Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Kancil Indonesia

Orang desa yang ingin nimbrung di kompasiana

Meski Ada 10 PC, Wasit Tetap ‘Disuap’

OPINI | 13 February 2013 | 14:03 Dibaca: 996   Komentar: 0   0

Salam 10 PC…………….

Meski sudah beberapa hari tayangan ‘Mata Najwa’ berlalu, tapi entah kenapa kata2 dari bapak kami, yang dipertuan agungkan, Sri Baginda LNM, tetap saja terkenang. ya.., kata-kata itu adalah adanya 10 PC di kamar pribadi bapak kami, dengan tujuan mengawasi dan mengacak wasit yang bertugas memimpin jalannya sepakbola di bawah daerah kekuasaan bapak kami, baik ISL maupun DU-nya.

Tujuan bapak kami sangat mulia, agar wasit tidak membela tuan rumah terus seperti selama ini. Bapak kami tidak sadar bahwa justru dengan dia mengatakan ide bo’ongan semacam itu, justru akan membuat pengakuan bahwa bapak-bapak pendahulunya benar-benar telah melakukan praktik mafia dan pengaturan skor.

Maksud bapak kami sih keren, biar dianggap kredible dan gaul, gitu. Tapi apa lacur, yang terjadi kemudian adalah blunder yang sangat ajibiib. Itulah tindakan yang tidak didasari pengetahuan yang cukup.

Sekarang, mari kita lihat korelasinya antara 10 PC dengan fakta yang terjadi, terutama kebanyakan kemenangan klub ISL hanya dimenangi tuan rumah. Ada apa ya..? Arema Cronous menang di kandang, tapi di luar kalah terus. Persegres yang sampai berdarah darah demi gengsi yang ter[patri, bahwa tuan rumah harus menang.

Sekarang suara kecurangan wasit datang dari Persid Jember, peserta turnamen DU-nya bapak kami. Menurut mereka wasit tidak profesional dan lainnya karena mereka selama bermain tandang begitu terasa dikerjai wasit.

Inilah curahan hati Sunardi, Ketua Umum sekaligus Manager Persid, kepada bapak kami LNM, sebagaimana yang diwartakan Beritajatim, hari ini, Rabo, 13 Februari 2013.
*********************************************************************************************

Dua kali laga Divisi Utama PT Liga Indonesia, manajemen Persid Jember, Jawa Timur, menilai, kepemimpinan wasit buruk. Persid siap kalah awal wasit adil.

Ketua Umum sekaligus Manajer Persid Sunardi, mengatakan, saat melawan Deltras Sidoarjo, tim berjuluk Macan Raung itu seharusnya mendapat dua kali penalti, karena tangan pemain lawan menyentuh bola di kotak terlarang. Namun, hal itu diabaikan wasit. Alhasil, Persid hanya mampu bermain imbang 1-1 dengan Deltras di kandang sendiri.

Sunardi menilai kepemimpinan wasit paling parah adalah saat Persid bertandang di kandang Perseba Bangkalan. Sepuluh menit awal babak pertama, Persid harus diganjar hukuman penalti, karena insiden di kotak terlarang. "Padahal cuma benturan biasa antarpemain," keluh politisi Partai Persatuan Pembangunan ini.

"Kalau begini terus, berarti tidak ada perubahan (dalam kompetisi Divisi Utama PT LI). Ini kan masa lalu yang berjalan terus. Tidak bisa dibanggakan kalau seperti ini," kecam Sunardi.

"Kalau memang kami kalah dalam pertandingan, tidak jadi persoalan, asalkan fair play," kata Sunardi. Ia mendesak agar wasit dan asisten wasit yang memimpin laga Perseba Super melawan Persid dikandangkan saja. Persid akan melayangkan surat protes kepada PT Liga Indonesia selaku penyelenggara.

Sunardi berharap pertandingan Divisi Utama lebih sering disiarkan oleh televisi. "Kalau disiarkan televisi akan lebih fair play," katanya. [wir].

Semoga bapak kami membalas surat cinta dari Persid tersebut.
Saran kami kepada bapak, jangan cuma 10 PC, 100 PC mungkin lebih mending bapak…., mending tambah ditertawain masyarakat Indonesia, hehehe…………

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: