Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Pesa Pesa

manusia biasa

Motto La Nyalla yang Emang Yahud atau La Nyalla yang Ambisius?

OPINI | 09 April 2013 | 23:19 Dibaca: 1411   Komentar: 15   1

La Nyalla Mattaliti (LNM) memiliki motto yang sangat tidak asing bagi pemerhati kisruh sepakbola Nasional. Sejak sepak terjangnya dalam dunia sepakbola Indonesia 2 tahun terakhir, LNM sering “mendendangkan” mottonya dalam banyak konferensi persnya. “Sekali Layar Terkembang, Pantang Surut Ke Belakang”, itulah mottonya. Sebenarnya motto ini sangat bagus filosofi dan maknanya karena mengajarkan kita agar jangan pernah menyerah menghadapi kenyataan hidup atau untuk menggapai cita-cita tinggi dan mulia. Keterbatasan yang ada, tidak menyurutkan kita untuk terus maju dan bergerak kedepan.Tapi ketika motto ini dipakai oleh LNM, artinya jadi beda. Maju terus untuk melawan PSSI yang sah, terus rong-rong PSSI yang sah, lawan terus PSSI yang sah, jika ada peluang hajar dan kuasai PSSI yang sah. Intinya, tutup telinga, pasang muka badak, dan tutup mata terhadap orang yang kontra dengannya asal PSSI bisa dikuasai.

Diawal-awal perjuangannya, LNM membentuk KPSI sebagai wadah perlawanan terhadap federasi sepakbola yang sah di Indonesia yaitu PSSI. Dari wadah inilah perjuangan dimulai dengan memakai topeng “penyelamat” sepakbola Indonesia. Barang dagangannya adalah Turunkan Djohar dan Djohar harus mundur karena dia sudah melanggar kongres Bali, sebuah kongres “keramat” yang sudah disiapkan oleh Nurdin Halid sebelum dia lengser. Perjuangan dengan dagangan pelanggaran kongres Bali ternyata tidak bisa melengserkan Djohar dari ketum PSSI selama 2 tahun terakhir.

Tapi memang LNM benar-benar memegang motonya untuk pasang muka badak, tebal telinga dan tutup mata rapat-rapat, LNM terus bergerak untuk merongrong PSSI dengan menahan pemain ISL untuk bergabung dengan timnas dan mengancamnya dengan sanksi berat bagi yang nekad membela negaranya. Dengan didukung oleh kawan-kawannya yang pro status quo dan loyalis NH plus disupport kader-kader Golkar di DPR, membuat Menpora sulit untuk bersikap netral. Andi Mallarangeng tertawan, susah untuk bergerak dalam menegakkan kebijakannya, akhirnya mundur juga dari kursi menpora karena tekanan kasus Hambalang. Penggantinya yang sama-sama berkumis tebal juga ternyata “sami mawon” dengan pendahulunya. Padahal diawal-awal pengangkatan dirinya, terlihat “garang” dengan rencana action “Control-Alt-Del” kepada KPSI maupun PSSI. Tapi action tersebut menguap karena yang terjadi justru malah Roy Suryo sebagai menpora memberi jalan tol bagi LNM cs untuk menguasai PSSI melalui KLB 17 Maret.

Nasi sudah jadi bubur, dan buburnya sudah dimakan oleh LNM. Walaupun statusnya hanya waketum PSSI hasil kongres 17 maret kemaren, tapi kekuasaannya jauh melampaui ketum PSSI bahkan presiden SBY sekalipun. Buktinya, dengan perintahnya, LNM bisa memecat sekjen PSSI sebelumnya, Halim Mahmud. Blanco dimundurkan dari pelatih timnas diganti oleh RD padahal Blanco merupakan hasil kerjasama G to G antara SBY dan presiden Argentina. Dan yang terbaru, ketua BTN dirampasnya dari tangan Isran Noor. Hebat bukan LNM?! LNM gitu lho…:). Satu lagi keinginannya yang sepertinya bakal kesampaian juga yaitu mengembalikan Alfred Riedle sebagai pelatih timnas Indonesia. Sekali lagi, hebat khan LNM?! LNM gitu lho…:)

Dari sekian banyak ambisinya yang tercapai, semuanya dimulai dari niatnya yang kuat untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dan pegang mottonya, tebal telinga, bermuka badak dan tutup telinga rapat-rapat. Lihat, sebelum posisi waketum dicapai, LNM selalu mengimpikan untuk menjadi ketum PSSI dengan mengaku-ngaku sebagai ketum PSSI yang sah hasil KLB karena didukung oleh lebih dari 2/3 anggota PSSI. Lihat lagi, sebelum menjadi ketua BTN, La Nyalla dengan berapi-api menyatakan bahwa ketua BTN Isran Noor sama sekali tidak mempunyai background bola dan akan dia copot posisinya. Dan hasilnya, Isran benar-benar dicopot dari ketua BTN dan diganti oleh dirinya. Hebat khan LNM?! LNM gitu lho…:).

Jadi, kalau anda mau seperti LNM, jadilah manusia yang tebal telinga, bermuka badak dan tutup mata rapat-rapat sebagai pengejawantahan motto “Sekali Layar Terkembang, Pantang Surut Ke Belakang” tapi versi LNM ya…:). Walaupun dicerca sana sini, La Nyalla tetap maju untuk menguasai PSSI dan sekarang semua keinginannya sudah ada digenggamannya. Kalau melihat karakter LNM seperti itu, penulis jadi ingat Mantan Ketum PSSI “Legendaris” Nurdin Halid..:)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Buron FBI Predator Seks Pedofilia Ada di JIS …

Abah Pitung | | 23 April 2014 | 12:51

Ahok “Bumper” Kota Jakarta …

Anita Godjali | | 23 April 2014 | 11:51

Food Truck - Konsep Warung Berjalan yang Tak …

Casmogo | | 23 April 2014 | 01:00

Benarkah Anak Kecil Itu Jujur? …

Majawati Oen | | 23 April 2014 | 11:10

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 7 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 9 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 9 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 10 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: