
Kadang saya memikirkan apa yg terjadi di indonesia ini, sungguh bikin "miris". Tapi kadang saya juga merasa tak ada gunanya memikirkan apa yg sedang saya pikirkan :O
Dibaca: 1573
Komentar: 41
8 dari 8 Kompasianer menilai aktual
Partai play-off Liga Champion Asia yang mempertemukan antara Adelaide United melawan Persipura Jayapura, akhirnya dimenangkan oleh sang tuan rumah. Berlaga di Stadion Hindmarsh (16/2), Adelaide membekuk tim tamu, Persipura, dengan skor telak 3-0. Dengan hasil tersebut artinya mengubur mimpi Persipura untuk tampil di kancah internasional, karna dari regulasi dan putusan yang dikeluarkan oleh AFC, tim yang kalah dalam laga ini tidak berhak tampil di AFC Cup musim ini. Hal ini dikarenakan proses persidangan gugatan Persipura di CAS belum ada putusan final. Atas pertimbangan putusan sela CAS dan deadline LCA serta regulasi AFC Cup yang sudah fit, maka dikeluarkanlah kebijakan tersebut, selengkapnya baca di sini.
Sampai segitu dulu sudah paham? Kalau sudah paham mari kita lanjut, tapi kalau paragraf satu aja nggak paham mending langsung aja close tab ini dan nggak usah ninggalin komentar. Percuma jek, gue kasian aja kalau ntar elo malah jadi bahan tertawaan temen-temen lain dengan pantun “Jaka Sembung naik ojek, nggak nyambung jekk!!!”. Buat admin, nggak usah buru-buru close tab, ntar dibawah ini gue nulis serius koq, cuma paragraf 2 aja yang emang “jahil”. Bagi yang sudah bisa menyimak paragraf awal, mari kita lanjut yang dibawah ini (langsung, kagak pake ngiklan).
KPSI yang (katanya) merupakan penyelamat sepakbola Indonesia, ternyata melakukan manuver-manuver yang sangat licik. Lihat saja, KPSI dengan terang-terangan “menjual” Persipura demi ambisinya menguasai kembali PSSI. Mengapa menggunakan kata “kembali”, ya karena KPSI memang berisi orang-orang dari rezim lama yang telah terbukti gagal dan dicap FIFA sebagai kepengurusan yang tidak kompeten. Selain KPSI, nama-nama calon ketum/waketum/exco (versi kpsi) juga mayoritas diisi oleh orang-orang bagian dari rezim lama tersebut.
Balik lagi soal Persipura. Ternyata langkah-langkah Persipura yang menuntut haknya di badan arbitrase olahraga internasional (CAS), juga ditunggangi oleh KPSI dengan segala manuver-manuvernya. Dan berikut investigasi yang akan gue tampilkan berdasarkan penelusuran versi abal-abal ala koplaksiana :
1. Persipura dijadikan komoditas untuk melegalkan ISL. Silahkan melihat realita yang ada, ketika CAS mengeluarkan putusan sela, maka KPSI mengklaim bahwa ISL memang diakui. Ketika AFC memberikan play-off kepada Persipura, KPSI mengklaim FIFA/AFC mengakui ISL secara legal. Kontemplasinya, emang ada gitu surat FIFA/AFC atau putusan CAS yang bilang ISL legal?
2. Persipura dijadikan “brand-ambassador” gratisan oleh KPSI. Lihatlah faktanya, meskipun surat-menyurat antara CAS/AFC/FIFA itu kepada PSSI, tapi nyatanya malah KPSI yang teriak paling lantang cari muka dengan “sok peduli” terhadap Persipura. Anehnya lagi, ada sebuah “kehormatan” bagi ketua KPSI yang mendapat undangan untuk menyaksikan laga Adelaide kontra Persipura.
3. Tentu saja KPSI ikut campur dalam Persipura karena ingin menunjukkan eksistensinya kepada dunia. Karena hanya Persipura yang saat ini namanya melambung di kancah Asia dan resmi sebagai anggota PSSI/AFC (meski dihukum). Coba bila nggak menunggangi Persipura, AFC nggak bakal tau ada KPSI. Tapi beberapa waktu lalu, AFC cukup telak menohok dengan tidak mengakui KPSI.
4. KPSI memanfaatkan animo suporter Persipura yang terlanjur emosi karena “merasa dizalimi” PSSI, sebagai magnet untuk menggalang dukungan KLB demi mengkudeta kepengurusan Djohar Arifin. Padahal kalau suporter lebih cerdas membaca alur permasalahan, akan didapatlah hukum sebab-akibat, nggak ada asap kalau memang nggak ada api.
5. Parahnya, memang sebelum dibentuk KPSI, Persipura sudah “dijual” oleh orang-orang yang “penghidupannya” tergusur. PT LI pun dengan sengaja menggulirkan Inter Islands Cup bersamaan dengan PSSI yang menggulirkan liga. Arema yang sebelumnya telah datang ke Jayapura pun akhirnya harus gigit jari karena ternyata Persipura lebih memilih Inter Islands Cup. Ingat, Persipura juga hadir saat sosialisasi liga oleh PT LPIS. Tentu saja tindakan PT LI yang menggelar RUPS dan Inter Islands Cup adalah upaya untuk menjual klub-klub (terutama Persipura, sang juara bertahan, tim terkuat di Indonesia saat ini) dengan harapan memperoleh legalitas.
Sebenarnya kalau dicermati dan dirunut dari akar permasalahannya, apapun manuver yang dilakukan oleh kubu pembangkang (KPSI) itu sangat mudah dipatahkan secara legalitas. Dari saham PT LI, perijinan ISL, verifikasi mosi tidak percaya, dan segala macamnya, semua akan mati kutu bila harus berhadapan dengan legalitas FIFA/AFC.
* * * * * * * * * * *
Pengamat Sepakbola Koplaksiana
“Terkoplak Mengabarkan”
oleh : Bubup Prameshwara, SH (Specialis Humor)
Peraih gelar Humoris Causa dari UGM (Universitas Genteng Merah)