
Dibaca: 1174
Komentar: 48
3 dari 3 Kompasianer menilai aktual
Kompetisi Galatama adalah pelopor kompetisi semiprofesional dan profesional di Asia selain Liga Hong Kong.
Namun sayang, era kompetisi semi profesional itu harus bubar seiring dengan penggabungan kompetisi Perserikatan dan Galatama pada tahun 1994 yang membuahkan Liga Indonesia.
PSSI membagi kompetisi nasional menjadi dua jenis, kompetisi Non-Amatir yang diselenggarakan oleh PT. Liga Indonesia dan kompetisi Amatir yang diselenggarakan oleh Badan Liga Amatir Indonesia.
Tidak ada klasifikasi “profesional” saat itu, karena hampir semua klub sepakbola yang berpartisipasi masih menetek APBD, kecuali segelintir klub eks Galatama seperti Arema, Pelita Jaya.
Selama 8 tahun perjalanan Liga Indonesia, tak ada prestasi yang mengesankan bagi Timnas Indonesia, utamanya pada Piala Dunia. Coba bandingkan dengan Jepang, USA, dan Australia yang merobah sistem kompetisi sepakbola mereka dengan sistem konsorsium.
Jepang, yang memulai J-League sejak Mei 1993 dengan 10 tim, menggantikan Liga Sepakbola Jepang/Japan Soccer League (JSL) yang eksis dari tahun 1965 hingga 1992 . Jepang akhirnya bisa menembus Piala Dunia edisi 98, 06 dan 10 (02 tidak saya hitung karena Jepang bertindak sebagai tuan rumah bersama Korea Selatan).
USA, mereka membuat Major League Soccer / MLS sebagai salah satu syarat menggelar Piala Dunia 94 pada tahun 1993. Hasilnya, mereka menembus Piala Dunia 98, 02, 06 dan 10.
Australia, dengan kompetisi A-League yang dimulai sejak tahun 2005 menembus Piala Dunia 06 dan 10. Itupun bisa saja lebih sering andai wakil Oceania bisa langsung lolos tanpa bertemu wakil zona Amerika Selatan (kekutan besar selain zona Eropa). Terbukti saat bergabung dengan AFC mereka langsung menjadi kekuatan baru di Asia sejajar dengan Jepang dan Korsel.
Menariknya, USA dan Australia bisa cukup “rutin” menembus Piala Dunia dengan sistem kompetisi mereka yang memakai konsorsium. Dan jeda waktunya lebih singkat, terlebih di USA dimana cabang sepakbola kalah tenar dibandingkan baseball ataupun bola basket.
Apakah sistem konsorsium cukup tepat untuk mengangkat pertumbuhan dan prestasi sepakbola suatu negara (minimal dari segi profesionalitas / komersil)? Dibandingkan dengan sistem APBD yang sudah terbukti membuat sepakbola Indonesia bisa disalip oleh Jepang dan US, padahal Indonesia sudah mengenal kompetisi sepakbola jauh lebih lama daripada mereka.