Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Pengkuh Budhya Prawira

Keluarga di atas segala-galanya

Isu Politik, Ekonomi, Bisnis, Hukum, dan Hiburan Dalam Persepakbolaan Nasional

OPINI | 02 April 2013 | 21:45 Dibaca: 784   Komentar: 0   0

Beberapa lama ini menjadi pemerhati berbagai tulisan yang muncul pada berbagai media menunjukkan bahwa ada beberapa tulisan yang sering menjadi sorotan dan topik yang hangat untuk dibicarakan saat ini. Kasus-kasus politik dan olahraga merupakan berita-berita yang selalu dicari oleh pemerhati informasi terutama di kompasiana ini. Berita seperti KLB Demokrat yang menjadikan SBY sebagai Ketum, berbagai konflik yang terjadi dalam tubuh PSSI, dan kasus hukum yang terjadi di LP Cebongan merupakan kejadian yang paling banyak dijadikan sebagai topik dalam tulisan terutama yang termuat di Kompasiana. Selain itu, kasus perseteruan Hukum Adi Bing Slamet dan Eyang Subur serta fenomena X Factor dengan Fatin Factor-nya menjadi warna-warna yang semarak menghiasi kanal hiburan.

Dari berbagai tulisan yang muncul di sosial media ini, penulis melihat bahwa kanal politik lebih banyak digunakan oleh pihak-pihak yang tergabung dalam suatu partai politik tertentu untuk menjatuhkan partai politik lainnya. Berbagai tulisan dimuat dengan dengan maksud menjatuhkan figur politik atau bahkan partai politik tertentu dengan memuat berbagai kekurangan yang dimilikinya, baik dilihat dari unsur perilaku, bisnis, hukum, dan agama serta berbagai unsur SARA lainnya. Dalam pandangan penulis, semua politikus itu sama saja, dimana mereka adalah orang-orang yang haus kekuasaan, dengan mengatasnamakan rakyat, keadilan, penegakan hukum, demokrasi, Hak Asasi Manusia, reformasi, bahkan agama sebagai alat untuk mencapai keinginannya. Rakyat, keadilan, penegakan hukum, Demokrasi, HAM, reformasi dan agama menjadi topeng untuk menyembunyikan motivasi busuknya untuk menjadi seorang penguasa.

Dalam kasus lain, terutama yang berhubungan kasus hukum, seperti kasus eksekusi mati terhadap tahanan tanpa melalui proses peradilan, penulis menilai bahwa kasus ini murni merupakan kasus hukum, terlepas dari berbagai konflik kepentingan yang berada di belakang kasus tersebut. Kejadian-kejadian yang berhubungan dengan penegakan hukum sering diwarnai dengan isu-isu politik dan dijadikan alat untuk menjatuhkan sebagian pihak oleh pihak yang lainnya. Kepercayaan sebagian masyarakat terhadap proses penegakan hukum juga ikut mewarnai berbagai komentar yang terlontar menyikapi berbagai kasus yang ada hubungannya dengan penegakan hukum di Indonesia.

Isu hangat lainnya terjadi pada kasus yang berhubungan dengan dunia hiburan dan hukum dengan adanya perseteruan antara Adi Bing Slamet dengan mantan guru spritualnya, Eyang Subur. Dalam hal ini, penulis merasa bingung sendiri, kok ada ya guru spritual? Apa memang dunia ini sudah aneh? Kerja guru spiritual itu untuk apa, ya? Sama nggak ya, guru sipritual itu dengan dukun atau paranormal? Tapi dari sedikit informasi yang penulis baca, guru spritual ini ada hubungannya dengan Islam. Lha, kok? Jadi bedanya dengan Pak Kyai atau Ustadz apa, ya? Apa guru spiritual ini ada ditengah-tengah antara Kyai atau Ustadz dengan dukun atau paranormal? Wah kayaknya kalau membahas guru spiritual ini bakalan lebih banyak yang jadi pertanyaan daripada informasi. DalamĀ  kasus Eyang Subur, ini bahkan sekarang ini bukan hanya berhubungan dengan masalah dunia hiburan dan hukum, bahkan menyangkut masalah agama, terutama dengan adanya keterlibatan FPI yang merupakan Ormas Islam yang sering kali punya “inisiatif lebih” dalam hal penegakan hukum dibandingkan dengan para penegak hukum itu sendiri.

Tulisan menarik yang sering muncul lainnya berhubungan dengan fenomena Fatin dalam X-Factor dengan berbagai pujian dan kritiknya. Bahkan dalam dua episode terakhir, X-Factor seolah-oleh kehilangan formatnya, dengan tersingkirnya dua pesertanya yang dianggap oleh sebagian kalangan justru memiliki faktor X seperti yang dicari oleh ajang pencarian bakat tersebut. Jurinya sendiri terlihat belum menentukan kriteria yang jelas mengenai faktor X yang dinilai dari peserta, padahal dengan aturan main yang diterapkan, juri memiliki peran dalam menentukan atas lanjut atau tidaknya seorang peserta ke babak berikutnya.

Tetapi dari sekian banyak tulisan yang terbit melalui kompasiana ini, penulis lebih tertarik dengan berita-berita olahraga, terutama tulisan-tulisan yang berhubungan dengan konflik yang terjadi dalam tubuh PSSI. Hal ini dikarenakan bahwa tulisan-tulisan yang berhubungan dengan konflik PSSI merupakan tulisan-tulisan yang komplek, dimana berbagai unsur masuk mewarnai tulisan-tulisan yang dimuat di kanal bola tersebut. Unsur politik, bisnis, hiburan, hukum, aturan, HAM, dan olahraga diangkat dalam berbagai tulisan yang berhubungan dengan persepakbolaan nasional. Bahkan, banyak tulisan yang dimuat di kanal bola merupakan isu politik atau ekonomi dan bisnis tetapi diakhiri dengan perkataan bola atau PSSI supaya bisa dikategorikan sebagai tulisan bola. Kekalahan partai politik dalam Pilkada, persiapan menjelang Pemilu 2014, bangkrutnya sebuah perusahaan sering masuk dalam kanal bola karena dianggap ada hubungannya dengan persepakbolaan nasional. Kanal bola juga sering menjadi kanal humor dengan munculnya tulisan yang bernuansa hiburan, tetapi melibatkan penulis-penulis di kanal bola ataupun tokoh-tokoh sepakbola nasional (Kalau yang seperti ini, penulis juga ikut menyemarakan kanal bola menjadi bernuansa kanal humor). Kanal ini juga sering memuat berbagai kasus hukum yang kemudian dihubungkan dengan permasalahan sepakbola nasional.

Sebenarnya hal ini sah-sah saja dilakukan oleh siapapun yang menulis di kanal bola, hanya tujuan perjuangan untuk menjadikan sepak bola bersih dari unsur-unsur lain selain dari hakikat permainan sepakbola itu sendiri tentunya tidak akan pernah terpenuhi. Dengan berbagai tulisan yang muncul di kanal bola yang tidak berhubungan dengan permasalahan sepak bola (termasuk tulisan ini, kalau nggak dipindahin sama admin), tentunya akan tetap mempertahankan opini siapapun yang membacanya bahwa sepak bola itu merupakan olahraga yang dicampur-adukkan dengan berbagai unsur lain selain sepak bola itu sendiri.

Wassalam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Simpang-Siur Makna “Politikus” …

Nararya | | 30 July 2014 | 00:56

Di Timor-NTT, Perlu Tiga Hingga Empat Malam …

Blasius Mengkaka | | 30 July 2014 | 07:18

Jalan-jalan di Belakangpadang …

Cucum Suminar | | 30 July 2014 | 12:46

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: