Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Dewa Gilang

Single Fighter!

Selamat Datang di Negeri Para Bedebah, Nil Maizar

OPINI | 04 March 2013 | 11:01 Dibaca: 1360   Komentar: 0   2

Selamat datang di negeri para bedebah, Nil. Negeri yang kami diami. Konon, negeri ini sangat agamis, menjunjung tinggi nilai-nilai akhlak, moral dan kesantunan. Itu yang ditanamkan para guru dan orang tua sedari dini.

Namun, jangan harap anda akan dipuja-dipuji bak dewa-dewi kahayangan dalam lakon-lakon pewayangan. Jangan pula mengharapkan balas jasa yang setimpal atas apa yang telah anda kerjakan. Peribahasa “air susu dibalas air tuba” telah merasuk hingga ke sumsum tulang setiap anak bangsa.

Bukankah kini anda merasakan sendiri tentang bagaimana hidup di negeri para bedebah? Nasib anda terombang-ambing tak menentu. Konon, rapat Exco telah memecat anda sebagai pelatih dari timnas negeri bedebah, tetapi -entah- SK pemecatan telah pernah anda terima atau (belum) tidak.

Anda harus sadar. Negeri ini sedang sibuk dngan rekonsiliasi. Wajar bila persoalan utang-piutang tak begitu diperhatikan. Percuma anda berteriak. Ansich suara anda tak akan terdengar. Lenyap ditelan teriakan-teriakan “demi merah-putih” hingga serak dan parau.

Padahal, anda mengerti apa arti dari “demi merah-putih”. Saat tak ada yang berani ambil resiko untuk melatih timnas negeri ini, dengan gagah-berani anda beserta “pasukan” berangkat ke “medan tempur”. Singa “Singapura” sempat merasakan hujaman kuku tajam dari para Garuda. Meski harus terhenti diterkam oleh Harimau “malaya”.

Namun, itu cukup memberi bukti kepada kami bahwa anda mengerti tentang arti “demi Merah-Putih”. Setidaknya anda jauh lebih memahami arti kalimat tersebut bila dibandingkan dengan orang-orang yang dahulunya mencegah para pemain untuk membela negerinya.

Malang bagi anda, Nil. Anda justru ditinggal oleh gerbong “demi merah-putih”. Jangan anda tanya, kemana mereka saat “demi merah-putih” itu benar-benar dibutuhkan? Sebab mereka kini telah menjadi pahlawan. Iya, Nil…pahlawan. Pahlawan dengan atas nama yang sama. Nama yang dulu pernah anda kibarkan. Nama “Merah-Putih”.

Jadi jangan tanyakan sebabnya Nil. Sebab anda dan saya sedang berada di negeri para bedebah. Nikmati saja seluruh derita batin anda. Dan izinkan saya mengucap: “Selamat Datang Di Negeri Para Bedebah, Nil Maizar!.

Dari kami, anak muda Bandung, sesama penghuni negeri para bedebah, yang -jangan-jangan- sama bedebahnya dengan para bedebah.

Salam neraka!

Selamat menikmati hidangan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Deng Xiaoping dan Diplomasi Tiongkok …

Aris Heru Utomo | | 23 August 2014 | 09:52

Pihak Jokowi-JK Sudah Tepat Bila Mengadopsi …

Abdul Muis Syam | | 23 August 2014 | 03:40

Mana Gaya Manajemen Konflik Anda? …

Pical Gadi | | 23 August 2014 | 07:51

Cara Merawat “Suami” Kedua …

Mbak Avy | | 23 August 2014 | 10:09

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Dapatkah MK Dipercaya? (2) …

Pecel Tempe | 13 jam lalu

Mulianya Hamdan Zoelva, Hinanya Akil Mochtar …

Daniel H.t. | 15 jam lalu

Ada Foto ‘Menegangkan’ Ibu Ani …

Posma Siahaan | 16 jam lalu

Mempertanyakan Keikhlasan Relawan Jokowi-JK …

Muhammad | 16 jam lalu

Pesta Perkawinan Mewah, Apa Ngaruh dalam …

Ifani | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: