Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Dewa Gilang

Single Fighter!

Selamat Datang di Negeri Para Bedebah, Nil Maizar

OPINI | 04 March 2013 | 11:01 Dibaca: 1358   Komentar: 0   2

Selamat datang di negeri para bedebah, Nil. Negeri yang kami diami. Konon, negeri ini sangat agamis, menjunjung tinggi nilai-nilai akhlak, moral dan kesantunan. Itu yang ditanamkan para guru dan orang tua sedari dini.

Namun, jangan harap anda akan dipuja-dipuji bak dewa-dewi kahayangan dalam lakon-lakon pewayangan. Jangan pula mengharapkan balas jasa yang setimpal atas apa yang telah anda kerjakan. Peribahasa “air susu dibalas air tuba” telah merasuk hingga ke sumsum tulang setiap anak bangsa.

Bukankah kini anda merasakan sendiri tentang bagaimana hidup di negeri para bedebah? Nasib anda terombang-ambing tak menentu. Konon, rapat Exco telah memecat anda sebagai pelatih dari timnas negeri bedebah, tetapi -entah- SK pemecatan telah pernah anda terima atau (belum) tidak.

Anda harus sadar. Negeri ini sedang sibuk dngan rekonsiliasi. Wajar bila persoalan utang-piutang tak begitu diperhatikan. Percuma anda berteriak. Ansich suara anda tak akan terdengar. Lenyap ditelan teriakan-teriakan “demi merah-putih” hingga serak dan parau.

Padahal, anda mengerti apa arti dari “demi merah-putih”. Saat tak ada yang berani ambil resiko untuk melatih timnas negeri ini, dengan gagah-berani anda beserta “pasukan” berangkat ke “medan tempur”. Singa “Singapura” sempat merasakan hujaman kuku tajam dari para Garuda. Meski harus terhenti diterkam oleh Harimau “malaya”.

Namun, itu cukup memberi bukti kepada kami bahwa anda mengerti tentang arti “demi Merah-Putih”. Setidaknya anda jauh lebih memahami arti kalimat tersebut bila dibandingkan dengan orang-orang yang dahulunya mencegah para pemain untuk membela negerinya.

Malang bagi anda, Nil. Anda justru ditinggal oleh gerbong “demi merah-putih”. Jangan anda tanya, kemana mereka saat “demi merah-putih” itu benar-benar dibutuhkan? Sebab mereka kini telah menjadi pahlawan. Iya, Nil…pahlawan. Pahlawan dengan atas nama yang sama. Nama yang dulu pernah anda kibarkan. Nama “Merah-Putih”.

Jadi jangan tanyakan sebabnya Nil. Sebab anda dan saya sedang berada di negeri para bedebah. Nikmati saja seluruh derita batin anda. Dan izinkan saya mengucap: “Selamat Datang Di Negeri Para Bedebah, Nil Maizar!.

Dari kami, anak muda Bandung, sesama penghuni negeri para bedebah, yang -jangan-jangan- sama bedebahnya dengan para bedebah.

Salam neraka!

Selamat menikmati hidangan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerbau Disembelih, Tanduknya Jadi Sumber …

Leonardo | | 31 July 2014 | 14:24

5 Jam Menuju Museum Angkut, Batu-Malang …

Find Leilla | | 31 July 2014 | 18:39

Kecoa, Orthoptera yang Berkhasiat …

Mariatul Qibtiah | | 31 July 2014 | 23:15

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Menjenguk Blowhole Sebuah Pesona Alam yang …

Roselina Tjiptadina... | | 31 July 2014 | 20:35


TRENDING ARTICLES

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 9 jam lalu

Lubang Raksasa Ada Danau Es di Bawahnya? …

Lidia Putri | 13 jam lalu

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 17 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 21 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: