
Mahasiswa S3 Ohio State University, Columbus, OH
Dibaca: 1452
Komentar: 31
2 dari 3 Kompasianer menilai aktual
Sudah jamak diketahui bahwa medialah yang membentuk citra. Presiden SBY adalah contoh nyata betapa citra itu bisa dibentuk oleh media. Saat beliau disingkirkan oleh Megawati, Media membantu beliau sebagai figur pintar dan santun yang di’kuya-kuya’ oleh penguasa. Kepiawaian beliau dalam bermain musik, mendapatkan tempat di ajang pemilihan bakat AFI dan tumbuhlah citra sebagai seorang yang khas ‘metroseksual’: berpenampilan bagus (tinggi, ganteng plus rapi), ‘cool’ dan berdarah muda (yang berbanding terbalik dengan citra lawan politiknya). Keberaniannya mendorong penegakkan hukum atas kasus korupsi dengan menjebloskan ratusan elit eksekutif dan legislatif mendapatkan simpati yang luar biasa. Memang lawan politik memprotes kalau langkahnya tebang pilih, tetapi media melindungi citranya sehingga tetap harum dan terpilih lagi untuk periode kedua. Tetapi….karena peraturan tidak boleh menjabat lebih dari 2 kali, …citranya mulai pudar. Media kembali berperan untuk membongkar praktek-praktek kotor yang kemungkinan terjadi disekitar lingkungan dekat beliau.
Nasib Prof. Djohar-pun tak begitu jauh berbeda. Beliau dicitrakan sebagai figur terbaik atas segala kebejatan regim pengurus sebelumnya. Revolusi minta agar pengurus dipimpin oleh orang ‘bola’, dan beliau punya track record sebagai pemain, wasit, dan manager tim. Revolusi minta seorang yang netral dan beliau bukan orang partai dan pengusaha, tetapi seorang intelektual dan birokrat sehingga netral. Revolusi membuat roadmap (KSN) dan fakta integritas dan beliau satu-satunya yang tanda tangan…dan terbukti dalam tataran program, roadmap itu dijalankan (seperti program usia dini, Timnas berjenjang, sport science dsb).
Tapi ‘kemesraan’ dengan media itu cepat berlalu…sekarang beliau digambarkan sebagai pribadi yang adidang-adigung (suka memecat atau mendenda para lawannya), suka bohong (katanya AFC melarang, koq tidak?) dan boneka AP (rapat saja di Jenggala). Saya setuju, tak ada asap kalau tak ada api. Tentu kritikan ini ada benarnya. Saat media mainstream sudah bergerak terlalu jauh dari kaidah jurnalistik untuk cover both sides, saatnya para CJ menjadi penyeimbang.
Untuk itu saya serukan:
1. Imbangi pemberitaan media dengan menulis komentar yang cerdas dan bernas, terutama di media online.
2. Layani ‘debat’ dengan pendukung KPSI/ISL/netral mania dengan mengungkapkan fakta.
3. Sebarkan artikel yang baik (seperti tulisan bung Mahesa) lewat FB atau media microblogging yang lain.
4. Cari informasi dari berbagai sumber (website CAS, FIFA, AFC dsb) untuk mengcounter pemberitaan yang tidak seimbang.
5. Tunjukkan citra pendukung PSSI yang sopan, intelek, dan berwawasan tetapi bukan ‘penakut’
6. Buka track record regim lama yang bangkit kembali (Gerakan melawan lupa)
Perang ‘media’ akan semakin hebat di hari-hari mendatang ini. KONI dan Kemenpora sudah angkat tangan karena takut kehilangan citra. Mari kita siapkan hati dan budi untuk mengawal revolusi ini.