Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Atik Dinarti Ary

Ilmu Komunikasi @UINSK | Travel Photographer n Writer | Love the ARTmostphere

Pelajaran Penting dari La Masia

REP | 31 December 2012 | 01:10 Dibaca: 1047   Komentar: 0   2

Siapa tak kenal Lionel Messi, Xavi Hernandes, atau Andreas Iniesta? Para football lovers pasti tak asing lagi dengan pemain-pemain lapangan hijau ini. Ketiganya terbilang sukses didunia sepakbola. Pendapatannya mencapai angka yang bombastis, hingga mampu bergonta-ganti tunggangan setiap hari. Juga mampu membangun rumah mewah sekelas para pemilik modal besar. Dan tentu saja diiringi popularitas yang tak mudah redup seperti pesepakbola yang tiba-tiba muncul, gemilang, untuk kemudian dilupakan begitu saja karena kekalahannya. Semua pencapaian itu tentu tak lantas bisa didapat sekejap mata. Butuh perjuangan panjang sebelum ketiganya mencapai posisi seperti yang mereka dapatkan sekarang ini.

Datang dari Fuentealbilla, sebuah kota yang terletak sekitar 450 kilometer dari Barcelona di provinsi Albacete, Iniesta kecil kerap menangis. Karena dengan jarak sejauh itu, ia tak dapat sering-sering dijenguk orang tuanya. Seperti layaknya anak kecil lain, Iniesta tersiksa dalam kondisi ini. Saat-saat masa kecilnya itu, Iniesta juga sering menjadi bahan ejekan temannya karena posturnya yang terbilang mungil dan kulitnya yang tipis. Ia masuk ke La Masia atas rekomendasi Alberto Benaiges, pelatih sekaligus pencari bakat Bercelona, usianya baru 12 tahun. Benaiges pulalah yang membawa Gerard Pique, Victor Valdes, dan Jordi Alba ke La Masia. Alumnus lainnya yakni Guardiola, Messi, Pique, Fabregas, Puyol, Busquets, dan Pedro. Punggawa terbaru di La Masia kini adalah Victor Vazquez, Jonathan dos Santos, Marc Bartra, Andreu Fontas dan Thiago Alcantara.

La Masia adalah bangunan dua lantai yang berdiri di tanah seluas 610 meter persegi. Bangunan ini dibeli oleh manajemen klub Barcelona dari seorang petani pada 1957. Baru pada 20 Oktober 1979 bangunan ini dijadikan pusat latihan tim junior Barcelona atas ide Johan Cruyff, salah seorang pesepakbola legendaris dari Belanda. Tempat ini tidak seperti bayangan orang-orang tentang barak militer karena namanya yang “pusat pelatihan”. Di tempat ini para pemain junior ini tetap sekolah biasa seperti anak-anak lainnya, yakni dari jam 8 pagi hingga jam 2 siang. Anak-anak yang berusia 5-15 tahun ini hanya berlatih satu setengah jam tiap harinya. Selain itu mereka diberi waktu satu jam istirahat sebelum latihan sepakbola dimulai.

Sepele memang kelihatannya, hanya 1,5 jam setiap hari tanpa meninggalkan kewajiban lain. “Sebelum mereka berusia 16 tahun, kami tidak memberikan latihan fisik untuk mereka, kata Folguera, “Kami hanya menanamkan filosofi sepakbola, kedisiplinan, kesabaran, dan sedikit teknik bermain bola.” Ternyata penguatan tekad itulah yang harus ditanamkan dahulu, agar para calon pemain besar ini tidak gampang teralihkan perhatiannya oleh hal-hal lain. Sejak dini mereka dilatih kesabaran dan ketelatenan. Bahwa keberhasilan dalam dalam pertandingan sangat dipengaruhi oleh pola pelatihan yang diterapkan. “Kami selalu mengatakan kepada mereka bahwa mimpi adalah perjalanan panjang. Siapapun harus bersabar untuk meraihnya.” tutur Folguera.

Dilihat dari pencapaian para alumnusnya, konsep yang diterapkan –kesabaran- di La Masia ini layak untuk ditiru di dunia sepakbola tanah air. Konsep ini lahir dari keinginan untuk menguasai bola selama mungkin, bukan sekedar menciptakan gol sesegera mungkin. Tak ada alasan untuk tidak menerima anak-anak bertubuh imut seperti Iniesta atau bahkan seperti Messi yang mengalami gangguan hormon pertumbuhan. Semua anak itu spesial. Kekuatan fisik pemain tak begitu penting di tempat pelatihan ini, karena yang dicari adalah pemain yang bisa berpikir dan mengambil keputusan dengan cepat, memiliki bakat, teknik dan kelincahan.

Hasilnya, tiga finalis terbaik FIFA 2010 yakni Messi, Iniesta dan Xavi lahir dari kamp ini. Begitu juga dengan tujuh dari sebelas pemain Timnas Spanyol saat menjuarai Piala Dunia 2010. Tak lain dan tak bukan, anak-anak La Masia.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Ini Curhat Saya dan Curhat Pak Ganjar …

Ratih Purnamasari | | 28 November 2014 | 07:28

Ditangkapnya Nelayan Asing Bukti Prestasi …

Felix | | 28 November 2014 | 00:44

Masih Perlukah Pemain Naturalisasi? …

Cut Ayu | | 28 November 2014 | 08:26

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08


TRENDING ARTICLES

Yang Bodoh Sekali Itu Tedjo Edhy ataukah …

Daniel H.t. | 9 jam lalu

Ini Kata Mahasiswa Vietnam tentang …

Hizkia Huwae | 13 jam lalu

Ngoplak Bareng Pak Jonan, Pak Ahok, Pak …

Priadarsini (dessy) | 13 jam lalu

Polisi Serbu Mushollah Kapolri Diminta Minta …

Wisnu Aj | 15 jam lalu

Demi Kekuasaan, Aburizal Mengundang Prabowo …

Daniel H.t. | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: