Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Pesa Pesa

manusia biasa

(Profil) La Nyalla Mattaliti, Antara Premanisme dan Paranormal

REP | 18 April 2013 | 06:37 Dibaca: 2937   Komentar: 19   1

La Nyalla Mattaliti (sumber gambar: celebes online)

La Nyalla Mattaliti (sumber gambar: celebes online)

Kisruh sepakbola Nasional 2 tahun terakhir melahirkan sosok “fenomenal” di Indonesia. Namanya semakin melejit seiring terpilihnya dia sebagai Ketua umum PSSI versi Ancol yang diselenggarakan oleh KPSI. Dalam setiap konferensi pers maupun diskusi tentang sepakbola, dia tanpa rasa malu sering memproklamirkan dirinya sebagai ketum PSSI menggantikan ketum PSSI yang sah, Djohar Arifin Husain. Dan saat ini, dia menjadi “public enemy” bagi Bonek karena ulahnya yang menyingkirkan dan menghilangkan klub kebanggaan kota pahlawan Surabaya dari peta sepakbola nasional pasca KLB 17 maret 2013.

Klub Persebaya 1927 yang pernah terkulai sakit akibat degradasi di era Nurdin Halid untuk menyelamatkan klub Pelita Jaya agar tetap eksis di kasta tertinggi sepakbola Indonesia, saat ini sedang terluka oleh ulahnya. Dialah sang waketum PSSI pasca KLB 17 maret merangkap ketum BTN dan anggota exco PSSI, La Nyalla Mattaliti (LNM).

Bagi pemerhati kisruh sepakbola nasional tentunya tidak asing dengan nama tersebut. Tapi bagi kompasianer yang tidak suka bola atau bukan pemerhati kisruh bola indonesia, tentunya tidak semuanya mengetahui siapakah La Nyalla tersebut. Agar lebih kenal dengan sosok yang satu ini, pada kesempatan kali ini, penulis sengaja menulis khusus biografi singkat La Nyalla Mattaliti atau biasa disingkat LNM.

LNM sebenarnya baru berkecimpung di organisasi sepakbola, 2 atau 3 tahun terakhir ini tepatnya tahun 2011 ketika menjabat sebagai Ketua Pengprov PSSI Jawa Timur. Setahun sebelumnya tahun 2010, dia menjabat sebagai Wakil Ketua KONI Provinsi Jawa Timur. Dan sepakbola tentunya merupakan salah satu bagian dari olahraga yang dikelola KONI. Pada tanggal 18 Maret 2012, LNM semakin mengukuhkan dirinya terlibat dalam kisruh sepakbola Indonesia ketika terpilih sebagai ketua umum PSSI versi Ancol pada Kongres Luar Biasa (KLB) yang digelar Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI). Sebenarnya, kebanyakan organisasi yang dikelolanya terkait masalah kepemudaan atau kepartaian dan yang terkait dengan bidang pendidikannya yaitu Teknik Sipil.

Pria yang lahir di jakarta, 10 Mei 1959, terkenal dengan motonya “Sekali Layar Terkembang, Pantang Surut Ke Belakang” dalam usahanya merebut PSSI. Oleh karena itu, ketika dia berjuang menguasai PSSI selama kurun 2 tahun terakhir, dia tidak kenal lelah dan sangat gigih. Terus maju untuk melawan PSSI yang sah, terus merongrong PSSI yang sah, lawan terus PSSI yang sah, jika ada peluang hajar dan kuasai PSSI yang sah. Intinya, tutup telinga, pasang muka badak, dan tutup mata terhadap orang yang kontra dengannya asal PSSI bisa dikuasai.

Dalam sebuah autobiografi tentangnya yang penulis kutip dari sini, namanya tersohor dengan premanisme-nya, sehingga sebagian orang mungkin merinding mendengar nama La Nyalla Mattalitti. Lelaki keturunan Bugis ini memimpin organisasi pemuda Patriot Pancasila, yang disegani sejak Orba karena sepak terjangnya yang melekat selama ini. Nyalla berusaha mendekatkan diri dengan buku yang merekam perjalanan hidupnya dalam Hitam Putih yang ditulis budayawan Sam Abede Pareno. Buku itu diluncurkan, Minggu (10-5-2009), di RM Taman Sari sebagai kado ulang tahunnya yang ke-50. Sejumlah tokoh hadir di antaranya Khofifah Indarparawansa, anggota DPRD Jatim, Sabron Djamil Passaribu, Pemred Harian Surya, Rusdi Amral.

”Begitu mengenal lebih dekat maka bayangan kita tentang dia buyar,” kata Komisaris Utama PT Indraco, MT Junaedy dalam kesaksiannya di buku biografi ini. Buku setebal 115 halaman ini merekam jejak Nyalla.

Dia dikenal bengal. Nyalla kecil kerap membuat ribut, pernah membawa sangkur untuk berkelahi, begitu bengalnya sampai orang tuanya langganan dipanggil guru BP. Supaya jera, Nyalla sempat dipondokkan ke Bekasi yang ternyata tidak awet. Namun kelak dia rindu dan kembali ke pondok itu saat remaja.

Kakeknya, Haji Mattalitti adalah saudagar Bugis-Makassar terkenal di Surabaya. Bapaknya, Mahmud Mattalitti SH adalah dosen Fakultas Hukum Unair yang pernah menjabat sebagai Pembantu Dekan FH Unair. Namun menurut buku ini Nyalla tidak pernah menggunakan nama besar dan kekayaan keluarganya dalam hidupnya. Menginjak dewasa, dia memilih “nyantri” dan tinggal di kompleks Makam Sunan Giri Gresik.

Dia bekerja serabutan. Pernah menjadi sopir angkot Wonokromo-Jembatan Merah dan sopir minibus L300 Surabaya-Malang. Sampai menikah pun nasibnya tidak berubah. Di kompleks makam wali ini, dia menghimpun banyak preman diajak “mendekatkan diri” kepada-Nya (?). Hasilnya dia memiliki ratusan pengikut yang setia sampai kini.

Namun buku ini tidak menjelaskan bagaimana LNM bisa mengenal banyak preman itu. Dia hanya menjelaskan punya kemampuan pengobatan alternatif alias paranormal. Keahlian ini diasah sejak di ponpes di Bekasi. Pasiennya mulai orang pinggiran sampai dosen. Namun karena emoh dicap dukun, Nyalla tidak praktik lagi. ”Kalau Anda melihat saya seperti sekarang, itu karena tekad saya bulat. Kerja sungguh-sungguh,” kata pengusaha konstruksi ini.

Dia mengatakan titik awal sebagai pengusaha adalah kisah nekadnya membuat pameran kreativitas anak muda tahun 1989. Pameran yang disokong PT Maspion itu bangkrut Rp 180 juta gara-gara tidak ada peserta. Di sinilah Nyalla mempertaruhkan hidup dan namanya. Dia dikejar-kejar penagih hutang. Kerugian itu begitu memukul, bahkan Nyalla yang sempat akan ‘lempar handuk’ dan bersedia mengangsur Rp 250.000 per bulan. Dia melobi Maspion lagi, meminta sponsor senilai Rp 5 juta untuk menggelar pameran. Kelak pameran ini dikenal dengan nama Surabaya Expo. Kegiatan yang berlangsung sejak 1990 itu berkibar dan menjadi agenda tahunan sampai 2001. Di sinilah dia dikenal banyak pengusaha dan birokrat. “Kalau saya mundur pada 1989 lalu. Saya tidak akan seperti sekarang,” katanya.

Sampai disini kutipan dari buku autobiografinya yang penulis ambil dari tribunnews.com. Jika ada versi lain yang berbicara tentang biografinya, silahkan merujuk kesana. Disini hanya ditulis dari apa yang pernah dia ceritakan sendiri.

Kalau saat ini La Nyalla terlihat arogan dan “bengis” terhadap mereka yang kontra dengannya seharusnya sudah tidak aneh lagi karena dari cerita diatas sudah terlihat kontroversi LNM sejak kecil dan dia sudah terbiasa dengan dunia preman ketika dewasanya. Semoga sedikit cerita diatas, kompasianer yang belum mengenal sosoknya minimal sekarang sedikit mengetahui tentang sepak terjangnya sebelum dia berkecimpung di kisruh sepakbola Indonesia.

Tulisan ini ditutup dengan merangkum daftar organisasi dan riwayat pekerjaan yang pernah dipegang La Nyalla sehingga kita bisa mengetahui kapan La Nyalla terlibat di dunia sepakbola:

Pengalaman Organisasi

1993-Sekarang  : Ketua MPW Pemuda Pancasila Jawa Timur

1990-1994      : Bendahara GM KOSGORO Jawa Timur

1993-1996      : Bendahara DPD KNPI Jawa Timur

1995-1998      : Ketua HIPMI Jawa Timur

1995-1997      : Wakil Bendahara DPD Golkar Jawa Timur

2003-2008      : Ketua DPW Partai Patriot Pancasila Jawa Timur

2008-2013      : Ketua DPW Partai Patriot Jawa Timur

2005-Sekarang  : Ketua DPW Asosiasi Konsultan Indonesia(ASKONI) Jawa Timur

2001-Sekarang  : Ketua DPD Gabungan Pengusaha Kontruksi Nasional (GAPEKNAS)

2002-Sekarang  : Ketua DPD Asosiasi Tenaga Ahli Kontruksi Indonesia (ATAKI)

2009-Sekarang  : Ketua Umum Kadin Jawa Timur

2010-Sekarang  : Wakil Ketua KONI Provinsi Jawa Timur

2011-Sekarang  : Ketua Pengprov PSSI Jawa Timur

2011-Sekarang  : Anggota Komite Ekskutif PSSI

2012-Sekarang  : Ketum PSSI versi Ancol

2013-Sekarang  : Waketum PSSI hasil KLB 17 maret 2013

2013-Sekarang  : Ketua BTN (Badan Tim Nasional)

Riwayat Pekerjaan

1988-Sekarang  : Direktur Utama PT.Airlanggatama Nusantara Sakti

2009-Sekarang  : Komisaris Utama PT.Airlaggga Media Cakra Nusantara

2010-Sekarang  : Komisaris Utama PT.Pelabuhan Jatim Satu

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalahkan Norwich, Liverpool Kian Dekat …

Achmad Suwefi | | 20 April 2014 | 19:54

Ketagihan “Pecel Senggol” …

Hendra Wardhana | | 20 April 2014 | 16:01

Kebijakan Mobil LCGC Yang Akhirnya Membebani …

Baskoro Endrawan | | 20 April 2014 | 13:30

My Mother Is…? …

Salmah Naelofaria | | 20 April 2014 | 15:03

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 11 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 13 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 15 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 15 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: