Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Ludovico R Adiwarta

menjadi katolik dan manggarai

Arti Naturalisasi yang Sebenarnya…

OPINI | 06 April 2013 | 15:00 Dibaca: 894   Komentar: 0   0

Sepakbola Indonesia berada dalam masa-masa gelap. Ukuran yang paling sederhana adalah prestasi. Sudah lama timnas garuda tidak merengkuh trofi. Sudah lama klub-klub asal Indonesia tidak menimbulkan kegentaran di wilayah Asia. Sudah lama Indonesia tidak menunjukkan superioritasnya atas jiran-jiran semacam Malaysia dan Singapura.

Hasrat terhadap gelar dan prestasi pun kian “tebal” dari tahun ke tahun. Hasrat itu semakin sengit manakala melihat tetangga dekat bersukacita dengan piala AFF sementara timnas garuda maksimal ada di posisi dua. Kenyataan ini bikin publik sepakbola meradang. Revolusi perlu dilakukan, perubahan jadi harga mati.

Namun, banyak di antara “pengurus” sepakbola di negeri ini memilih jalan pintas. Salah satunya adalah naturalisasi. Pemain asing yang berlaga di Indonesia atau punya sejarah dan jejak darah Indonesia diberi kewarganegaraan/paspor Indonesia. Harapannya skill mereka menular pada rekan satu tim. Dampaknya, Indonesia bisa meraih trophy. Prestasi yang bisa “memabukan” pencinta sepakbola Indonesia untuk beberapa waktu. Namun, wajah-wajah non asia yang tampil dengan seragam garuda sejauh ini belum memberi kontribusi yang baik untuk timnas kita. Kita hanya memandang “piala” dari kejauhan.

Kenyataan ini membuat saya mempersoalkan makna sesungguhnya dari kata naturalisasi. Banyak pihak enteng saja menyebutkan kata itu untuk sejumlah pemain. Kata naturalisasi mengalir lancar dari mulut pengamat, pembaca berita bahkan presenter infotaiment. Bocah-bocah berseragam merah putih pun tahu kalau Crsitian Gonzales dan kolega adalah pemain naturalisasi.

Berkat jasa kamus, saya memahami definisinya dengan lebih baik. Umumnya kita memahami kata ini sebaga “pemerolehan kewarganegaraan bagi penduduk asing; hal menjadikan warga negara; pewarganegaraan yg diperoleh setelah memenuhi syarat sebagaimana yg ditetapkan dl peraturan”. Jika saya menggunakan definisi ini sebagai titik tolak maka “benar dan masuk” akal jika Gonzales, Bachdim dan lain-lain disebut pemain naturalisasi.

Namun, saya ingin menghamparkan sebuah cakrawala yang berbeda. Kata “naturalisasi” terbentuk dari kata “natural” yang berarti bersifat alam, alamiah (Bebas dari pengaruh, bukan buatan asli). Kata natural ini pun diberi akhiran “isasi” yang umumnya berarti proses. Saya pun memahami kata ini sebagai “proses yang bersifat alam dan tahap-tahapnya juga harus bersifat alam”

Saya pikir jika “naturalisasi” dengan makna baru ini menjadi strategi untuk membangun timnas yang kuat maka hasilnya akan memuaskan, prestasi akan berdatangan pada waktunya. Secara alami, timnas yang kuat terbentuk karena kompetisi yang sehat dan bersih. Apakah kompetisi kita seperti ini? Saya ragu jika anda menjawab “ya”. Secara alami, pemain hebat merupakaan kombinasi antara bakat dan pembinaan. Apakah skema ini telah diterapkan dalam membina pesepakbola indonesia. Saya yakin tidak. Secara alami, pemain yang hebat adalah pemain yang sehat dan berintelegensi tinggi. Apakah rata-rata pemain kita sudah mencapai taraf ini? Saya hanya berdebar-debar.

Masih banyak pertanyaan yang hilir mudik di kepala saya. Saya malah terburu-buru menyimpulkan bahwa kita telah keliru memahami makna naturalisasi ini,. Kita hanya mengikuti definisi kamus, sementara hakikat naturalisasi ini luput dari tangkapan kita. Apa yang terjadi di dunia sepakbola kita bukan naturalisasi, yang terjadi adalah “sikap instan dan cari gampang”..kita hanya memetik buah tanpa menanam pohon. Celakanya, “buah” yang kita petik ternyata bukan buah yang manis dan penuh nutrisi. Kita malah percaya pada hal-hal yang tidak alami dan menyebut itu sebagai “natural’

Akhirnya, jika sepakbola bangsa ini “buntu” dan tidak tahu arah jalan pulang maka saya menawarkan strategi baru yang bisa dicoba sepanjang kita suka. Jika naturalisai belum behasil selama bertahun-tahun, maka apa yang kita bilang rencana atau target jangka pendek jadi makin panjang dan akhirnya tak juga kesampaian. Jika naturalisasi tak berhasil, kita coba saja pendekatan baru “ supernaturalisasi”. Barangkali “Wiro Sableng atau Panji Tengkorak dan kawan-kawan” bisa diajak masuk timnas. Apa mereka terlalu jadul??? Jika itu alasannya silakan mencoba “Si Madun dan tendangannya itu’.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengintip Penambangan Batu Mulia Indocrase …

Syukri Muhammad Syu... | | 01 February 2015 | 11:47

Bedanya Menyisihkan dengan Menyisakan (Uang) …

Rokhmah Nurhayati S... | | 01 February 2015 | 09:26

Telisik Dirilah saat Anak Membangkang! …

Muhammad Armand | | 01 February 2015 | 14:14

Mengejar Jodoh Ala Anak Muda Saudi …

Mariam Umm | | 31 January 2015 | 19:56

Anggota DPR Dilarang “Ngartis”, …

Kompasiana | | 30 January 2015 | 12:24


TRENDING ARTICLES

Mitologi Jawa dalam Kepemimpinan Jokowi …

Musri Nauli | 17 jam lalu

Sebab Senyapnya KMP di Kegaduhan …

Pebriano Bagindo | 18 jam lalu

Titik Temu, Catatan Kritis untuk Mata Najwa …

Mahi Baswati | 23 jam lalu

Siapa Adu Domba Jokowi dan Megawati? …

Nusantara Link | 31 January 2015 15:16

Menyorot Sisi Humanitas Kisruh Sawito, Samad …

Nararya | 31 January 2015 14:19


Subscribe and Follow Kompasiana: