Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Gussz_ganzz

seorang lelaki yang tinggal di pedalaman kota bandung dan berkelana di kota besar dengan semua selengkapnya

Persib oohhh Persib..

OPINI | 01 November 2012 | 10:23 Dibaca: 1029   Komentar: 0   3

kemarin penulis sudah publish atikel ini namun karena keawaman penulis di kanal kompasiana ini sehingga di hapus. melanjutkan apa yang ada dibenak sang penulis tentang salah satu klub terbesar di indonesia dan puluhan ribu suporter yang selalu memadati stadion si jalak harupat atau siliwangi, yaa siapa kalau bukan klub kebangaan kota bandung bahkan jawa barat persib. masih ingat dalam memori ketika dulu persib masih mengandalkan jiwa kedaerahan nya dan tentu saja sikap nasionalisme yang tak di ragukan lagi, masih teringat di benak pemain semacam Robby Darwis, Yudi Guntara, Ajat Sudrajat, Adeng Hudaya, Yusuf Bachtiar, Sutiono Lamso, dan beberapa pemain lokal lainnya, begitu ditakuti para lawan. Mereka mengusung permainan tiki-taka ala Maung Bandung. dan mengusung nama indonesia di era nya masing masing.

awal nya sangat senang persib menjadi salah satu pelopor tim yang bebas apbd selain arema yang kini tergadai kan namun jaman berganti dan perlahan namun pasti klub yang dulu selalu mencetak pemain untuk timnas sekarang malah menjadi pengikut setan yang berada di atas lumpur dan peng kosumsi pemain bintang walau prestasi tak datang jua. dan hanya menjadi gundik bila ingin di sebutkan seperti itu, manajemen yang ada di lingkaran seperti nya tutup telinga dan mata ketika negara memanggil pemain pemain yang berstatus bintang dan dianggap lebih profesional malah tercebur di lumpur sang majikan, begitu miris melihat tindak tandung klub ini, dari dulu sampai sekarang warna biru selalu berkibar ketika persib bermain di manapun mamun sekarang warna itu sudah tercemar dengan warna kuning yang sangat pekat.. jijik iya karena semua itu rasa nasionlisme dan semangat yang dulu di banggakan oleh bobotoh persib hilang tak berbekas, dipimpin sang kumis yang begitu bangga nya persib bisa menyaingi siapapun sampai panggilan negara untuk pemain diabaikan bahkan berkata pelatih yang terbaik adalah seorang mbah tua yang belum teruji kapasitas nya ya itu fakta malah menghina anak negeri yang berkorban demi merah putih, mau dibawa kemana pak kumis klub ini?? sikap jumawa itu akhir nya menerkam balik ketika di permalukan oleh tim amatir yang dibilang tarkam dan berada di liga tarkam harus malu dan sekarang ada tawaran uji coba dari juara liga tarkam malah diam dan tak bisa bertindak atau hanya mau melawan di kandang sendiri?? dimana auman maung mu persib?? apakah sudah ompong atau sudah di kerangkeng oleh lumpur??

persib sekarang dan persib yang dulu begitu jauh berbeda ketika dulu menjadi pemersatu bangsa dan pemuda kini hanya gundik yang menyusu ke lumpur dan menggadaikan status besar mu sebagai klub besar di indonesia…

persib oohh persib..

salam dari anak kampung

http://www.bola.net/indonesia/persib-siap-jamu-semen-padang-ae3c90.html

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lebaran Sederhana ala TKI Qatar …

Sugeng Bralink | | 30 July 2014 | 22:22

Ternyata Kompasiana Juga Ada Dalam Bidikan …

Febrialdi | | 30 July 2014 | 04:30

Indonesia Termasuk Negara yang Tertinggal …

Syaiful W. Harahap | | 30 July 2014 | 14:23

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 3 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 5 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 7 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 9 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: