Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Mega Nugraha

Suka jalan-jalan, suka tempat wisata Indonesia...

Sebodoh Itukah Pemain & Suporter Sepakbola Indonesia?

OPINI | 15 January 2013 | 10:05 Dibaca: 1038   Komentar: 0   2

INGATAN kita tentu masih ingat bagaimana kalangan masyarakat menengah di Indonesia mengambil sikap dalam kasus koin untuk Prita, kasus Cicak vs Buaya versi I dan yang terakhir, kasus KPK vs Polri jilid 2.

Kita juga tentu masih ingat dengan berbagai aksi demo buruh di republik ini, yang bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah terkait sistem perburuhan di Indonesia. Meskipun mereka buruh, tapi mereka bisa menentukan sikapnya atas nasib mereka sendiri, terlebih lagi, dalam mewujudkan konsep kesejahteraan bagi Indonesia.

Singkat kata, di era post modernisme ini, kalangan masyarakat menengah mampu mempengaruhi kebijakan pemerintah.

Pemain sepakbola profesional di Indonesia, juga terbilang kelas menengah (bahkan bisa kelas menengah atas) di Indonesia. Informasi yang saya himpun menyebutkan bahwa penghasilan terendah dari mereka, rata-rata mencapai Rp 300 juta sampai Rp 500 juta per tahun atau per musim. Dan tertinggi, mencapai Rp 1 milyar sampai Rp 1.5 miliyar per tahun atau per musim.

Selain memiliki penghasilan tinggi, mereka juga memiliki peran paling utama dalam sepakbola. Belum lagi, mereka yang familiar di masyarakat, secara otomatis akan menjadi panutan bagi pecinta sepakbola.

Namun, di tengah semua hal yang mereka miliki, penghasilan tinggi dan sebagai pihak penentu dalam permainan sepakbola, sayangnya mereka tidak bisa memiliki sikap untuk merubah kondisi persepakbolaan Indonesia yang didera carut marut.

Keberadaan mereka yang memiliki bargaining sangat kuat namun tidak melakukan apa-apa untuk Indonesia, membuat logika nalar saya terusik dengan satu pertanyaan, sebodoh itukah pemain sepakbola di republik ini, sehingga tidak bisa melakukan apapun untuk merubah dunianya sendiri?

Mereka, sejauh ini pun, tidak bisa berbuat sesuatu upaya untuk memperbaiki carut marutnya konflik dualisme kepengurusan organisasi sepakbola dan kompetisi, yang menjadi masalah super tidak penting di republik ini, selama kurun waktu 2 tahun terakhir ini.

Bahkan, yang lebih tidak masuk akal, diluar masalah super bodoh PSSI-KPSI, merekapun tidak bisa mengambil sikap terkait bela negara dalam pembentukkan timnas Indonesia. Mereka malah merelakan nama Indonesia tercabik-cabik oleh konflik dan buruknya kualitas permainan sepakbola timnas Indonesia.

Kebodohan terkait sepakbola Indonesia, tidak hanya dimiliki oleh pemain sepakbola profesional di negeri ini. Tapi, kebodohan itu diikuti dengan sikap suporter sepakbola di Indonesia yang lagi-lagi tidak ambil sikap atas semua kekacauan ini.

Kita tentu masih ingat dengan reformasi 1998. Dimana jutaan rakyat mampu menggulingkan rezim Soeharto yang zalim dan menyengsarakan. Kita masih ingat ketika rakyat berbondong-bondong mengepalkan tangan menolak kebijakan kenaikkan harga BBM, di dua periode kepemimpinan SBY, sehingga kebijakan itu batal dilakukan.

Suporter sepakbola juga rakyat!, tapi masalahnya, dalam sepakbola, mereka tidak memiliki sikap dan tindakan yang bisa memperbaiki carut marut persepakbolaan di Indonesia.

Mereka lebih memilih untuk selalu disubordinasi sebagai objek pasar oleh para perusahaan yang menjadi sponsor klub sepakbola, yang mengharuskan mereka membeli semua komoditas yang berhubungan dengan sepakbola, dan akhirnya membuat mereka menjadi manusia yang konsumtif dan tidak punya sikap atas nasib negerinya.

Mereka hanya jadi sebatas objek eksploitasi stasiun TV untuk meningkatkan rating dengan menjualnya kepada korporasi, dan menghasilkan milyaran rupiah untuk para bos-bos stasiun TV. Sedangkan, apa yang didapat suporter, sama sekali nol. Malah, mereka harus menjadi seorang maling terlebih dulu untuk bisa menonton pertandingan sepakbola kemudian berakhir di penjara karena kebodohannya.

Dan satu hal lagi yang membuat miris, suporter ini justru sibuk dalam pertengkaran super bodoh terkait siapa yang mendukung KPSI dan siapa yang mendukung PSSI. Sedangkan, nasib olahraga yang merakyat ini diambang kehancuran.

Jika dipahami dengan akal yang sehat, apa sih yang mereka dapat dengan mendukung PSSI atau KPSI yang disertai dengan pertengkaran konyol, apakah dengan cara itu nasib mereka yang miskin bisa tersejahterakan. Apakah dengan sikap seperti itu membuat mereka bisa berobat dan mendapat pendidikan gratis.

Mereka itu rakyat yang jika dihimpun, memiliki kekuatan luar biasa dalam bentuk kekuatan massa. Bicara massa, hal apa yang tidak bisa dirubah, Soeharto pun bisa hancur oleh rakyat, apalagi ini hanya menghancurkan para raja kecil yang memperkeruh sepakbola di Indonesia.

Satu hal yang pasti, sebodoh itu kah pemain dan suporter sepakbola di Indonesia?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Keuntungan Minum Air Mineral di Pagi Hari …

Vitalis Vito Pradip... | 8 jam lalu

Perbandingan Cerita Rakyat Ande-ande Lumut …

Kinanthi Nur Lifie | 8 jam lalu

Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Merdeka Tapi Mati! …

Engly Ndaomanu | 8 jam lalu

‘Jujur dan Benar dalam Pola …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: