Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Joseph Tertia

John De Britto College Yk student '014. Ingin merambah dunia jurnalistik, mohon bantuannya :)

Akhir Jaman Barca, Awal Jaman Munchen

OPINI | 24 April 2013 | 12:48 Dibaca: 616   Komentar: 0   0

Sebut saja AC Milan, Liverpool, Real Madrid, Manchester United. Klub-klub tersebut pernah mendominasi jalannya kompetisi Eropa pada masa kejayaannya. Tapi kian berjalannya waktu klub-klub tersebut kandas dan munculah dominan baru, FC Barcelona. Barca bisa dikatakan klub nomor 1 di dunia, tapi sepertinya ada yang mengusik takhta Barcelona sebagai klub nomor 1 saat ini. Klub yang telah sekian lama menantikan title raja Eropa, FC Bayern Munchen.

FC Barcelona mulai mendominasi di Eropa sejak Pep Guardiola mengambil alih kursi manajer menggantikan Frank Rijkaard pada tahun 2008. Pada musim pertama Pep menjadi manajer, Barcelona menyabet treble (tiga gelar), Liga Champions, Copa del Rey, dan Juara La Liga. Secara keseluruhan Barcelona di bawah manajerial Pep berhasil mendapatkan 14 gelar titel ( 2 Liga Champion, 3 gelar La Liga, 2 gelar Copa del Rey, 3 Super Cup, 2 UEFA Super Cup, 2 FIFA Club World Cup)
Guardiolalah yang bertanggung jawab atas permainan indah ala tiki-taka Barcelona bersama Johan Cruyff, sang pencipta Total Football. Permainan tiki-taka & total football inilah yang membawa Barcelona mendominasi di Eropa sekian lama. Ditambah lagi kehadiran Lionel Messi, sang pemain terfenomenal dalam abad ke-21, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, David Villa, dan Gerard Pique. Semua hal tersebut menjadikan Barca salah satu tim ageng yang patut disegani.
Namun segala sesuatu punya masanya. Pada semifinal Liga Champion musim 2011/2012, Barcelona bertemu dengan Chelsea FC. Chelsea saat itu baru saja memecat manajer barunya, Andre Villas-Boas, dan Roberto Di Matteo adalah pelatih sementara bagi Chelsea. Favorit pemenang dalam laga ini jelas FC Barcelona. Dari segi pemain, pelatih, permainan, dan dari rekor pertandingan Barca menang di atas kertas. Tapi, bola memang bundar. Fakta berkata lain, Barca kalah dalam leg 1 di Stamford Bridge oleh gol tunggal Didier Drogba. Kemudian imbang pada leg 2 di Camp Nou. Barca tersingkir dari Liga Champion oleh tim underdog, Chelsea. Formula untuk mengatasi tiki-taka pun ditemukan oleh Di Matteo dengan taktik defensive & quick counter.
Musim 2012/2013, Barca memperkenalkan manajer barunya Tito Vilanova. Berkenaan dengan berhentinya Pep Guardiola memanajeri klub Catalunya ini. Tito mengawali paruh musim dengan baik, memuncaki La Liga meninggalkan Real Madrid, rival abadi Barca. Sayangnya Tito harus menjalani perawatan medis karena kanker pada Maret kemarin.
Barca mulai kehilangan sentuhannya saat dipencundangi AC Milan pada leg 1 perdelapan final Liga Champions di San Siro 2-0, kemudian pada leg 2 Barca membalas 4-0 sehingga Barca melaju ke babak selanjutnya. Kemudian di Copa del Rei kalah 3-1 atas Real Madrid dan 1-2 di La Liga. Walau masih memuncaki La Liga, namun dua kali kekalahan melawan Madrid menunjukkan goyahnya dominasi Barca. Titik puncak mulai hilangnya dominasi Barcelona ialah kemarin saat melawan FC Bayern Munchen. Barca mendominasi posesi pertandingan, tapi Barca kalah telak 4-0 atas Munchen di Allianz Arena. Kekalahan ini jelas memperpanjang rekor buruk Barca melawan klub-klub besar. Rekor Barcelona di musim 2012/2013 melawan klub-klub besar bisa dikatakan buruk dibandingkan dengan saat Barca bersama Pep.

Di lain pihak, FC Bayern Munchen kini mulai meroket sejak musim lalu tanpa gelar. Jupp Heynckes menggaet pemain-pemain muda berbakat seperti Xerdan Shaqiri dari FC Basel, Javi Martinez dari Atlethic Bilbao, dan bek kribo Brazil Dante. Di paruh awal musim, Bayern Munich telah memimpin puncak klasemen tanpa dapat dikejar oleh Borussia Dortmund, sang juara liga jerman musim lalu. Bahkan Bayern kini telah positif menjuarai Bundesliga musim ini, karena Dortmund di posisi kedua berselisih 20 poin dan tak mungkin mengejar Munchen walau Munchen kalah di fixture tersisa. Di kancah liga champion sendiri perjalanan Munchen cukup lancar, mengalahkan Arsenal dan Juventus. Munchen mempermalukan Arsenal di Emirates Stadium dengan skor 1-3. Arsene Wenger mencoba bangkit dengan Arsenal mengalahkan Munchen 0-2 di Allianz tapi itu tidak cukup untuk meloloskan Theo Walcott dkk ke perempat final, skor agregat 3-3 untuk kelolosan Munchen (menang gol tandang). Di perempat final Munchen bertemu Juventus, Nyonya Tua dari Itali yang juga difavoritkan menjuarai liga Champions. Namun, mimpi Juve kandas kala dipencundangi Munchen 2-0 baik di Allianz dan di Turin, skor agregat 4-0 untuk Munchen. Dan terakhir ini melibas Barcelona empat gol tanpa balas di Allianz. Dengan skor 4-0 di leg 1 untuk keunggulan Munchen, hampir mustahil bagi Barca untuk membalik keadaan. Munchen juga memiliki rekor gol yang fantastis, dalam 15 pertandingan terakhir anak asuhan Heynckes mampu mencetak total lebih dari 50 gol.

Akankah dominasi Barcelona berakhir seperti ini? Dan apakah Munchen yang kan menggantikan Barca mendominasi Eropa? Inilah awal jaman Munchen dan akhir jaman Barcelona.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

Sensasi Menyelam di Tulamben, Bali …

Lisdiana Sari | | 21 November 2014 | 18:00

Kami Hadir di Kompasianival …

Hibah Buku | | 21 November 2014 | 17:54

Jadi Perempuan (Tak Boleh) Rapuh! …

Gaganawati | | 21 November 2014 | 15:41

Kompasiana Akan Luncurkan “Kompasiana …

Kompasiana | | 20 November 2014 | 16:21


TRENDING ARTICLES

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Rakyat Berkelahi, Presiden Keluar Negeri …

Rizal Amri | 9 jam lalu

Menteri Hati-hati Kalau Bicara …

Ifani | 9 jam lalu

Pernyataan Ibas Menolong Jokowi dari Kecaman …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu

Semoga Ini Tidak Pernah Terjadi di …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: