Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Ahmad Kholil Nafis Avisena

" Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil tapi berusahalah menjadi manusia yang berguna". (Einstein)

Hukum Bekerja Pada Non Muslim

OPINI | 18 January 2013 | 23:49 Dibaca: 4332   Komentar: 0   0

Mohon Maaf  Sebelumnya Artikel Ini Tidak Ada Maksud Untuk Menyerang Kelompok Baik yg Pro KPSI N PSSI Bahkan Dalam Pemaparannya Kita Contohkan Para TKI yg Bekerja Di Negara Non Muslim Biar Tidak ada yg terhakimi.Namun Walaupun Contohnya Kasusnya Para TKI Untuk Bisnis2 yang lainnya hukumnya sama.

Artikel Ini di Muat Agar Kita Punya Rujukan/Referensi Bagaimana Sich Hukumnya Orang Islam Bekerja Pada Non Muslim.Mari Kita Simak Sebuah Artikel Yang di buat Oleh Saudara Saya  Izzul Madid, RA.(Alumnus Ma’had Aly Marhalah Tsaniyah angkatan VII).

Perekonomian masyarakat kini dalam kondisi kritis. Sudah tidak banyak lapangan pekerjaan yang dapat dijangkau oleh masyarakat bawah. Akibatnya, banyak sarjana pengangguran, tidak menemukan pekerjaan yang dapat menopang hidup mereka dan keluarga. Karena begitu sulitnya mencari peluang bekerja di negeri sendiri, akhirnya banyak masyarakat yang nekat mengadu nasih ke negeri lain. Mereka dikenal sebagai TKI atau disebut sebagai pahlawan devisa. Kebanyakan dari mereka adalah para buruh dan pembantu rumah tangga.

Dari sekian banyak Negara yang menjadi tujuan para TKI, beberapa diantaranya adalah Negara yang berpenduduk mayoritas non muslim. Hal ini mengakibatkan banyak para TKI yang beragama Islam “terpaksa” bekerja (membantu) majikannya yang non muslim. Pekerjaan yang mereka terima pun hanya sebatas kuli (buruh) atau pembantu rumah tangga yang otomatis diperintah oleh majikannya yang non muslim. Sekilas para TKI tersebut masuk dalam firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51) [المائدة/51]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” [QS. Al-Mâidah (5):51]

Dari ayat ini, dengan tegas Allah melarang semua umat muslim menjadikan orang non muslim sebagai wali. Kata wali sendiri bermakna penolong, teman, dan kekasih.[1] Sedangkan mengenai maksud ayat ini, para ulama masih berbeda pendapat. Muhammad Rasyid Ridla berpendapat bahwa ayat ini berbicara tentang kondisi perang, sehingga orang muslim dilarang membantu dan berjabat tangan dengan para musuh islam, bukan karena perbedaan agama, sebab nabi juga melindungi orang-orang non muslim yang hidup di Madinah.[2] Sementara Muhammad al-Tabathaba’i memaknai ayat di atas dengan berkasih sayang dengan orang non muslim sehingga menyebabkan condongnya hati terhadap agama yang mereka anut.[3]

Dari penjelasan para ulama tersebut tampak jelas bahwa ayat ini tidak bisa digunakan atau diterapkan pada para TKI karena perbedaan konteks. Akan tetapi, pengecualian dari ayat ini, tidak cukup untuk menghukumi bahwa pekerjaan tersebut dilegalkan. Karena dalam Islam ada beberapa aturan dalam bekerja atau mencari nafkah.

Berkaitan dengan mencari nafkah, Allah telah menyinggung hal ini dalam al-Qur’an,

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ [البقرة/198]

“Tidak ada dosa atas kalian untuk mencari karunia (rizki hasil perniagaan) dari Tuhanmu.” [QS. Al-Baqarah (2): 198]

Ayat ini membolehkan umat manusia untuk mencari rizki di muka bumi tanpa ada batasan dan aturan. Akan tetapi, bukan demikian yang dikehendaki oleh ajaran Islam, sebab tidak ada kebebasan yang muthlak. Segala kebebasan pasti dibatasi dengan aturan-aturan baku.

Menurut al-Ghazali, ada empat syarat atau kriteria kasab (bekerja dalam rangka mencari rezki) yang dianjurkan oleh fiqh. Pertama, keabsahan, dalam arti memenuhi rukun-rukun dan syarat-syarat akad. Kedua, keadilan, dengan tujuan tidak ada pihak yang dirugikan. Ketiga, ihsan, artinya tidak ada unsur kedzaliman/kemaksiatan. Keempat, untuk kemaslahatan agama. [Ihyâ’ `Ulumû al-dîn, III:66]

Dalam persoalan TKI, terutama pembantu dan kuli (buruh), akad yang dilakukan adalah akad ijârah. Ijârah adalah akad sewa menyewa. Adakalanya yang disewa berupa barang sehingga dikatakan ijârah ‘ain. Adakalanya yang disewa berupa keahlian atau tenaga. Ijârah jenis kedua ini dikenal dengan ijârah dzimmah. Dalam akad ijârah, orang yang menyewa disebut sebagai musta’jir sedangkan orang yang tenaganya disewadisebut sebagai ajîr. Dalam akad ini pula, ada beberapa syarat yang harus terpenuhi agar akad yang dilakukan dianggap sah.

1. Kedua orang yang bertransaksi harus didasari dengan adanya kerelaan. Oleh karena itu, bila salah satu diantara orang yang berakad tidak rela, maka akad (transaksi) yang sedang dijalani tidak sah. Dengan begitu, bila calon TKI tidak mau bekerja di suatu tempat atau pada seseorang, maka pihak penyalur tidak berhak untuk memaksanya. Karena hal ini akan mengakibatkan calon TKI tersebut bekerja dengan terpaksa.

2. Upah dan jenis pekerjaannya harus jelas serta bisa diserahkan dan mungkin untuk dilakukan. Dari syarat ini, bila pekerjaan yang ditawarkan tidak mungkin untuk dipenuhi, maka transaksi yang terjadi tidaklah sah. Misalnya menyewa seseorang untuk memindahkan batu yang sangat besar seorang diri.

3. Manfaat atau pekerjaan yang akan dibebankan adalah pekerjaan yang diperbolehkan oleh syariat, dalam arti bukan suatu kemaksiatan.[4] Dari syarat ketiga ini, dapat dipahami bahwa bila pekerjaan yang akan dilakukan adalah pekerjaan yang bernuansa maksiat, maka transaksi yang terjadi diaggap batal. Misalnya menyewa jasa seseorang untuk membunuh saingan bisnis.

Dari syarat di atas, tampaknya untuk syarat pertama dan kedua tidak banyak permasalahan. Yang menyisakan persoalan adalah syarat yang ketiga. Banyak para TKI (ajîr) yang merasa bahwa apa yang dia kerjakan termasuk dalam kategori kemaksiatan karena membantu orang-orang kafir. Allah berfirman dalam surat al-Mâidah ayat 2:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ [المائدة/2]

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” [QS. Al-Mâidah (5): 2]

Bila dilihat sekilas, ayat ini jelas melarang orang-orang mukmin untuk tolong menolong dalam keburukan dan dosa, sehingga menolong orang kafir juga tercakup dalam ayat ini. Akan tetapi para ulama tafsir berbeda pendapat ketika menjelaskan ayat ini. Jalaluddin al-Suyuthi dalam tafsir Jalâlain memaknai al-birru dengan mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan, sedangkan kata al-itsm semakna dengan kemaksiatan. Jadi makna ayat itu kemudian menjadi “tolong menolonglah dalam mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan dan takwa serta jangan tolong menolong dalam kemaksiatan dan permusuhan”. Berbeda halnya dengan Tabâtabâi’. Beliau berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-birru adalah beriman dan berbuat kebajikan, sedangkan al-itsm adalah melakukan kejelekan yang dapat mengakibatkan keterbelakangan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Sementara kata al-`udwân bermakna merampas hak orang lain dengan hal-hal yang dapat mengancam kehidupannya, hartanya, atau kehormatannya.[5] Dengan demikian, sebenarnya cakupan kata al-birru sangat luas sekali. Mencakup segala aspek kehidupan, tidak hanya dalam persoalan ibadah saja sebagaimana pemahaman Jalâluddin, akan tetapi juga dalam persoalan ekonomi sosial.

Dari keterangan di atas, dapat dipahami bahwa berbuat kebaikan dan bekerja sama dalam mencari rezeki tidak dibatasi hanya khusus untuk sesama orang mukmin saja, melainkan tidak ada batasan agama yang mengganggu untuk berbuat kebaikan. Nabi pun pernah bekerja sama dengan orang yahudi Khaibar. Ketika itu nabi menyerahkan tanah yang menjadi hak beliau kepada orang-orang yahudi untuk dipergunakan sebagai lahan pertanian.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ دَفَعَ إِلَى يَهُودِ خَيْبَرَ نَخْلَ خَيْبَرَ وَأَرْضَهَا عَلَى أَنْ يَعْتَمِلُوهَا مِنْ أَمْوَالِهِمْ وَلِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- شَطْرُ ثَمَرِهَا.

“Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, dari Rasulullah bahwa rasulullah menyerahkan pohon kurma daerah khaibar dan tanahnya dengan syarat biayanya dari mereka dan rasulullah mendapatkan bagian dari hasil pertanian tersebut.” [HR. Muslim][6]

Tindakan nabi ini merupakan salah satu bentuk kerukunan antar agama yang terjalin saat itu, dimana para sahabat saling tolong menolong dan tidak “pandang bulu” ketika hendak berbuat kebajikan. Dari tindakan nabi dan para sahabat ini, semakin kuat bahwa bekerja sama dengan orang non muslim tidak dilarang oleh syariat.

Akan tetapi, bila ternyata bantuan yang diberikan atau kerjasama (ijârah) yang dilakukan mengantarkan pada suatu kemaksiatan, maka dalam hal ini perlu ada pengkajian ulang.

Pada hakikatnya, suatu tindakan yang bernuansa kemaksiatan terbagi menjadi dua.

1. Perbuatan yang pada dasarnya merupakan tindakan jahat atau kemaksiatan. Misalnya membunuh, mencuri, dan lain sebagainya. Para ulama sepakat dalam hal ini bahwa orang yang bekerjasama dalam hal ini berdosa dan kerjasama yang dilakukan tidak dilegalkan.

2. Perbuatan yang pada dasarnya bukan merupakan perbuatan maksiat, akan tetapi berpotensi menimbulkan kemaksiatan. Misalnya bekerjasama dalam pembangunan gereja. Menyewa seseorang untuk membangun suatu bangunan telah dilegalkan dalam Islam. Oleh karena itu, pada dasarnya menyewa seseorang untuk membangun gereja bukanlah suatu kemaksiatan, akan tetapi hal ini bisa mengantarkan pada orang lain (kafir) untuk melakukan kemaksiatan.

Dalam kasus ini, ulama berbeda pendapat. Menurut kalangan Hanafiyah, kerjasama yang dilakukan sah dan tidak apa-apa, karena akad ijârah (sewa-menyewa) untuk membangun gereja bukan salah satu jenis kemaksiatan dan bukan menjadi penyebab yang pasti terhadap adanya kemaksiatan. Kemaksiatan yang terjadi adalah karena tindakan orang yang menggunakannya.[7] Hal ini sama dengan orang yang menjual pisau pada orang lain kemudian digunakan untuk membunuh. Yang melakukan maksiat bukanlah orang yang menjual pisau tersebut, akan tetapi yang melakukan pembunuhan.

Berbeda dengan kalangan Hanafiyah, kalangan imam yang tiga (Imam Malik, Syafi’I, Hanbali). Menurut mereka, walaupun akad ijârah yang dilakukan sah, akan tetapi dimakruhkan karena berpotensi menimbulkan kemaksiatan.[8]

Akan tetapi, ijârah secara umum (selain permasalahan di atas) hukumnya sah dan boleh dilakukan walaupun yang meminta (mempekerjakan/musta’jir) adalah orang kafir dan yang diminta (diberi pekerjaan/ajîr) adalah orang muslim. Sebagaimana perkataan Imam Nawawi dalam al-Majmu’ dan Ibnu Qudâmah dalam al-Mughniy,

المجموع - (ج 9 / ص 359)

(فرع) قال أصحانبا يجوز أن يستأجر الكافر مسلما على عمل في الذمة بلا خلاف كما يجوز للمسلم أن يشترى منه شيئا بثمن في الذمة وهل يجوز للمسلم أن يؤجر نفسه لكافر إجارة على عينه فيه طريقان مشهوران ذكرهما المصنف في أول كتاب الاجارة (أصحهما) الجواز

“Para pengikut imam Syafi’i berpendapat bahwa orang non muslim boleh menyewa orang muslim untuk mengerjakan sesuatu yang masih ada dalam tanggungan (masih akan dikerjakan kemudian) sebagaimana orang muslim boleh membeli sesuatu dari orang non muslim dengan bayaran yang masih ada dalam tanggungan (hutang). Tentang kebolehan sewa menyewa ini, tidak ada seorangpun yang berbeda pendapat. Lalu, apakah orang muslim boleh menyewakan dirinya (tubuh/tenaganya) kepada orang non muslim? Dalam permasalah ini ada dua pendapat yang masyhur. Kedua pendapat itu disebutkan oleh mushannif di awal kirab Ijârah. Akan tetapi, pendapat yang paling shahih adalah pendapat yang mengatakan boleh.”[9]

المغني - (ج 8 / ص 495)

( 3181 ) فَصْلٌ : وَلَوْ أَجَّرَ مُسْلِمٌ نَفْسَهُ لِذِمِّيِّ ، لِعَمَلٍ فِي ذِمَّتِهِ ، صَحَّ ؛ { لِأَنَّ عَلِيًّا ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَجَرَ نَفْسَهُ مِنْ يَهُودِيٍّ ، يَسْتَقِي لَهُ كُلَّ دَلْوٍ بِتَمْرَةٍ ، وَأَتَى بِذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَكَلَهُ} وَفَعَلَ ذَلِكَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ ، وَأَتَى بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُنْكِرْهُ .وَلِأَنَّهُ لَا صَغَارَ عَلَيْهِ فِي ذَلِكَ .وَإِنْ اسْتَأْجَرَهُ فِي مُدَّةٍ ، كَيَوْمٍ ، أَوْ شَهْرٍ فَفِيهِ وَجْهَانِ ؛ أَحَدُهُمَا ، لَا يَصِحُّ ؛ لِأَنَّ فِيهِ اسْتِيلَاءً عَلَيْهِ ، وَصَغَارًا ، أَشْبَهَ الشِّرَاءَ .وَالثَّانِي ، يَصِحُّ .وَهُوَ أَوْلَى ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ عَمَلٌ فِي مُقَابَلَةِ عِوَضٍ ، أَشْبَهَ الْعَمَلَ فِي ذِمَّتِهِ ، وَلَا يُشْبِهُ الْمِلْكَ ؛ لِأَنَّ الْمِلْكَ يَقْتَضِي سُلْطَانًا ، وَاسْتِدَامَةً ، وَتَصَرُّفًا بِأَنْوَاعِ التَّصَرُّفَاتِ فِي رَقَبَتِهِ ، بِخِلَافِ الْإِجَارَةِ .

“Seandainya orang muslim mempekerjakan dirinya pada kafir dzimmi untuk mengerjakan sesuatu, maka akad sewa menyewa tersebut sah. Karena sayyidina Ali ra. pernah menyewakan dirinya pada orang yahudi untuk menyiram ladang milik yahudi dengan upah setiap satu timba air digaji dengan sebuah kurma. Kemudian sayyidina Ali memberikan kurma tersebut pada nabi dan dimakan oleh Nabi. Perbuatan sayyidina Ali tersebut ditiru oleh seorang laki-laki dari golongan Anshar dan memberikan kurma yang didapatnya pada nabi. Nabipun tidak pernah mengingkari perbuatan tersebut. Alasan selanjutnya adalah karena tidak ada unsur penghinaan pada orang muslim dalam akad ijarah tersebut. Akan tetapi, bila orang non muslim menyewa orang muslim untuk suatu masa tertentu, misalnya satu hari atau sebulan, maka dalam hal ini ada dua pendapat. Pendapat pertama mengatakan bahwa akad tersebut tidak sah karena mengandung unsur penguasaan dan penghinaan terhadap orang muslim. Ketentuan ini sama dengan menjual budak muslim pada orang non muslim. Pendapat kedua mengatakan akad tersebut sah. Pendapat kedua inilah yang paling sahih karena ijârah merupakan suatu pekerjaan yang diimbangi dengan bayaran (upah) sehingga menyerupai perjanjian untuk bekerja, tidak sama dengan kepemilikan (dalam budak yang diperjualbelikan), karena kepemilikan mengakibatkan adanya penguasaan, kepemilikan untuk selamanya, serta pemanfaatan secara bebas. Hal ini berbeda dengan ijârah.”

Tampaknya, Ibnu Qudâmah lebih melihat akad ijarah sebagai bisnis murni (just a bussines), sehingga tidak bisa dikaitkan dengan penghinaan dan semacamnya. Karena dalam bisnis, tidak ada perbedaan antar agama. Dengan begitu, selama tidak ada yang saling dirugikan, maka tidak masalah bekerja pada siapapun tanpa harus mengkait-kaitkan dengan perbedaan agama.

Dari berbagai penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa bekerja pada orang non muslim termasuk akad ijârah yang sah dan boleh saja dilakukan senyampang bukan akad ijârah yang ditujukan untuk kemaksiatan, misalnya untuk membunuh atau menjadi pelacur. Bila hanya sekedar menjadi pembantu rumah tangga atau kuli bangunan dan sebagainya, tidak ada ulama yang tidak memperbolehkannya karena pekerjaan yang demikian bukanlah termasuk pekerjaan maksiat.

[1] Sayyid al-Thanthâwiy, al-Wasîth, juz. I, h. 1294

[2] Tafsîr al-Manâr, juz VI, Muhammad Rasyid Ridla, Beirut: Dâr al-Kotob al-Ilmiyah, 1999, h. 353

[3] Muhammad Hosain al-Tabataba’I, al-Mîzân fî Tafsîri al-Qur’ân, jilid, V, Beirut: Mu’assasah al-A’lamiy, 1991, h. 382

[4] Al-Fiqhu al-Islamy, juz IV, h. 736-748

[5] Al-Mîzân fî Tafsîri al-Qur’ân, Sayyid Muhammad al-Thabâthabâ’I, (Beirut: Muassasah al-A’lâmy, 1991), juz V, h. 166

[6] Shahih Muslim, Imam Muslim, juz V, h. 27

[7] Fiqh Islamy, juz III, h. 581

[8] Ibid.

[9] Imam al-Nawawi, al-Majmu’, juz IX, h. 359

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 5 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 10 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 11 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 13 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Pengabdi …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Usai Gasak Malaysia, Timnas Justru Takluk …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Nama Makanan yang Nakutin …

Arya Panakawan | 9 jam lalu

Gelar Terpental demi Sahabat Kental …

Adian Saputra | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: