Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Sigit Nurfianto

Kalteng mania, Lanus, Madridista, Holigan Garuda, saya suka terharu melihat masyarakat indonesia, yg ikhlas menerima selengkapnya

Allah Tidak Akan Menguji Hamba-Nya di Luar Kemampuan

OPINI | 16 November 2012 | 00:56 Dibaca: 1112   Komentar: 0   1

“Allah Tidak akan Menguji Hamba-Nya di Luar Kemampuan, di Balik Kesulitan Biasanya akan Ada Kemudahan.”

Membaca ungkapan diatas yang diungkapkan Pelatih Timnas Nil Maizar, terasa ada yang menyejukkan didada ini, ada keikhlasan untuk terus mencari jalan keluar terbaik bagi semua permasalahn yang mendera TIMNAS. Semua dianggap sebagi ujian, yang akan manis diakhirnya, ibarat obat walaupun terasa pahit, akan manis efek dan khasiat yang di timbulkannya, asal kita mengelola ujian itu dengan cara-cara yang baik, tawadlu, ikhtiar dengan ilmu yang dimiliki bukan berpangku tangan mengharap keajaiban dari atas, iklas menerima sambil memohon kekuatan agar diberi kemampuan terbaik menangani masalah yang ada.

Ada cerita yang bisa kita ambil dari Buku The Great Story Of Muhammad, cerita diambil dari kisah perang Khandaq (perang parit), saat itu dikisahkan bagaimana kaum musyrikin akan menyerang kaum mukminin di Madinah, dari hasil musyawarah kaum muslimin yang dipimpin Rasulullah, di putuskan untuk membuat parit dengan kedalaman 4,5 m, lebar 7m mengelilingi kota madinah. Saat itu musim paceklik dimana  bahan makanan susah didapat, tetapi mereka tetap bersemangat untuk mengerjakan parit tersebut, bahkan dikisahkan untuk menahan lapar Rasulullah pun sampai mengikat perutnya dengan batu untuk menahan lapar. Rasulullah menugaskan setiap 10 orang menggali 40 hasta. Ditengah iklim yang tidak bersahabat, ditengah kekurangan bahan makanan mereka bergerak. Rakyatpun tidak mau berpangku tangan, dikisahkan Jabir bin Abdullah melihat Rasulullah tersiksa menahan lapar, dia menyembelih 1 hewan, dan istrinya menanak satu sha tepung gandum, setelah masak beliau membisiki Rsulullah pelan-pelan agar datang kerumahnya bersama beberapa sahabat, namun Rasulullah SAW justru berdiri dihadapan semua orang yang jumlahnya lebih seribu orang, mengajak mereka bersantap bersama, menurut logika tidak akan cukup, tetapi ternyata semuanya kenyang bahkan ada sisa daging, begitu pula adonan tepung untuk roti ( HR Bukhari)

Hikmah apa yang bisa kita ambil? Menyimak ungkapan Nil Maizar diatas, dan meneladani kisah Rasulullah SAW tersebut, bisa kita ambil benang merah. Tidak ada yang tidak mungkin, asalkan kita bekerja dengan niat yang baik, cara-cara yang benar, tujuan yang baik serta penuh keikhlasan, Insya Allah kemudahan akan datang, barokah akan datang. Kita lihat pelatih kita sangat bersahaja, sangat percaya akan kekuatan Allah, dengan ilmu yang dimiliki dia berusaha mencari solusi terbaik bagi timnya. Rakyatpun yang di representasikan sebagai suporter bergerak mengumpulkan koin yang bagi sebagian orang dianggap recehan, hanya sekali makan diner bagi sebagian orang yang berkecukupan, mengumpulkan serupiah demi serupiah ibarat binatang 1 ekor dan gandum 1 sha tapi bisa mencukupi kebutuhan pasukan lebih dari seribu, kumpulan koin itu jangan dilihat dari jumlah tapi tolong dilihat sebagai ikhtiar keihklasan tanpa syarat, seperti kalau timnas bermain baik karena itu hanya sebuah tontonan baru saya sumbang,asal mau mengangkat si fulan sebagai pelatih, mengangkat si B sebagai pemain dan syarat- syarat lain, tetapi semua diserahkan kepada tim pelatih dan pengurus mengaturnya, kita hanya menyumbang TANPA SYARAT.

Akhirnya sebagai penutup marilah kita dorong TIMNAS ini yang dibentuk dengan ikhtiar, yang dibentuk dengan cara yang baik, yang dicemoohkan oleh sebagian orang sebagai bukan tim terbaik, agar mampu memberikan yang terbaik bagi negaranya, mampu menunjukkan karakter dan nilai-nilai kejuangan para pendahulu kita yang mau berkorban jiwa raga demi tetap berkibarnya MERAH PUTIH, demi NASIONALISME. Sebagai seorang dokter saya berusaha menjadikan dr Wahidin Sudirohusodo sebagai tauladan juga, tentunya selain Rasulullah, yang mau bekerja sebagai dokter pribumi, mengobati bangsanya sendiri, mendorong KEBANGKITAN NASIONAL saat itu, menunjukkan pentingnya pengorbanan dengan penuh keikhlasan, menunjukkan apa itu NASIONALISME, akhirnya BAGIMU NEGERI JIWA RAGA KAMI….

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Manusia Api …

Nanang Diyanto | | 19 September 2014 | 17:32

“Kita Nikah Yuk” Ternyata …

Samandayu | | 19 September 2014 | 08:02

Masa sih Pak Jokowi Rapat Kementrian Rp 18 T …

Ilyani Sudardjat | | 19 September 2014 | 12:41

Seram tapi Keren, Makam Belanda di Kebun …

Mawan Sidarta | | 19 September 2014 | 11:04

Dicari: “Host” untuk …

Kompasiana | | 12 September 2014 | 16:01


TRENDING ARTICLES

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Memilih: “Kursi yang Enak atau Paling …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Ahok Rugi Tinggalkan Gerindra! …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Ahok Siap Mundur dari DKI …

Axtea 99 | 17 jam lalu

Surat untuk Gita Gutawa …

Sujanarko | 20 jam lalu


HIGHLIGHT

Ini Dia ‘God Of Gamblers’ Dunia …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Ahok, Sang Problem Solving …

Win Winarto | 7 jam lalu

Sudut Korner Senja Pelipur Lara …

Ishadi Ishak | 7 jam lalu

Rupiah Dipermainkan? …

Heno Bharata | 7 jam lalu

“Evan Dimas dan Paolo Sitanggang di Atas …

Leonardi | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: