
Tinggal di daerah Bogor, masih terus belajar menulis...Forza Milan. twitter:@frans_az
Dibaca:
866
Komentar: 22
Nihil
Moment gemuruh dan memerahnya Stadion Gelora Bung Karno terjadi pada tahun 2010, ketika Indonesia menjadi tuan rumah Piala AFF, sayangnya setelah memastikan maju ke partai puncak, seolah-olah juara sudah ditangan. Itu semua terlihat ketika pemain dan pengurus PSSI begitu jumawa. Benar akhirnya mahkota juara yang diidam-idamkan kembali lepas diambil Malaysia
Sea Games November 2011 tak dapat dilupakan begitu saja, timnas U-23 yang dinahkodai Rahmad Darmawan juga berhasil maraih simpati penonton dengan berduyun-duyun menuju SGBK yang tak lain dan tak bukan hanya untuk memerahkan stadion memberi dukungan kepada skuad muda Indonesia
Lagi-lagi Malaysia kembali membuat skuad timnas U-23 tertunduk lesu. Medali emas yang sudah terbang sekitar 2 dekade kembali pergi. Tetapi Andik Vermansyah, Tibo, Patrick Wanggai dll tetap mendapat applus dan belum mau meninggalkan bangku stadion sebelum semua skuad timnas meninggalkan stadion
Sepertinya 2 moment Piala AFF 2010 dan Sea Games 2011 tersebutlah terakhir kali stadion GBK menjadi saksi gemuruh riuh supporter yang mendukung timnas Indonesia.
***
Serba dualisme menjadi penyebab kenapa stadion GBK yang dulu selalu dipenuhi penonton untuk mendukung timnas, kini malah sebaliknya.
Uji coba timnas U-22 di SGBK melawan Malaysia U-22, penonton yang hadir distadion hanya sekitar 500 pasang mata, selanjutnya saat timnas senior melawan Korea Utara sedikit bertambah dengan kisaran 5 ribu tempat duduk yang terisi
Jakarta dan sekitarnya basis Jakmania supporter Persija versi Ferry Paulus, yang ketika itu adalah anggap klub serta berkompetisi illegal menjadi alasan yang tepat untuk mengatakan “stadion sepi karena para the Jakmania mendo’akan timnas dari rumah saja, dan memboikot untuk hadir di SGBK”
Alasan pemerataan menjadikan Stadion Gelora Bung Tomo tempat singgahan timnas berikutnya ketika beruji coba melawan Vietnam sebelum menuju Piala AFF 2012
Ternyata tak jauh berbeda, stadion yang berkapasitas tak kurang 60 ribu tersebut hanya didatangi 10 ribu pasang mata saja. Bonekmania yang diharapkan memerahkan stadion seperti yang mereka lakukan ketika Persebaya berujicoba melawan QPR sepertinya enggan melangkahkan kaki menuju stadion, lagi cuaca yang terik dan bermain sore hari saat jam kerja menjadi alasan berikutnya PSSI
Adalah serba dualisme yang menurut penulis menjadi penyebab kenapa timnas belum mendapatkan perhatian yang lebih dihati para supporter
***
Dua hari yang lalu (17/3/13) serba dualisme tersebut kini bisa dikatakan telah berakhir, melalui KLB PSSI semua perselisihan dan konflik sepakbola yang hampir 2 tahun ini segera bisa disudahi. Memang ada keputusan-keputusan yang tidak mengenakkan antara pihak-pihak yang berkonflik ria, tetapi dimana-mana selalu saja ada pihak yang tidak berkenan dengan keputusan yang dianggap tidak berpihak ataupun tidak sesuai dengan harapan atau juga berdasarkan aturan yang ada
Dan moment bersatunya kembali sepakbola nasional akan dimulai dari Stadion Gelora Bung Karno, distadion kembanggaan kita ini, pada tanggal 23 Maret 2013 nanti. Akan ada pertandingan ke-2 timnas Indonesia melawan Arab Saudi pada penyisihan grup Pra Piala Asia 2015
Walau sempat ternoda karena adanya perselisihan sebagian besar pemain ISL dengan pelatih Blanco yang akhirnya untuk satu partai ini timnas akan ditangani duet Rahmat Darmawan dan Jacksen. F. Thiago tidak akan mengurangi antusias bersatunya kembali semua pemain dari semua elemen yang ada.
Moment antusias tersebut dapat dilihat ketika ratusan penonton ikut hadir memberi semangat kepada skuad timnas yang sedang berlatih
Maka menjadi masuk akal ketika hari Sabtu (23/3/13) nanti di SGBK, ketika timnas Indonesia bertanding, melawan Arab Saudi dipenyisihan grup Pra Piala Asia 2015, menjadi moment yang tepat untuk menancapkan tonggak bersatunya kembali sepakbola Indonesia
Salam
-