Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Muhammad Olga Abdella

Jurnalistik Unpad 2010 Jendral North Legion Ultras Persita

Perempuan, Sepakbola dan Pelecehan

REP | 22 April 2013 | 10:06 Dibaca: 539   Komentar: 1   1

Oleh :Muhammad Olga Abdella

Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad 2010

Pencinta sepakbola Indonesia

Sepakbola, olahraga yang sudah ada sejak dinasti Han di China pada abad ke 2 dan 3 sebelum masehi ini sangat populer di kalangan kaum pria. Olah raga yang kemudian berkebang di inggris pada tahun 1365 masehi ini mempunyai daya tarik sendiri dari sisi aturan, permainannya, Pemainya. Ya olahraga yang identik dengan laki-laki ini sekarang sudah mendunia dan tidak hanya di gemari oleh laki-laki tetapi juga digemari oleh kaum hawa.

Tren seperti ini semakin berkembang di indonesia semenjak awal 2000-an. Bagaimana sepak bola booming dan berubah menjadi “Hollywood of Football”. Bak artis dilayar kaca, para pemain membuat daya tarik lewat skill yang mereka punya, ketampanan, Tubuh yang atletis, dan gaya hidup yang mewah. Hal ini membuat kaum hawa menjadi menyukai sepakbola, bahkan jatuh cinta dengan sepakbola.

Salah satu perempuan yang menyukai sepakbola adalah Willys Nenden Pembayun. Gadis asal Tangerang ini sangat mencintai Persita Tangerang dan Real Madrid. Ia sangat maniak sekali dengan sepakbola walaupun tidak bisa bermain sepakbola. Gadis kelahiran 8 oktober 1994 ini mengaku keturalan ayahnya yang suka sepak bola.“aku suka atmosfir saat berada di stadion, aku suka semua yang berhubungan degan bola” Ujar willys.

Selain karena atmosfer sepakbola yang seru, willys pun berpendapat bahwa pemain sepakbola juga menarik kaum hawa untuk menyukai sepakbola. “gak munafiklah,aku cwek . Suka bagnt sama cowok yang berkeringat, dan aku lihat ada di seorang pemain bola. Mungkin dari face dan skillnya juga, normal kan?” lanjut willys sambil tersenyum.

Pelecehan Seksual Di Stadion

Banyaknya perempuan yang datang ke stadion, membawa nuasa baru pada sepakbola. Sepakbola yang identik dengan Olahraga kaum Adam menjadi berubah menjadi Olahraga yang digemari Pria ataupun wanita. Namun ada paradigma yang berkembang di masyarakat Indonesia, Perempuan jangan pergi ke stadion karena banyak gangguan dari pria. Paradigma ini sangat kuat dimana perempuan seperti tidak dihargai saat berada di stadion.

Hal itu pun diamini oleh Willys, ia juga merasakan hal tersebut selama ia menonton sepakbola di stadion. “kalau di stadion kayaknya perempuan itu kurang dihargai. Kayak cuma jadi penghias stadion aja gtu, jadi cowok itu suka bersikap yg ga bermoral di stadion.” Tandas Willys.

Paradigma seperti ini sulit untuk dihapuskan. salah satu penikmat sepakbola, Rana Akbari Fitriawan ada banyak faktor mengapa Paradigma tersebut terus ada. “Kultur, situasi dan kondisi keamanan di tempat pertunjukkan, frame berpikir sebagian besar laki-laki terhadap perempuan juga termasuk.” Ujar Rana. Faktor tersebut yang biasa terjadi di stadion membuat perempuan menjadi berfikir dua kali untuk mendukung di stadion.

Pelecehan terhadap perempuan yang selama ini terjadi biasanya mulai dari pelecehan fisik sampai perkataan. “bukan pelecehan terhadap sikap aja loh. Tapi secara lisan juga, ya seperti diejek-ejek atau dihina degan Perkataan yg gak pantes” ungkap willys.

Tidak bisa dipungkiri walaupun Paradigma tentang perempuan ke stadion akan tidak aman dan nyaman tidak membuat perempuan takut untuk ke stadion. Selama ini kita sering melihat banyak pula wanita yang tetap hadir ke stadion tanpa mempedulikan Paradigma tersebut.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegah tersebut. Bisa dengan membuat tribun khusus perempuan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. namun hal tersebut sepertinya agak sulit untuk dilakukan, mengingat belum ada data statistik mengenai jumlah penonton wanita yang hadir di stadion. Hal itu membuat tim harus berfikir dua kali, karena sepakbola di indonesia sekarang ini sedang mengarah ke sepakbola industri. Bisa jadi hal itu menyebabkan menjadi penurunan pendapatan untuk tim. Hal itu pun diamini oleh Rana “saya sih ga setuju karena itu bisa memisahkan suami istri yang mau nonton bareng, ibu dan anak, ayah dan anak perempuannya.itu kan konsepnya sama dengan bis atau gerbong khusus perempuan” ujar Rana.

Namun hal tersebut tidak menutup kemungkinan adanya tribun perempuan, melihat animo perempuan saat ini sangat besar untuk datang ke stadion. Untuk merubah paradigma tersebut ada beberapa hal yang harus dilaksanakan. Kembali kepada masing-masing penonton, dari masing-masing kembali kepada niatan dan sikap atau attitude diri sendiri. Selalu menjaga norma kesopanan yang ada. Terutama untuk kaum adam harus menjaga sikap dan menghargai kehadiran perempuan yang datang ke stadion. Selain itu, aparat pun harus bertindak tegas kepada orang yang melakukan pelecehan didalam stadion. Stadion adalah milik bersama, perempuan dan laki-laki bisa mendukung timnya secara langsung. perempuan pun harus menjaga sikap dan norma, bagaimana cara mereka berpakaian, tidak perlu memakai pakaian mini ataupun serba ketat yang mengundang laki-laki untuk berbuat yang tidak diinginkan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Simpang-Siur Makna “Politikus” …

Nararya | | 30 July 2014 | 00:56

Di Timor-NTT, Perlu Tiga Hingga Empat Malam …

Blasius Mengkaka | | 30 July 2014 | 07:18

Jalan-jalan di Belakangpadang …

Cucum Suminar | | 30 July 2014 | 12:46

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Materi Debat Prabowo yang Patut Diperhatikan …

Bonne Kaloban | 7 jam lalu

Cabut Kewarganegaraan Aktivis ISIS! …

Sutomo Paguci | 10 jam lalu

Presiden 007 Jokowi Bond dan Menlu Prabowo …

Mercy | 10 jam lalu

Dua Kelompok Besar Pendukung Walikota Risma! …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Pemerintahan Ancer-ancer Jokowi-JK Bikin …

Hamid H. Supratman | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: