Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Dewa Gilang

Single Fighter!

Selamat Datang di Negeri Para Bedebah, Nil Maizar

OPINI | 04 March 2013 | 11:01 Dibaca: 1361   Komentar: 0   2

Selamat datang di negeri para bedebah, Nil. Negeri yang kami diami. Konon, negeri ini sangat agamis, menjunjung tinggi nilai-nilai akhlak, moral dan kesantunan. Itu yang ditanamkan para guru dan orang tua sedari dini.

Namun, jangan harap anda akan dipuja-dipuji bak dewa-dewi kahayangan dalam lakon-lakon pewayangan. Jangan pula mengharapkan balas jasa yang setimpal atas apa yang telah anda kerjakan. Peribahasa “air susu dibalas air tuba” telah merasuk hingga ke sumsum tulang setiap anak bangsa.

Bukankah kini anda merasakan sendiri tentang bagaimana hidup di negeri para bedebah? Nasib anda terombang-ambing tak menentu. Konon, rapat Exco telah memecat anda sebagai pelatih dari timnas negeri bedebah, tetapi -entah- SK pemecatan telah pernah anda terima atau (belum) tidak.

Anda harus sadar. Negeri ini sedang sibuk dngan rekonsiliasi. Wajar bila persoalan utang-piutang tak begitu diperhatikan. Percuma anda berteriak. Ansich suara anda tak akan terdengar. Lenyap ditelan teriakan-teriakan “demi merah-putih” hingga serak dan parau.

Padahal, anda mengerti apa arti dari “demi merah-putih”. Saat tak ada yang berani ambil resiko untuk melatih timnas negeri ini, dengan gagah-berani anda beserta “pasukan” berangkat ke “medan tempur”. Singa “Singapura” sempat merasakan hujaman kuku tajam dari para Garuda. Meski harus terhenti diterkam oleh Harimau “malaya”.

Namun, itu cukup memberi bukti kepada kami bahwa anda mengerti tentang arti “demi Merah-Putih”. Setidaknya anda jauh lebih memahami arti kalimat tersebut bila dibandingkan dengan orang-orang yang dahulunya mencegah para pemain untuk membela negerinya.

Malang bagi anda, Nil. Anda justru ditinggal oleh gerbong “demi merah-putih”. Jangan anda tanya, kemana mereka saat “demi merah-putih” itu benar-benar dibutuhkan? Sebab mereka kini telah menjadi pahlawan. Iya, Nil…pahlawan. Pahlawan dengan atas nama yang sama. Nama yang dulu pernah anda kibarkan. Nama “Merah-Putih”.

Jadi jangan tanyakan sebabnya Nil. Sebab anda dan saya sedang berada di negeri para bedebah. Nikmati saja seluruh derita batin anda. Dan izinkan saya mengucap: “Selamat Datang Di Negeri Para Bedebah, Nil Maizar!.

Dari kami, anak muda Bandung, sesama penghuni negeri para bedebah, yang -jangan-jangan- sama bedebahnya dengan para bedebah.

Salam neraka!

Selamat menikmati hidangan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tuntutan Kenaikan Upah Buruh yang Tak …

Agus Setyanto | | 31 October 2014 | 13:14

Soal Pem-bully Jokowi, Patutkah Dibela? …

Sahroha Lumbanraja | | 30 October 2014 | 20:35

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Hanya Kemendagri dan Kemenpu yang Memberi …

Rooy Salamony | | 31 October 2014 | 11:03

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 5 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 9 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 10 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Ujung Tombak Siaga 24/7 …

Mohamad Nurfahmi Bu... | 7 jam lalu

Revolusi Mental, Mental Siapa yang Harus …

Kawar Brahmana | 7 jam lalu

Sedia Payung Sebelum Hujan dengan Allisya …

Khairunisa Maslichu... | 7 jam lalu

Ibu Susi Jadi Presiden RI, Siap-siap Saja 5 …

Mawalu | 7 jam lalu

Kereta Api Indonesia Kian Aman dan Nyaman …

Sugeng Bralink | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: