Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Hery

Banyak baca dapat menambah cakrawala pola pikir kita....suka bola & balap..he..he

Aksi Rumaropen dan Arti Sebuah Kejujuran dalam Sepakbola Indonesia.

OPINI | 27 April 2013 | 19:52 Dibaca: 1100   Komentar: 7   1

1367066305766219959sumber foto : www.bolaindo.com


Ramainya pemberitaan mengenai apa yang dilakukan Pieter Rumaropen dengan aksinya melakukan pemukulan terhadap wasit Muhaimin pada saat laga antara PBR dengan Persiwa, membuat kita bertanya-tanya mengenai arti dari kejujuran kalau kita mau jujur dalam melihat kasusnya.

Adapun apa yang dilakukan Pieter Romaropen adalah merupakan fakta suatu kesalahan yang telah dilakukannya dan juga sudah selayaknya menerima konsekwensi dari apa yang sudah dilakukannya itu, terlepas dari alasan pembenaran yang dicari-cari.

Bahwa pemukulan terhadap wasit sudah seharusnya dianggap kesalahan terberat buat si pemain kalau kita mau memulai sesuatu menuju sepakbola Indonesia Yang bersih dan sesuai dengan moto dari FIFA yang dalam setiap memulai suatu pertandingan sepakbola diwajibkan mengusung bendera “Fair Play”.

Dan terkait dengan itu tindakan komisi disiplin PSSI yang menjatuhkan hukuman larangan seumur hidup bagi Pieter Rumaropen. Merupakan hal yang sangat positif untuk persepakbolaan Indonesia kedepan dimana PSSI berharap dengan kejadian ini semoga bisa menjadi pembelajaran buat pemain lainnya agar kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi. Seperti yang disampaikan kamisi disiplin PSSI,

“Kami telah memutuskan jika Pieter Romaropen melakukan tindakan buruk sekali dan dihukum seumur hidup.” Ungkap Ketua Komdis PSSI, Hinca Pandjaitan.

“Wasit dipukul hingga tidak bisa melanjutkan tugasnya. Maka, sanksi tegas kita berikan meski pemain yang bersangkutan tidak kami panggil dalam sidang.” Jelasnya.

Adapun pelajaran yang didapat Indonesia dengan kejadian ini, yang ternyata kejadian ini diluar dugaan menjadi berita besar berbagai media baik lokal maupun International sehingga Indonesia kembali menjadi sorotan dunia International mengenai persepakbolaannya setelah sebelum ini kita dihebohkan dengan kasus Diego Mendieta pemain asal paraguai yang meninggal dunia dengan meninggalkan berbagai persoalan bagi persepakbolaan Indonesia.

Padahal kalau disadari sebagai pemain professional tentunya Pieter menyadari melakukan aksi pemukulan terhadap pemain lain/lawan pasti ada sangsinya, apa lagi melakukan pemukulan terhadap wasit yang merupakan hal yang sangat fatal bagi seorang pemain professional,  seperti yang disampaikan pemain PBR, Gaston Castano yang sempat berdiskusi di dalam lapangan.dengan pieter  “Saya memang dekat dengan Gaston. Dia mengatakan, emosi boleh tapi kenapa sampai memukul wasit? Saya sangat menyesal setelah peristiwa kemarin,” tutur Rumaropen.

Terlepas dari Pieter Rumaropen menyesali perbuatannya melukai wasit Muhaimin, dan mengaku tidak berniat untuk melayangkan pukulan ke wajah wasit. Tapi sekali lagi “Maaf” kalau kita melihat tayang ulang kejadian pemukulan wasit Muhaimin di sini. siapa yang bisa menyangkal itu bukan kesengajaan …..??? sangat jelas terlihat Pieter yang berlari dari arah belakang wasit menghampiri sembari melayangkan tinjunya ke wajah Muhaimin (sangat jelas terlihat sasarannya adalah muka wasit…???)

Disinilah dituntut arti sebuah kejujuran sebagai pemain sepakbola profesional yang menggantungkan hidupnya dari Sepak bola, seharusnya tentu lebih berfikir akibat dari perbuatan, dimana sepakbola menyangkut masa depannya dan kehidupannya sebagai mata pencaharian dibanding hanya mengandalkan emosi yang akan membunuh karir dan mata pencahariannya.

Jadi kalau boleh kita jujur untuk bicara sepak bola Indonesia kedepan,  seharusnya kita mendukung tindakan komisi disiplin PSSI terlepas dari kesan yang agak mengagetkan dan sangat cepatnya keputusan ini diambil tampa menunggu penjelasan atau pembelaan dari Pieter, namun hal ini sangatlah wajar apa lagi beritanya sampai menarik perhatian media international justru kalau tidak segera ditindak lanjuti PSSI akan mengakibatkan semakin memperburuk citra PSSI dimata dunia.

Dari uraian diatas seperti kita ketahui semuanya sudah terjadi dan sudah selayaknya Pieter menerima konsekwensi dari aksinya sekaligus pembelajaran buat pemain sepakbola professional di Indonesia  lainya semoga di kemudian hari kita tidak akan melihat hal seperti ini terjadi lagi.

Sekali lagi tulisan ini bukan mencari pembenaran buat keputusan yang diambil Komisi disiplin PSSI melainkan marilah kita sama-sama menjunjung tinggi “Fair Play” sebagai moto Persepakbolaan Dunia, disamping itu supaya kedepan kita berharap Komisi disiplin dapat bertindak sesuai aturan yang ada tampa terpengaruh tekanan dari berbagai pihak dan media manapaun, dengan demikian dapat memberikan sangsi yang sesuai/setimpal dengan kesalah sipemain.

Dengan harapan Semoga kedepan persepakbolaan Indonesia akan membaik citranya di mata dunia International bahwa kita mampu menunjukan sikap yang menjunjung tinggi Fair Play.

Borneo 27 April 2013

Salam Olah Raga

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Remaja di Moskow Juga Suka Naik ke Atap KRL …

Lidia Putri | | 01 August 2014 | 19:28

Yuk Kenali Serba-serbi Njagong …

Giri Lumakto | | 01 August 2014 | 23:14

Apakah ‘Emoticon’ Benar-benar Jujur? …

Fandi Sido | | 01 August 2014 | 18:15

“Tak Sempurna Hanya Tanpa …

Jarjis Fadri | | 31 July 2014 | 08:41

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Koalisi Merah Putih Tetaplah Merah Putih, …

Hanny Setiawan | 11 jam lalu

Jokowi Belum Dilantik, PKB Sudah Nagih Jatah …

Ikhlash Hasan | 11 jam lalu

Libur Lebaran, Bertemu Bule dan Supir Isteri …

Hendry Sianturi | 16 jam lalu

Membuat Tanda Salib di Pusara Ir. Soekarno …

Kosmas Lawa Bagho | 16 jam lalu

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: