Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Ken Hirai

Bukan writer, bukan trainer juga bukan public speaker, hanya seorang petualang yang sedang mencari jalan selengkapnya

Sejarah Membuktikan FIFA Sangat Mencintai Indonesia

OPINI | 22 March 2013 | 05:43 Dibaca: 2530   Komentar: 1   0

Ketika hasil kongres KPSI melahirkan Manifesto ke-7, saya hanya bisa tersenyum. Begitu juga ketika para pengurus KPSI dan para supporter klub-klub ISL yang fanatik buta sangat bersemangat untuk melaksanakan Manifesto ke-7 agar Indonesia di sanksi FIFA, saya kembali menanggapinya cukup dengan tersenyum. Bahkan ketika pendukung KPSI membuat sebuah blog khusus untuk memprovokasi para pecinta sepakbola nasional untuk mendukung Manifesto ke-7 agar Indonesia di sanksi FIFA pun kembali saya menanggapinya hanya tersenyum saja.

Bagi saya, tindakan KPSI dengan mendirikan federasi kloningan, tetap menggelar kompetisi ISL dan langkah boikot timnas Indonesia tidak akan pernah mampu menggoyahkan kecintaan FIFA terhadap Indonesia. Di mata FIFA, Indonesia adalah Negara yang sangat penting bahkan amat sangat penting. FIFA sangat mencintai Indonesia, dan demi membuktikan rasa cintanya terhadap Indonesia, FIFA pun rela melanggar Statutanya sendiri.

Makanya, saya pun kembali tersenyum, ketika seorang pengamat sepakbola terkenal pendukung setia KPSI ikut memprovokasi agar Indonesia di sanksi oleh FIFA. Bahkan dalam berbagai tulisan opininya pengamat terkenal tersebut selalu menjelek-jelekkan PSSI dan menurut opininya sanksi FIFA adalah jalan terbaik untuk sepakbola Indonesia.

Saya pun kembali tersenyum, ketika KPSI berhasil menguasai kembali PSSI melalui drama KLB beberapa orang pendukung Revolusi PSSI menyuarakan hal yang sama dengan yang pernah disuarakan oleh pendukung KPSI dan supporter ISL yang fanatik buta agar Indonesia di sanksi FIFA.

Mengapa saya tersenyum, karena menurut saya, mereka para pengamat, pendukung KPSI dan supporter ISL yang fanatic buta, yang meminta Indonesia di sanksi FIFA tidak pernah belajar sejarah. Jika mereka tahu sejarah bahwa Indonesia adalah Negara yang sangat penting dimata FIFA, Indonesia adalah Negara yang sangat dicintai FIFA, maka tidak akan terlintas sedikitpun bahwa Indonesia akan di sanksi FIFA.

Sejarah juga telah membuktikan bahwa meskipun Indonesia telah berulangkali membuat pelanggaran berat terhadap Statuta FIFA dan Statuta PSSI, tapi FAKTA SEJARAH membuktikan Indonesia tidak pernah mendapat sanksi FIFA. Jadi jangan pernah membandingkan kasus yang sama yang terjadi di Negara lain dan di Indonesia.

Selama ini FIFA mengkategorikan pelanggaran berat terhadap 2 hal yaitu Intervensi Pemerintah dan Pelanggaran Statuta. Mari kita lihat pelanggaran-pelanggaran berat tersebut satu-persatu.

-PSSI sebagai satu-satunya Federasi Sepakbola di bawah FIFA yang pernah dipimpin oleh seorang Koruptor dari dalam Penjara.

Ini adalah pelanggaran berat terhadap Statute FIFA yang mengharuskan seorang EXCO bebas dari perbuatan criminal. Ketentuan bahwa seorang EXCO harus bukan seorang kriminal diatur secara jelas, tegas dan terang benderang dalam Standar Statute FIFA. Faktanya, meskipun Indonesia telah melakukan pelanggaran berat, FIFA tidak pernah menjatuhkan sanksi pada Indonesia.

-PSSI pernah dibekukan oleh Pemerintah

Indonesia adalah satu-satunya Negara yang bebas dari sanksi FIFA, meskipun Pemerintah telah melakukan intervensi dengan membekukan PSSI pimpinan Nurdin Halid. Selama ini FIFA tidak akan pernah memberikan toleransi terhadap 2 jenis pelanggaran yaitu:

-Intervensi Pemerintah dan Pelanggaran Statuta.

Tapi aturan tegas FIFA tersebut hanya berlaku untuk Negara selain Indonesia. Lihatlah Negara-negara seperti Brunei Darussalam, Iran, Irak, Kuwait, Ethiopia, Nigeria, Yunani, Bosnia, Perudan beberapa Negara lainnya adalah korban-korban FIFA karena Negara-negara tersebut melakukan Intervensi Pemerinta, Politisasi Sepakbola dan Pelanggaran Statuta.

Pelanggaran berat lain yang dilakuakn oleh Indonesia:

-Adanya 2 federasi dan 2 kompetisi professional dalam 1 wilayah Negara Indonesia

Lihatlah, meskipun Indonesia mempunyai 2 federasi dan 2 kompetisi professional dalam 1 wilayah Negara Indonesia, FAKTAnya Indonesia selalu bebas dari sanksi FIFA. Padahal adanya 2 federasi dan 2 kompetisi professional dalam 1 wilayah Negara adalah pelanggaran terhadap Statuta FIFA.

Padahal Bosnia pernah mendapat sanksi FIFA, gara-gara dalam 1 federasi mempunyai 3 ketua sebagai wujud rekonsiliasi 3 etnis di Bosnia. Terhadap Bosnia, FIFA telah bertindak tegas dengan memberi sanksi meskipun Bosnia beralasan tujuannya untuk REKONSILIASI. Tapi FIFA tetap menjatuhkan hukuman terhadap Bosnia.

Masih banyak Fakta-Fakta pelanggaran berat yang dilakukan oleh Indonesia, tapi FIFA tidak pernah menjatuhkan hukumannya pada Indonesia. Mengapa?

Karena Indonesia adalah Negara yang sangat amat penting bagi FIFA, dan FIFA pun telah mengetahui bahwa di Indonesia sepakbola adalah hiburan rakyat nomor satu. Jadi jangan pernah berpikir lagi bahwa FIFA akan menjatuhkan sanksi pada Indonesia. Jika dipikiran anda masih terlintas bahwa suatu saat FIFA akan menjatuhkan sanksi kepada Indonesia, maka saya saya sarankan anda untuk kembali membaca sejarah.

Karena TIDAK ADA dalam sejarahnya, FIFA akan menghukum Indonesia.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Learning by Doing, Efektifitas Mendidik ala …

Muhammad | | 16 September 2014 | 10:24

Autoethnografi: Dari Pengalaman ke Teks …

Sehat Ihsan Shadiqi... | | 16 September 2014 | 11:06

Dua Teknologi Penyelamat Kehidupan Menulis …

Necholas David | | 16 September 2014 | 10:03

Jika (Calon) Istri Menyembunyikan Status …

Syaiful W. Harahap | | 16 September 2014 | 08:57

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Ganggu Ahok = Ganggu Nachrowi …

Pakfigo Saja | 4 jam lalu

Kabinet Jokowi-JK Terdiri 34 Kementerian dan …

Edi Abdullah | 6 jam lalu

UU Pilkada, Ken Arok, SBY, Ahok, Prabowo …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Ternyata Ahok Gunakan Jurus Archimedes! …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Revolusi Mental, Mungkinkah KAI Jadi …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

[Fiksi Fantasi] Sayap Hitam Angella …

Desy Desol | 8 jam lalu

Kabinet Jokowi: Yang Barunya Mana, Ya? …

Aqila Muhammad | 8 jam lalu

Aktor di Balik Alotnya Pengusutan Kasus …

Bagja Siregar | 8 jam lalu

Tentang Palu Pemecah Kaca yang Kehilangan …

Ayudhia Virga Basta... | 8 jam lalu

Liverpool, Catatan Minor Pekan ke 4 dan …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: