Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Bay Marcchiodi

Ideologi, Sikap dan Otak

Degradasi Sikap Indonesia di Sepak Bola

OPINI | 02 December 2012 | 05:11 Dibaca: 512   Komentar: 22   0

Saya sedih melihat sepakbola negara saya hancur. Dan yang membuat saya lebih sedih lagi, orang-orang dinegara saya sudah mati rasa, gak lagi bisa bedain mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang benar dan mana yang salah. Degradasi sikap!

Yang saya permasalahkan adalah adanya Liga kampung di negara saya, LPI. Saya sangat membenci orang-orang di balik IPL. Baik itu pengurus klub, pemain, penonotn, semua pihak yg berhubungan dengan IPL, termasuk perusahaan-perusahaan yang mendukung IPL, dan yang paling saya benciadalah semua pengurus PSSI.

Saya hanyalah penikmat sepakbola di Indonesia, bukan suporter fanatik sebuah klub di Indonesia. Saya adalah suporter Merah Putih, Garuda (yang asli, bukan palsu).

Saya tahu bahwa liga yang ada (ISL) belumlah menjadi liga yang terbaik, tapi menurut saya setidaknya ISL menjadi salah satu liga terbaik di Asia Tenggara, paling tidak dunia internasional mengakui hal itu. Saya tahu masih banyak kekurangan sana-sini, belum 100% profesionalnya klub-kub di Indonesia. Tapi menciptakan liga baru (apalagi tanpa melalui aturan yang ada) adalah menambah masalah baru. Tolong diingat wahai pendukung Djohar, liga itu sistematis, ada prosesnya yang panjang sehingga menhasilkan divisi-divisi sesuai levelnya. Dan tiap-tiap divisi melalui proses untuk mencari juara-di tiap-tiap level. Anda tidak bisa seenaknya menciptakan liga baru yang diikuti oleh klub-klub yang anda sendiri pilih. Liga sepakbola ini bukan bergaya liga basket NBA, yang tidak ada promosi-degradasinya.

Tolong lihat sekali lagi bagaimana awal terbentuknya IPL. Saya juga sama bencinya seperti orang-orang di negeri ini dengan ketua PSSI yang lama, tapi secara fair Djohar Arifin jauh lebih buruk kelakuannya. Dulu wajar jika IPL dikatakan liga terlarang dan tidak diakui oleh PSSI, karena memang faktanya seperti itu. IPL tiba-tiba aja muncul, tiba-tiba aja lahir tanpa adanya proses kompetisi. Nah kalo sekarang PSSI memutuskan ISL itu ilegal, justru itu yang aneh. Apakah anda semua rela keputusan PSSI ditangan ketua umunnya? siapapun ketua umumnya. PSSI itubukan milik pribadi, PSSI itu pemilik hak suara dan juga seluruh rakyat Indonesia. Jangan seenaknya memutuskan sesuatu secara pribada, kalo anda memang tahu bagaimana cara beroganisasi yang benar.

Ini bukan masalah saya mendukung KPSI atau PSSI Djohar, tapi setelh kelucuan tingkah laku Djohar Arifin dan sekutunya, saya rasa KPSI secara visi sama seperti yang saya harapkan.Sekali lagi kalau memang ISL dianggap belum sempurna, ayo bikin sempurna jangan main ganti aja.

Sejak jaman Arifin Panigoro mengumumkan berdirinya IPL, saya sudah membenci IPL. Saya membenci Metro TV, Indosiar dan stasiun-stasiun TV yang menyiarkan IPL. Saya membenci perusahaan-perusahaan yang namanya ada di pinggir lapangan IPL. Saya membenci setiap pemain, klub dan pengurus yang bermain di IPL. Bagi saya mereka akan menjadi biang keladi rusuhnya sepakbola di Indonesia, dan ternyata saya benar.

Persema, PSM dan Persibo Bonjonegor adalah 3 klub ISL pertama yang nyebrang ke IPL. Bagi saya mereka adalah pengecut. Ketiga klub tersebut adalah klub medioker di ISL, alaupun PSM pernah punya nama besara di dunia sepakbola nasional. Mereka adalah sekumpulan pengecut yang merasa tidak bisa bersaing di ISL, shingga mencari tempat baru agar mereka bisa lebih “ditakuti” lawan-lawannya, agar mereka merasa lebih merasa hebat di kopmpetisinya.

Begitu pula Semen Padang dan klub-klub lainnya yang memilih kompetisi ini di musim berikutnya. Mereka adalah sekumpulan pengecut, dan saya heran kenapa suporternya tidak ada protes atau membiarkan hal itu terjadi.

Arifin Panigoro, Djohar Arifin, dan orang-orang di PSSI sekarang ini adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kisruhnya sepakbola di Indonesi, jangan malah menyalahkan La Nyalla. Saya tidak pernah mendengar nama La Nyalla sebelumnya, saya tidak tahu siapa dia, tapi saya salut kepada dia dan rekan-rekannya yang berani mengatakan tidak untuk sesuatu yang salah. Dia berani leuar dari zona nyamannya (waktu dia mnjadi excom ya? kalo ga salah). Kenapa saya bilang begitu? karena dengan dia bergabung dengan “penguasa”, mengikuti arus, dia ga akan pusing. Kalau ada yg bilang dia sejak awal mengincar kursi ketua umum PSSI, saya pikir kalao hanya gara-gara itu dia keluar dari zona nyamannya untuk sesuatu yang belum jelas, saya kira dia akan sangat bodoh. Tapi terlepas dari apa yang terjadi, saya benar-benar salut akan sikapnya untuk berani mengatakan tidak!

Beberapa bulan terakhir ada wacana untuk mencari jalan tengah dengan melebur kompetisi menjadi satu. Saya paling tidak setuju dengan itu. Itu sama saja menepikan alasan bagaimana IPL bisa lahir. Bagi saya itu hal penting, kita tidak bisa membiarkan dan meremehkan masalah semacam itu. Sesuatu yang salah harus tetap salah. IPL mesti bubar, itu harga mati! Dan jika PSSI sudah membubarkan IPL, kalau memang belum puas dengan liga yang ada, putuskan sesuai dengan statuta, bukan atas dasar kemauan seorang Arifin Panigoro atau Ketua Umum PSSI.

Untuk Arifin Panigoro dan Djohar Arifin, daripada hidup anda tidak berkah karena banyak yang mendoakan hal-hal buruk terjadi pada anda, segeralah meminta maaf dan mengembalikan sepak bola Indonesia kepada jalan yang benar. Apakah keluarga, kolega dan orang-orang yang nada kenal tidak malu dengan sikap pengecut kalian?

ISL vs IPL bukanlah masalah Arifin Panigoro vs Keluarga Bakrie. Tidak sepicik itu. Saya bukan dalam kapasitas mendukung keluarga Bakrie atau tidak. ISL bukan milik Bakrie, ISL milik suporter sepakbola di Indonesia.

Jadi untuk semua pihak yang telah membuat sepakbola Indonesia kacau, saya menuntut anda sekalian untuk mengembalikan sesuai dengan jalurnya.

Untuk anda yang masih mati-matian membela IPL, apa pendapat anda tentang bagaimana cara Djohar Arifin melahirkan IPL?

Bagi saya nasionalisme penting, tapi bukan segalanya. Kebenaran tetaplah diatas nasionalisme semu dan urahan. Nasionalisme tidak cukup hanya memakai jersey timnas, tidak hanya diukur dukungan kita terhadap timnas. Mohon artikan lagi arti nasionalisme…

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kabar Buruk untuk Pengguna APTB, Mulai Hari …

Harris Maulana | | 01 August 2014 | 11:45

Aborsi dan Kemudahannya …

Ali Masut | | 01 August 2014 | 04:30

Mendekap Cahaya di Musim Dingin …

Ahmad Syam | | 01 August 2014 | 11:01

Generasi Gadget dan Lazy Parenting …

Umm Mariam | | 01 August 2014 | 07:58

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 5 jam lalu

Kalah Tanpo Wirang, Menang Tanpo Ngasorake …

Putra Rifandi | 8 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 8 jam lalu

SBY-MEGA Damai Karena Wikileak …

Gunawan | 8 jam lalu

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: