Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Niken Satyawati

Ibu 4 anak, tinggal di Solo. Memimpikan SEMUA anak Indonesia mendapat pendidikan layak: bisa sekolah selengkapnya

Kematian Pesepakbola Diego Mendieta Memalukan Indonesia!

REP | 04 December 2012 | 10:27 Dibaca: 5000   Komentar: 0   22

13545915181479584650

Diego Mendieta (foto dari Pasoepati.net)

RS Moewardi Solo, ramai seperti biasa, Selasa (3/12/2012). Hampir di semua tempat pelayanan dijubeli pengunjung yang akan memeriksakan diri atau mengurus rawat inap dan jalan. Bersamaan dengan saat Bapak saya kontrol di poli mata Paviliun Cendana, pagi itu, terdengar kabar, seorang pesepakbola berkewarganegaraan asing meninggal di RS tersebut. Jenazah Diego sejak meninggal Selasa dini hari masih terbaring di Kamar Jenazah RS tersebut, menunggu pemulangan ke negara asalnya.

Dan memang benar. Di dunia maya telah berseliweran berita meninggalnya Diego Mendieta, pemain asal Paraguay yang telah menyumbangkan tenaga dan bahkan nyawanya buat Persis Solo versi Liga Indonesia di RS Moewardi Solo. Benar-benar MENYUMBANG, karena tenaga Diego memang tidak dihargai secara profesional.

Meninggalnya Diego tentu duka bagi dunia sepakbola Tanah Air, dan dunia sepakbola Paraguay. Namun bukan itu yang membuat hati siapapun pasti tercabik-cabik. Yang lebih mencengangkan dan dimuat hampir semua media massa online, adalah informasi bahwa Diego yang sudah merumput selama 4 bulan untuk Persis, belum pernah menerima gaji! Sungguh TRAGIS!

Oleh karena belum menerima gaji yang tertunggak senilai Rp 120 juta, untuk makan dan biaya kos dia harus berutang.Ini sungguh amat sangat memalukan bagi saya sebagai orang Indonesia. Pertanyaan yang timbul, mengapa hal ini sampai terjadi?????? Bagaimana nasib keluarganya di Paraguay sono? Sedangkan situs-situs olahraga menyebut Diego ini punya istri dan dua anak yang masih kecil, dan tentu perlu biaya hidup dan pendidikan.

Belum jelas benar penyebab meninggalnya Diego.Sebab Diego selama ini memang hanya mendapatkan perawatan ala kadarnya, disebabkan ketiadaan biaya. Hipotesa awal menyebut dia sakit tifus dan liver. Penyakit khas orang banyak masalah dan kurang gizi. Belakangan tim dokter RS Moewardi menyatakan Diego positif terkena cytomegalovirus yang sudah menyerang otak, jamur kandidiasis di saluran pencernaan dan positif mengidap demam berdarah.

Diego sudah beberapa kali masuk RS. Dia juga sudah berkali-kali dilarikan ke RS oleh rekan-rekannya. Namun dia menolak dirawat inap karena tak ada uang untuk membayar. Sedangkan biaya hidup dan perawatan kesehatannya selama ini adalah hasil patungan para suporter sepakbola Solo yang bernanung di bawah bendera Pasoepati.

Siapa yang tak akan sakit kalau menanggung masalah seperti Diego. Bekerja, tapi tak menerima penghasilan. Sementara dia berstatus kepala keluarga. Keluarga yang ditinggalkan tentu juga menunggu-nunggu kiriman. Beban pikiran dan kekurangan gizi, akan membuat siapapun menderita. Dan Diego akhirnya mengakhiri penderitaan dengan kematiannya.

Yang paling memilukan adalah pesan terakhir Diego yang dikirim melalui ponsel kepada teman-temannya. Dia mengatakan:

“Gak minta gaji full
Aku
Cuma minta tiket pesawat
Biar bisa pulang
Ketemu MAMAH
Dan
Mati di negara saya”

Begitu rindunya Diego kepada keluarganya. Hingga dia merelakan gajinya tidak dibayar full asal diberi tiket untuk pulang ke negaranya. Namun rindu yang sangat mendalam kepada mama, anak-anak dan istrinya, ternyata harus dipendam hingga akhir hayat.

13546800991763691840

Foto istri Diego dan anak-anaknya yang ada di kamar kos di Solo. (foto dari Kompas.com)

Rasa-rasanya sejak 2 tahun ngompasiana, saya belum pernah membuat tulisan tentang sepakbola, karena memang bukan bidang dan kompetensi saya untuk itu. Namun kematian  Diego Mendeita sungguh telah membuat NURANI SAYA SEBAGAI MANUSIA memanggil-manggil. Akhirnya kali ini saya menulis tentang sepakbola sebagai wujud empati, simpati dan kesedihan saya atas nasib tragis Diego khususnya, dan atas karut marutnya persepakbolaan Tanah Air.

Kematian Diego tentu menjadi hantaman bagi penggede-penggede sepakbola negeri ini, yang hingga saat ini terus ribut tak kunjung selesai. Siapapun yang berwenang atas dunia persepakbolaan di Indonesia, hendaknya segera mengambil keputusan untuk mengakhiri konflik yang terjadi. Mestinya mereka melihat apa yang terjadi ketika pada sibuk bertikai. Apakah melayangnya nyawa Diego tak menggetarkan hati mereka!??

13546800471084812135

Selamat jalan, Diego…
Maafkanlah Indonesia
Yang membuatmu seperti itu

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | | 03 September 2014 | 00:57

Ironi Hukuman Ratu Atut dan Hukuman Mati …

Muhammad | | 03 September 2014 | 05:28

Persiapan Menuju Wukuf Arafah …

Dr.ari F Syam | | 03 September 2014 | 06:31

Kasus Florence Sihombing Mengingatkanku akan …

Bos Ringo | | 03 September 2014 | 06:01

Tiga Resensi Terbaik Buku Tanoto Foundation …

Kompasiana | | 03 September 2014 | 08:38


TRENDING ARTICLES

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 3 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 4 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 5 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 6 jam lalu

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Tur Eropa dan Blunder Lanjutan Timnas U-19 …

Mafruhin | 7 jam lalu

Catatan Perjalanan: +Nya Stasiun Kereta Api …

Idris Harta | 8 jam lalu

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 8 jam lalu

Orangtua yang Terobsesi Anaknya Menjadi …

Sam Edy | 8 jam lalu

Indo TrEC 2014 : Mengurai Kekusutan Lalu …

Wahyuni Susilowati | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: