Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Arif R. Haryono

terkadang menulis, jarang bekerja, seringnya melamun dan bermimpi di siang bolong:....

Membaca Industri Sepakbola Eropa: antara Investor Asing dan Menjaga Nilai klub

OPINI | 04 January 2013 | 17:23 Dibaca: 903   Komentar: 0   2

Abramovich, Glazer,  Gillet-Hicks, hingga Mansour bin Zayed adalah gelombang kedua dari industrialisasi dan liberalisasi sepakbola Inggris. Era yang menandai dunia sepakbola benar-benar menghayati modernisasi dengan temanya “the world without border”. Sedianya mereka bukanlah pemilik asing pertama dunia sepakbola Inggris, mungkin yang mempopulerkannya. Sebelumnya terdapat beberapa nama seperti Mohammed al-Fayed pemilik Fulham atau Queens Park Rangers oleh Lakshmi Mittal.

Tulisan berikut akan mencoba mencari jawaban atas dua persoalan: (1) Mengapa mayoritas pemilik klub sepakbola Inggris berkewarganegaraan asing, dan kondisi sebaliknya di Italia; serta (2) Apa konsekuensi dari hal tersebut bagi industri sepakbola di kedua negara tersebut?

***

Ensiklopedia musik dunia mengenal fenomena “British Invasion” pada dekade 1960-an sebagai tribute atas mewabahnya musik Inggris di ranah Amerika dan dunia. The Beatles dan Rooling Stones  digadang yang membuka pintu mukadimah musik Inggris ke ranah Amerika,dan dunia pada umumnya. Fenomena ini menandai pula terciptanya satu generasi baru di Amerika, “flower generation”, yang mendobrak pola, sikap, dan kebijakan politik para tua yang mendukung perang vietnam.

Kemudahan Inggris,Kesusahan Italia

40-an tahun kemudian, Amerika (dan negara lain) “menginvasi” balik daratan Inggris melalui kepemilikan di klub sepakbola. Cukup mencengangkan mengingat fanatisme warga Inggris akan klub sepakbola kotanya berasal – kurang berprestasi tak mengapa, tapi ini klub kota saya yang harus didukung -  kira-kira demikian chauvinisme a la sepakbola Inggris. Kini amati, hanya tersisa Everton, Newcastle United, Norwich City, Stoke City, Tottenham Hotspurs, Wigan Athletic, dan WBA klub EPL yang kepemilikannya mayoritas dimiliki oleh orang Inggris asli.

Kondisi sebaliknya terjadi di Italia, di mana tidak ada satupun klub serie-A yang dimiliki asing. Pengecualian dapat diberikan kepada AS Roma yang dimiliki oleh pengusaha asal Amerika, James Palotta (menggantikan Thomas Richard diBenedetto). Tetapi patut di catat, James Palotta adalah pengusaha berkewarganegaraan Amerika keturunan Italia. Franco Sensi tak semudah itu melepas klub sepakbola yang telah sedemikian identik dengan dirinya kepada orang asing tanpa pertalian darah sama sekali dengan akar Italia. Maka dijuallah AS Roma kepada diBenedetto, kemudian diberikan kepada Palotta. Nevertheless, saya tetap menyatakan Palotta dan diBenedetto sebagai “warga” Italia

Adakah kiranya sepakbola Italia kurang menarik bagi investor asing dibanding Inggris? Bukankah antusiasme fans Italia tak kalah dibandingkan Inggris? Bahkan dalam pandangan pribadi saya fans di Italia jauh lebih ekspresif dalam menunjukkan kecintaannya kepada klub kebanggaannya. Tengoklah stadion-stadion di Italia, penuh dengan banner, flare, dan spanduk dukungan terhadap klub atau celaan kepada lawan – hal yang diharamkan di tanah Inggris yang “hanya memperbolehkan” fans untuk bernyanyi.

Satu data yang dilansir oleh World Bank sedikit banyak menjawab pertanyaan saya tersebut. Dalam rilis tersebut, WB membuat peringkat negara-negara dunia atas kemudahan berinvestasi negaranya. Setidaknya ada 10 kriteria yang dijadikan penilaian, seperti kemudahan urusan pajak, perdagangan lintas negara, dan sebagainya. Namun saya hanya akan mengambil beberapa saja yang kiranya terkait dan berpengaruh terhadap dunia sepakbola Inggris dan Italia (sila simak tabel di bawah)

Peringkat Kemudahan Berinvestasi tahun 2013  versi World Bank

Topic Rankings

Italy

UK

Deviation

Starting a business

84

19

-65

Dealing with Construction Permit

103

20

-83

Getting Electricity

107

62

-45

Registering Property

39

73

34

Getting Credit

104

1

-103

Protecting Investors

49

10

-39

Resolving Insolvency

31

8

-23

Sumber: doingbusiness.org

Dari tabel tersebut memang terlihat jelas dalam hal, meminjam istilah Gita Wiryawan ketika menjabat Badan Koordinasi Penanaman Modal satu waktu, “karpet merah” yang diberikan negara terhadap investor asing, Italia kalah hampir di setiap lini dari Inggris. Hal yang menarik misalnya kemudahan dalam hal properti dan konstruksi (dealing with construction permit) di mana Italia hanya mendapatkan peringkat 103, berbanding terbalik dengan Inggris di peringkat 20. Tak heran, klub-klub EPL mampu memiliki stadion sendiri , bahkan untuk ukuran klub yang berlaga di liga kelas 2 sekalipun. Sementara di Italia baru Juventus yang memiliki stadion sendiri.

Jika yang menjadi persoalan adalah ketiadaan dana, maka hal ini bisa ditarik pada persoalan kredit (getting credit), perlindungan terhadap investor (protecting investor), dan kemampuan menghadapi kebangkrutan (resolving insolvency). Tengoklah deviasi peringkat Italia dan Inggris. Adagiumnya adalah jika pemerintah tidak mampu memberikan keamanan, kenyamanan, dan jaminan investor asing di negaranya, jangan harap aliran dana luar negeri akan masuk ke domestik.

Sepakbola Inggris vs Italia: antara “Laba” dan Akar Budaya

Sepakbola Italia memang menarik. Di tengah arus invasi asing kepada klub-klub sepakbola Eropa, Italia bergeming. Sang patron klub tetap bersikukuh memegang kendali penuh. Agnelli-Juventus, Berlusconni-AC Milan, Moratti-Inter Milan, hingga de Laurentiis-Napoli tetap lah der fuhrer di klubnya masing-masing. Satu lelucon mungkin bisa disajikan atas fenomena kebengalan pemilik klub Italia yang enggan melepas klubnya: sepakbola di Italia mungkin kurang menawarkan profit ekonomi, tapi sangat menjanjikan secara modal sosial-politik. Gianni Agnelli (Juventus) dan Silvio Berlusconni (AC Milan) adalah contoh ideal atas laba  politik  yang didapat pemilik klub.

Bak koin bermata dua, klub-klub liga Inggris yang memasuki era industri sepakbola pada arti sebenarnya menenggak laba besar-besaran – bersaing ketat dengan Real Madrid dan Barcelona. Sementara klub serie-A – di luar Juventus – berjibaku habis-habisan agar tak terkena klausul FIFA Financial Fairplay. Satu kelemahan industrialisasi sepakbola (jika ingin dikatakan demikian) di Italia adalah lemahnya infrastruktur klub atas peluang-peluang pundi pemasukan; tiket pertandingan, merchandise, penyewaan lahan stadion, serta bisnis lain di luar sepakbola.

Namun tingginya pemasukan klub Inggris juga memiliki “harga”nya, yaitu nilai-nilai (values) klub yang tercerabut dari akarnya serta kesenjangan (gap) klub dengan fans. Anda yang fans Manchester United mungkin ingat masa-masa awal Malcolm Glazer mengambil-alih MU. Saat itu banyak manchurian yang datang ke stadion memprotes kebijakan Glazer yang menaikkan harga tiket langganan berkali lipat, minimnya dukungan dana terhadap pengembangan tim, isu pergantian Sir Alex Ferguson dan lain sebagainya. Syal kuning-hijau dipilih menjadi simbol perlawanan. Liverpudlian pun memiliki pengalaman tak jauh berbeda dengan slogannya “Yankees go to Hell”. Maaf jika ada salah data, saya kurang hapal

Hal berbeda di Italia. Meski tak memiliki keleluasaan dana setinggi dan seluas klub Inggris, klub Italia yang dikelola oleh “putra daerah” menjalankan roda organisasinya berangkat dari kredo dan nilai dasar klub. Ambil contoh kebijakan Presiden SC Napoli, Aurelio de Laurentiis satu waktu yang memberikan sekian porsi saham klub kepada fans atau tidak memberlakukan tiket tarif tinggi. Di Italia, sepemahaman saya, SC Napoli memang salah satu klub yang berangkat dari falsafah pengelolaan klub berbasis komunal. Juventus, di lain hal, memiliki aturan dasar pengelolaan klubnya pada pemain muda lokal berbakat. Tak heran, akademi primavera Juventus – bersama AS Roma – dalam dekade terakhir digadang sebagai akademi sepakbola terbaik di daratan Italia.

***

Thus, ada perbedaan mendasar pengelolaan manajemen klub di Inggris dan Italia – terutama Inggris pasca booming-nya prestasi Chelsea akibat masuknya Roman Abramovic. Sisi lain, klub Italia meski megap-megap menghadapi ketatnya kompetisi di benua biru senantiasa tetap berusaha menjaga akar budaya klub di mata fans. Ada sisi positif, ada sisi negatif.

Pertanyaannya, sampai kapan klub-klub Inggris mampu bertahan dari pengelolaan berbasis kapitalis? Sebaliknya, sampai kapan pula klub Italia mampu bertahan dari godaan “dolar hitam” dan melepas kepemilikan klub?

Selalu ada awal dari segala sesuatu.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 7 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 12 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 13 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 15 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Preman …

Bhre | 7 jam lalu

Bercanda, Berfilsafat! …

Wahyudi Kaha | 8 jam lalu

Persipura Punya 5 Kandidat Pelatih Baru …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Hujan …

Gusranil Fitri | 8 jam lalu

Renungan Malam Tahun Baru 1436H: Ketika Doa …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: