Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Hery

Banyak baca dapat menambah cakrawala pola pikir kita....suka bola & balap..he..he

Dampak Unifikasi Liga 2014 yang Semakin Terasa…

OPINI | 14 April 2013 | 13:20 Dibaca: 1170   Komentar: 13   0

Carut marut persepakbolaan di Indonesia yang semestinya sudah berakhir dengan dicapainya kata sepakat untuk berdamai/bersatu sesuai dengan hasil dari apa yang diprakarsai Menpora pada tgl 27 Februari yang lalu, ternyata tidak ditindaklanjuti dengan sikap dewasa para petinggi sepakbola di Indonesia yang seharusnya bicara atas kepentingan persepakbolaan Indonesia kedepan dengan tampa memandang berasal dari pihak mana dan Liga mana sehingga semuanya bisa berjalan normal sampai berakhirnya masa kompetisi 2013.

Tapi semuanya itu tidak dilakukan sebagaimana mestinya kelompok yang dulu merasa tersingkirkan dan sekarang berkuasa yaitu dari KPSI ternyata masih bicara dengan dendam dan sakit hati yang mendalam atas kekecewaan masa lalunya sehingga bibit perdamainan itu dicederai dengan  keluarnya keputusan penyatuan Liga musim depan atau keputusan unifikasi liga yang sesuai perintah Mou Kuala lumpur. dimana sangat memperlihatkan hegemoni kekuasaan sebagai penentu kebijakan PSSI.

Sementara Djohar Arifin yang Ex pengurus lama yang diharapkan bisa untuk jadi penegah atau penetralisir keadaan supaya tidak menggangu keberadaan kompetisi saat ini yang sedang berlangsung,  malah terkesan membiarkan keadaan ini terjadi dan terlihat semakin kehilangan power dalam pengambilan keputusan,  walaupun masih berposisi sebagi Ketua Umum PSSI, tapi dari faktanya terlihat dengan jelas telah kehilangan semua hak dan kewenangan nya sebagai Ketua Umum.

Seperti pemberitaan hari ini,  sesuai schedule adalah laga Liga IPL antara Semen Padang Vs Persebaya 1927 yang terancam batal karena team Bajul Ijo telah menyatakan diri tidak bakal berangkat.

Pertandingan antara Persebaya 1927 vs Semen Padang yang rencananya sesuai dengan schedule akan digelar pada Minggu (14/04) di Stadion H. Agus Salim, Padang. Namun menurut  Media OfficerPersebaya Eko Yudhiono karena berbagai alasan terkait kondisi klubnya itu, laga tersebut dipastikan batal.

Penyebabnya antara lain menyangkut masa depan Persebaya 1927 yang berkompetisi di IPL menjadi tidak jelas gara-gara keputusan Kongres Luar Biasa PSSI pada 17 Maret lalu. Di kongres itu diputuskan bahwa penyatuan liga musim depan diikuti 18 klub ISL dan empat klub IPL.

Keputusan tersebut membuat gelisah Persebaya, sebab mereka mengalami dualisme klub, sedangkan PSSI melalui La Nyalla pernah menyatakan bahwa Persebaya yang diakui adalah yang saat ini bermain di Divisi Utama PT. Liga Indonesia. Padahal, Persebaya (IPL) bahkan masih tercatat di situs resmi FIFA sebagai anggota kompetisi federasi.

“Hingga kini kami memutuskan untuk tidak berangkat ke Padang. Karena pemain tidak lengkap, mereka kebanyakan saat ini sedang pulang karena melihat kondisi tim seperti ini,” kata Eko saat dihubungi, Sabtu (14/4/2013).

Dijelaskan Eko pihaknya telah mencoba membicarakan kepada PT. Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) untuk meminta laga tersebut diundur. Namun apabila diputuskan Persebaya kalah WO, Persebaya mengaku pasrah.

“Kami sudah minta kelonggaran, tapi belum ada jawaban. Pihak manajemen sendiri pasrah dengan putusan dari LPIS jika mereka nyatakan kita kalah WO.”

Sementara itu, Semen Padang yang sudah mengetahui kabar tersebut menyatakan diri tetap akan berangkat ke lapangan. Seperti yang disampaikan media Officer Semen Padang.

“Sampai saat ini tidak ada kontak dari siapa pun. Jadi bisa dikatakan panitia pertandingan tetap akan menggelar laga sesuai dengan aturan yang ada,” tuturnya.

“Kami tetap akan ke lapangan besok. Kami ikuti prosedur yang ada. Malam ini akan ada manajer meeting, jadi dipastikan pertandingan besok tetap dilaksanakan,” tutur Media Officer Semen Padang, Ronny Suhatril. (13/4/2013)

Ditambah lagi dengan apa yang terjadi sebelum ini yang dialami klub dari Liga IPL lainnya yaitu Persibo Bojonegoro yang kalah memalukan dari  Sunray Cave JC Sun Hei SC di ajang AFC  dengan skor 8-0, yang kalau kita mau jujur tak lepas juga dari imbas dan dampak dari unfikasi liga 2014 yang terburu-buru diumumkan pesertanya ke peserta Liga yang ada di Indonesia,  ditambah dengan kondisi keuangan Persibo yang memang lagi dilanda krisis keuangan.

Semoga dengan berbagai kejadian yang menimpa persepakbolaan Indonesia saat ini, bisa lebih menyadarkan para petinggi sepakbola sebagai pengambil keputusan untuk lebih bersikap dan mempertimbangkan untuk kemajuan persepakbolaan Indonesia kedepan yang lebih maju dan jauh dari konflik.

Perkembangan sepakbola Indonesia kedepan jauh lebih penting daripada memelihara kekisruhan dendam dan saki hati masa lalu.

Borneo 14 April 2013

Salam Olah Raga

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: