
Kadang saya memikirkan apa yg terjadi di indonesia ini, sungguh bikin "miris". Tapi kadang saya juga merasa tak ada gunanya memikirkan apa yg sedang saya pikirkan :O
Dibaca:
1099
Komentar: 0
Nihil

Hari ini 28 Oktober, pada 84 tahun yang silam yang kebetulan juga jatuh pada hari yang sama (Minggu), dibacakan putusan kongres yang dipelopori oleh perwakilan-perwakilan dari sejumlah organisasi kepemudaan yang ada di Indonesia. Kongres yang digelar dengan semangat nasionalisme yang dimiliki oleh barisan pemuda dari berbagai elemen kepemudaan saat itu, tentu memiliki tujuan mulia demi tercapainya persatuan dan kesatuan guna mewujudkan cita-cita suci berupa kemerdekaan Indonesia.
Perjuangan pergerakan pemuda ini sudah digalang sejak tahun 1926 dimana diawali dengan Kongres Pemuda yang pertama kali digelar. Berbagai komunikasi dan diskusi dijalin oleh elemen lintas pemuda, dan akhirnya pada tahun 1928 diadakanlah Kongres Pemuda yang kedua. Penyatuan tekad oleh barisan perjuangan kepemudaan dengan rasa nasionalisme yang tinggi, akhirnya berhasil menciptakan rasa kepatriot-an sebagaimana yang tertuang dalam tiga butir Soempah Pemoeda. Berawal dari Sumpah Pemuda inilah, perjuangan demi kemerdekaan Indonesia lebih terorganisir daripada masa sebelumnya. Tentu ini mengacu akan kebulatan tekad masyarakat demi terbebas dari penjajah dan berjuang demi kejayaan negeri ini.
84 tahun telah berlalu, tak dapat dipungkiri bahwasanya semangat Sumpah Pemuda sedikit-banyak telah tergerus oleh arus modernisasi yang tak sebanding dengan pola pikir kita yang terlalu mementingkan kepentingan pribadi maupun kepentingan golongan. Kondisi ini ternyata juga berimbas pada persepakbolaan kita yang sebenarnya dari dulu minim prestasi, namun selalu ramai untuk dijadikan “giring sana, giring sini” oleh oknum-oknum yang beberapa diantaranya memang terbukti berniat memanfaatkan sepakbola demi kepentingan pribadi maupun golongannya.
Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa dulu sepakbola mengalami masa dimana berfungsi sebagai alat perjuangan bangsa demi memperkenalkan Indonesia yang saat itu “masih seumur jagung” di mata dunia internasional. Memang benar Indonesia sudah merdeka pada saat itu, namun perjuangan untuk mencapai kedaulatan seutuhnya, masih menyusuri jalan panjang nan terjal dan berliku demi tercapainya negara yang berdaulat di mata dunia internasional (selengkapnya baca pada artikel berikut: Kisruh PSSI dan Perjuangan Pasca Kemerdekaan RI). Maka tak heran, meski banyak (atau hampir semua) negara selalu menggunakan lambang federasi sepakbola masing-masing di kostum Timnas sepakbola-nya, Indonesia memilih menggunakan Lambang Negara untuk mewakili jiwa patriotisme yang sengaja digelorakan.
Kini, sepakbola di negeri kita telah berubah wajah. Sepakbola kini lebih banyak digunakan sebagai ajang tawar-menawar kepentingan demi golongannya sendiri. Tentu ada hal besar dibalik semua kejadian tragedi memilukan nasib sepakbola kita ini. Bukan rahasia umum lagi bahwa mayoritas fungsionaris yang berkecimpung di sepakbola kita baik di tingkat pengurus pengda/pengcab maupun level klub, adalah politisi. Dan kenyataan yang tak dapat terbantahkan adalah, mereka-mereka ini hanya memanfaatkan sepakbola demi mendongkrak popularitas namanya guna mendulang suara pada saatnya nanti ada electoral.
Hal yang paling tragis yang kini terjadi, ada pihak-pihak (yang mengaku penyelamat) berani pasang badan guna menahan dan melarang Warga Negara Indonesia untuk membela Timnas Indonesia. Hal ini dilakukan secara terang-terangan! Dan ironisnya, ancamannya terus-menerus ini digaungkan di berbagai media (yang emang medianya sendiri sich) demi sebuah tujuan yang ingin pihak-pihak ini capai. Pihak-pihak tersebut akan terus menebar ancaman dengan berbagai cara sebelum tuntutannya terpenuhi, padahal bila kita mau berpikir jernih dan mengkaji lebih dalam, tuntutan tersebut tak ada rasa nasionalismenya sama sekali.
Sudah terlalu muak kita dijejali dengan berbagai dagelan di kancah sepakbola kita ini. Sudah cukup banyak kita dibuat geregetan dengan segala ketololan kondisi yang dialami sepakbola kita ini. Sudah semakin parah dan lunturnya rasa patriotisme yang dulunya sengaja dicanangkan oleh Bung Karno yang juga melalui sepakbola ini. Tapi apakah hanya marah saja yang harus kita lakukan? Oh tidak, kawan! Berbahagialah anda yang telah berbuat nyata dalam aksi yang positif demi sepakbola kita tercinta ini. Beruntunglah anda bila anda turut memberikan dukungan moral bagi Laskar Merah-Putih yang dengan gagah berani mau terjun membawa panji Skuad Garuda di tengah keterpurukan masyarakat yang banyak terjejali doktrin negative oleh pihak-pihak yang tidak ingin sepakbola kita maju. Karena anda akan dapat mengenangnya sebagai bagian dalam sejarah yang tidak tertulis sebagai “orang yang berani berperang di saat orang lain nyaman meringkuk di ranjang masing-masing”.
Dan untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda, ijinkan kami mengucap makna Sumpah Pemuda demi adanya perbaikan riil, moril, dan spiritual di persepakbolaan tanah air.
SUMPAH PEMUDA
1. Kami putra dan putri Indonesia, mencintai sepakbola tanah air, Sepakbola Indonesia
2. Kami putra dan putri Indonesia, mengakui timnas yang satu, Timnas Indonesia
3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi “fair play” di dalam dan di luar lapangan, Fair Play Sepakbola Indonesia
Oleh : Bubup Prameshwara SH
follow twitter: @bubup_prameshWR


-