Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Abangryan

No Plan... No Support... No choice

Antara Nil Maizar, Arsene Wenger & Mourinho

OPINI | 07 February 2013 | 15:25 Dibaca: 576   Komentar: 0   1

Salam….

Siapa yang tidak kenal Arsene Wenger. Pelatih bertangan dingin yang telah mengarsiteki Arsenal hampir 17 tahun ini dikenal memiliki kemampuan mempuni untuk melahirkan bintang bintang sepak bola terkenal. Patrick Viera, Thierry Henry, C. Fabregas, dan yang paling anyar tentu Theo Walcot, Chamberlain dan J. Wilshere. Skuad muda yang dilatihnya memiliki mental yang tak kalah dengan senior senior mereka diklub lain. Tangan dingin sang Profesor ini seolah menyihir para bintang bintang muda masa depan ini, sehingga para pemain Arsenal selalu berlari mengejar bola tampa henti. Semangat tak kenal lelah terus menyelimuti skuad Arsenal.

Keinginan untuk mengangkat piala, atau sekedar mmenagi titel juara memang mengusik hati beberapa orang pemain Arsenal. Banyak pemain yang akhirnyahijrah ke klub lain demi mendapatkan Gelar bersama klub barunya.

Kendala keuangan klub, banyaknya pemain pemain bintang yang pergi, skuad yang belum solid, para FANS Arsenal yang seakan tak sabaran, tidak membuat The Professor patah arang. Kemampuannya meningkatkan motivasi team, meracik strategi, dan menciptakan suasana nyaman antar pemain, tentu perlu di acungi jempol. Tak perlu dipungkiri, Arsenal masih menjadi tim yang disegani oleh tim tim lawan. Dan yang lebih penting, filosofinya yang selalu mengutamakan skuad muda ini lah yang menjadi pembeda dengan pelatih pelatih hebat lainnya.

Nil Maizar….. namanya mulai dikenal ketika uda yang satu ini mengarsiteki Semen Padang FC, klub asal Sumatera Barat. Rancaknya uda yang satu ini dalam meramu strategi, membuatnya terpilih menjadi Pelatih TimNas Senior PSSI (yang sah tentunya). Irit banyak bicara, tatapan yang tajam menjadi gayanya yang khas. Awalnya saya juga sempat meragukan kemampuannya dalam melatih TimNas. Keraguan itu sirna ketika sekelumit kalimat itu meluncur dan masih terngiang ngiang selalu.

Silakan menyebut saya pelatih yang tidak berkualitas, tapi jangan pernah menyebut pemain- pemain saya tidak berkualitas, karena merekalah pejuang bangsa yang sebenarnya. Merekalah yang selalu menerima penghinaan kalian dengan lapang dada, dan tetap terus berjuang demi menjaga kehormatan bangsa (Nil Maizar)”.

Kalimat pendek, penuh makna.

Konflik yang terjadi antara PSSI dan KamPretSI itu tak mengubah keyakinannya untuk terus maju mengarsiteki Garuda agar dapat terbang tinggi. Mungkin didalam benaknya, seperti maju ke medan perang, membawa PRIDE bangsa. Support anggaran yang minim, terbatasnya stok pemain pemain yang bisa dipanggil, kesinisan sebagian publik, tidak membuat  Uda ini patah semangat.

Kok saya melihat, hampir kesamaan antara Bung Nil dan Arsene Wenger. Cara memotivasi pemain, berbicara dengan pemain, sangat khas. Penampilan melawan TimNas Irak tadi malam membuat saya kagum. Strategi “parkir bus” diterapkan, toh tim sekelas Chelsea juga melakukannya ketika melawan Barcelona. Tadinya saya berharap paling tidak kita bisa bermain seri dengan TimNas Irak. Tapi tak apa kalah. Toh para pemain sudah memperlihatkan kemampuan terbaik mereka dilapangan.

Lhaa apa hubungannya dengan Mourinho. Ya yang jelas dua duanya bermain untuk Tim yang legal. Diakui oleh Federasi Negaranya. Bisa bertanding dengan tim tim dari Luar Negeri. Meski saya berharap, nyali Nil Maizar bisa seperti Mourinho. Untuk mencolok para KamPretSi KamPretSI itu, seperti Mourinho mencolok mata assiten pelatih Barca waktu itu…..¬† tentunya dengan prestasi.

Cintai yang Sah… Seperti kau mencintai Istrimu yang sah

Salaam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manado Menuju Kota Cerdas Lingkungan Hidup …

Johanis Malingkas | | 27 April 2015 | 14:53

Lagi, Aktor “The Raid” Go …

Dody Kasman | | 27 April 2015 | 15:09

Mari Lestarikan Air Bersama AQUA! …

Kompasiana | | 10 April 2015 | 19:03

Pemindahan Ibukota Jakarta : Belajar dari …

Hardian Relly | | 27 April 2015 | 11:00

Kompasiana dan Kompas Kampus Sambangi 5 …

Kompasiana | | 06 March 2015 | 08:32


TRENDING ARTICLES

Anggun Minta Pembatalan Eksekusi Mati, Siapa …

Lilik Agus Purwanto | 6 jam lalu

X Factor Indonesia dan Runtuhnya Sebuah …

Andi Kurniawan | 8 jam lalu

Harga Rakyat Indonesia Lebih Rendah dari …

Susy Haryawan | 11 jam lalu

Sekarang Saja, 50 Orang Mati Tiap Hari, …

Mike Reyssent | 11 jam lalu

Menimpuk Presiden dengan Mangga malah Dapat …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: