Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Anggara Gita

100% Indonesia, 100% Katolik, Plural, Internazionale Milan, The Beatles, Reggae, cerewet Lisan-Tulisan, dan Canda. @cekinggita

Sepakbola, Olahraga yang Menggambarkan Keberadaan Tuhan

OPINI | 21 April 2013 | 20:58 Dibaca: 449   Komentar: 0   0

Sumber Foto : http://kusederhanakan.wordpress.com/2013/03/17/saya-dan-sepakbola/

Sumber Foto : http://kusederhanakan.wordpress.com/2013/03/17/saya-dan-sepakbola/

Entah berapa tahun yang lalu, saya membaca sebuah artikel mengenai sepakbola dan hubungannya dengan Tuhan. Seingat saya, artikel tersebut bercerita mengenai sepakbola dari sudut pandang Gus Dur. Maaf jika saya salah, karena memang tulisan tersebutĀ  sudah lama sekali.

Singkatnya, pada tulisan tersebut dijelaskan bahwa Gus Dur menganggap sepakbola adalah olahraga yang paling mencerminkan keberadaan Tuhan. Bola pada lapangan hijau digambarkan seperti sosok Tuhan. Bola adalah poros pergerakan para pemain. Kemanapun bola bergerak, maka para pemain akan bergerak menyesuaikan posisi bola. Seperti halnya Tuhan pada kehidupan di dunia. Kita menjadikan Tuhan sebagai poros pergerakan kehidupan kita.

Saya setuju akan hal ini. Saya juga merasa sepakbola adalah olahraga yang mencerminkan kebaradaan Tuhan, tanpa mengecilkan cabang olahraga yang lain. Voli, basket, atau sepak takraw terlalu sedikit jumlah pemain dalam 1 timnnya dan lagipula tidak sepopuler sepakbola. Saya menganggap tim/klub sepakbola adalah agama dari para pemain-pemainnya.

Ada begitu banyak klub di berbagai belahan dunia dengan begitu banyak pemain yang ada didalamnya. Mereka berpindah dari satu klub ke klub yang lain. Berbeda warna kulit, rambut, dan bentuk fisik, namun tergabung dalam 1 klub. Persis sepeti agama, tidak pandang bulu. Banyak yang berpindah dari satu agama ke agama lainnya. Setiap klub membutuhkan pelatih, sama seperti agama denganĀ  para imamnya.

Banyak klub dan pemain, namun tetap satu poros, yaitu bola. Satu tujuan, kemenangan. Dalam hidup pun demikian, ada banyak agama dengan begitu banyak jenis fisik manusianya, namun satu poros, yaitu Tuhan. satu tujuan, kedamaian di bumi dan akhirat.

Dalam sebuah pertandingan sepakbola, kerap terjadi perselisihan. Permainan keras yang berakibat adu fisik, adu mulut, dll pasti terjadi. Begitu juga dalam kehidupan di dunia, kita pasti melakukan ini. Ada banyak oknum yang menodai sepakbola secara umum atau si klub. Dalam kehidupan, kita sering melihat ada oknum yang hendak menodai keagungan Tuhan dan merusak kekuatan agama sebagai media mendekati Tuhan.

Sepakbola adalah olahraga yang sangat populer. Olahraganya masyarakat diseluruh dunia. Hampir semua dari kita suka menyaksikan dan bermain sepakbola. Idealnya semakin kita menggemari sepakbola maka semakin kita dekat dengan Tuhan. Jangan sampai malah kita menciderai nilai-nilai keTuhanan yang terpancar dari sepakbola.

Semakin banyak yang menyukai sepakbola, seharusnya membuat bumi semakin damai. Mungkin inilah yang menyebabkan Indonesia semakin carut marut. Karena kita tidak bisa menghargai sepakbola. Iya, ga?

@cekinggita

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

FEATURED ARTICLE

HEADLINE ARTICLES

Bisa Ke Brasil Karena Beruntung dan Suka …

Iskandarjet | | 10 July 2014 | 13:56

Retribusi Sampah Masih Manual …

Cucum Suminar | | 10 July 2014 | 14:24

Ridwan Kamil Pun Menggunakan LAPOR! Untuk …

Yelna Yuristiary | | 10 July 2014 | 11:28

Bea Kirim Buku dari Jerman ke Seluruh Dunia …

Gaganawati | | 10 July 2014 | 16:05

Tantang Isjet di Kompasiana RC Traveller …

Kompasiana | | 07 July 2014 | 17:03


TRENDING ARTICLES

Melihat Pilpres 2014, Masyarakat Etnis …

Muhammad | 4 jam lalu

Israel-Palestina: Bukan Konflik Agama? …

Muhammad Reza Zaini | 6 jam lalu

SBY Cepat Tanggap Sikapi Hasil Pilpres …

Solehuddin Dori | 13 jam lalu

Terkait Gaza, Stop Posting Gambar di Media …

Auda Zaschkya | 13 jam lalu

Saya Pernah Jadi Pengurus Partai, Timses …

Omtri | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: