi geromboan itu memang terlalu kuat….)

salam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah 5 Butir Penting Putusan MK atas …

Rullysyah | | 21 August 2014 | 17:49

MK Nilai Alat Bukti dari Kotak Suara …

Politik14 | | 21 August 2014 | 15:12

Sharing Profesi Berbagi Inspirasi ke Siswa …

Wardah Fajri | | 21 August 2014 | 20:12

Meriahnya Kirab Seni Pembukaan @FKY26 …

Arif L Hakim | | 21 August 2014 | 11:20

Haruskah Semua Pihak Menerima Putusan MK? …

Kompasiana | | 21 August 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Dear Pak Prabowo, Would You be Our Hero? …

Dewi Meisari Haryan... | 5 jam lalu

Kereta Kuda Arjuna Tak Gentar Melawan Water …

Jonatan Sara | 6 jam lalu

Dahlan Iskan, “Minggir Dulu Mas, Ada …

Ina Purmini | 7 jam lalu

Intip-intip Pesaing Timnas U-19: Uzbekistan …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Saya yang Memburu Dahlan Iskan! …

Poempida Hidayatull... | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: