
Dibaca: 945
Komentar: 13
1 dari 1 Kompasianer menilai aktual
Tak ada yang memungkiri kalau Barcelona adalah tim yang bermain dengan mengandalkan kolektifitas atau keselarasan permainan semua unsur yg terlibat dalam tim. Permainan begitu hidup dgn aliran bola rancak dari kaki ke kaki, dari kiper-bek-gelandang-playmaker hingga penyerang ini terbukti sukses menghadirkan sederet kemenangan dan gelar bagi Barca, hingga supremasi tertinggi berupa juara dunia berhasil diraih dengan permainan kolektif tiki-taka ini.
Mencermati beberapa gelaran pertandingan Turnamen sepakbola yang katanya profesional, agaknya beberapa tim sudah berusaha meniru permainan kolektifitas barca yang telah dimodifikasi sesuai kebutuhan dan kondisi di IST. Pola permainan yang biasa diterapkan pun berbeda2 tergantung dimana bermain. Pola yg biasa dimainkan oleh tuan rumah biasanya 4-4-2-1. Dalam hal ini 1 penyerang tambahan diberi peran free role yg bisa menjelajah ke semua sudut lapangan. Penyerang ini berperan untuk membuat pemain lawan dikartu merah, dia juga sangat berbahaya di dalam kotak pinalti lawan, karena seringkali penyerang ke 12 ini membuat tim mendapatkan pinalti. Jika tim dalam keadaan seri atau ketinggalan, penyerang ini bisa sangat berbahaya terutama di menit2 akhir karena pinalti pun bisa diperoleh tanpa sebab. Permainan kolektifitas ke 12 pemain ini terbukti bisa mengalahkan tim terkuat, meskipun pada beberapa pertandingan pernah gagal.
Sebaliknya pada kubu tim tamu juga meracik kolektifitas tim dengan formasi 4-4-1-50 atau dalam kondisi terdesak bisa saja 4-4-1-1000. Ibaratnya mati 1 tumbuh seribu maka jika ada 1 pemain yg dikartu merah maka akan ada lagi 1000 suporter yang siap bergabung dgn tim. Alhasil seperti yg sudah2 permainan kolektifitas kedua tim berlangsung sangat seru, tak hanya main bola, tapi juga adu jotos, adu lari, lempar gas dan anggar.
Permainan kolektifitas ini jika terus dipertahankan maka diyakini bisa menghasilnya juara dunia versi VIPA yang turnamennya diadakan di lapangan lumpur.
Ya sudahlah memang maunya pada begitu, lagian pada begitu juga g bakalan ada sanksi. Lha komdisnya aja g ada. Ngapain saya capek2 nulis tulisan sekenanya ini, lagian juga kenapa sampean pada repot2 baca tulisan ngawur ini. Wong tulisan ini tidak menyertakan sumber terpercaya. Hee…hee, silahken dikomentari sambil saya menemani bobo siang anak istri saya