
Blogger, writer-wanna-be, banknote dealer, football lover (proudly saying that I am Liverpudlian!), lucky husband of a wonderful woman, and happy father of 2 cute babies. Living happily with his little family in Pemalang, Central Java, ID. Please visit www.bungeko.com, or follow me @bungeko. Thanks...
Dibaca: 78
Komentar: 0
Nihil
Catatan: Saat membongkar-bongkar file lama, saya menemukan naskah buku “Aneh-aneh Sepak Bola” yang saya susun menjelang Piala Dunia 2006. Daripada mubazir saya tampilkan secara berseri di Kompasiana.com untuk menyongsong Euro 2012 di Polandia-Ukraina. Seri tulisan ini saya posting terjadwal setiap Jumat mulai 6 Januari 2012, hingga kick off Euro 2012 pada Jumat, 8 Juni 2012. Selamat menikmati!
PERNAH melihat sepak bola waria? Mungkin belum. Selama ini yang akrab di kalangan penggila bola adalah sepak bola pria. Baru kemudian menyusul sepak bola wanita beberapa dekade terakhir. Tapi keberadaan sepak bola kaum feminin ini belum dapat diterima secara luas. Masih timbul penolakan dari beberapa pihak yang beranggapan bahwa wanita tidak pantas bermain sepak bola. Ada yang memakai dalil agama, ada juga yang sekedar sinis.
Nah, kalau sepak bola wanita saja masih menimbulkan pertentangan, apalagi yang waria. Inilah yang terjadi di Tasmania pada pertengahan musim 2005. Yang membuat heboh dunia sepak bola Tasmania adalah kehadiran waria bernama Martine Delaney di kompetisi wanita. Padahal, selama lebih dari 25 tahun terakhir Delaney berkecimpung di liga pria dengan nama Martin Delaney. Ya, hanya beda huruf ‘e’ saja. Dari Martin menjadi Martine Delaney.
Martine Delaney, dulunya laki-laki. (foto: www.themercury.com.au)
Delaney yang lahir tahun 1958 memang sempat menjadi penyerang di klub Metro Claremont sejak tahun 1970-an. Skill-nya bagus, tapi naluri kewanitaannya membuat Delaney cenderung bersikap feminin di atas lapangan. Rambutnya yang dibiarkan panjang terurai semakin membuatnya berbeda dengan pemain pria lainnya. Kondisi tersebut tentu saja sangat mengganggunya.
“Saya selalu merasa kalau saya adalah wanita. Tapi ketika masuk lapangan, saya harus berperan sebagai pria,“ kenang Delaney.
Tak tahan terus merasa tersiksa, Delaney memutuskan untuk melakukan operasi kelamin pada 2003 lalu. Statusnya pun kemudian disahkan sebagai seorang wanita oleh pengadilan di Hobart, ibukota Tasmania.
Mengingat usianya yang telah mencapai angka 47, Delaney mulanya memutuskan untuk berhenti dari karirnya sebagai pesepak bola. Tapi beberapa rekan wanitanya memintanya kembali bermain. Apalagi tawaran juga datang dari klub Clarence United. Jadilah Delaney merumput kembali, tapi kali ini di kompetisi wanita.
Debut Delaney sebagai “pesepak bola wanita“ cukup sukses. Dua bulan pertama membela Clarence United, ia mencetak enam gol. Posisi klub pun beranjak naik ke posisi tiga klasemen. Tapi masalah muncul beberapa saat kemudian. Sebagian pemain lawan mengenali Delaney sebagai Martin Delaney yang dulu bermain di liga pria. Protes bermunculan ke Soccer Tasmania, otoritas sepakbola salah satu negara bagian Australia itu. Salah satu pihak yang melancarkan protes adalah klub South Hobart yang pernah dipermalukan 1-6 oleh Clarence United. Dalam pertandingan itu Delaney menyumbangkan dua gol dan dua assist.
Protes tersebut segera ditanggapi oleh Soccer Tasmania. Chief Executive (waktu itu) Martin Shaw menyatakan bahwa status Delaney di kompetisi wanita adalah sah. Pengesahan itu diberikan menyusul surat permohonan Delaney untuk dapat bermain bersama Clarence United di liga wanita. Keputusan tersebut diambil Soccer Tasmania setelah berdiskusi dengan Federasi Sepakbola Australia (FFA). Shaw juga menegaskan bahwa FFA tidak mempunyai aturan khusus mengenai waria. Tapi menurut aturan Komisi Olahraga Australia, seorang waria boleh berkompetisi di kelompok wanita. Berdasarkan aturan itulah FFA memberi rekomendasi pada Soccer Tasmania untuk membolehkan Delaney bermain di liga wanita.
“Melarang Martine bermain di liga wanita bertentangan dengan sikap anti diskriminasi,” kata Shaw. “Seorang waria diperbolehkan berkompetisi di ajang Olimpiade, maka demikian juga dengan Martine yang memenuhi ketentuan untuk bermain sepak bola di Tasmania.”
Biarpun tidak menyalahi aturan, kehadiran Delaney di liga wanita tetap menjadi perdebatan. Selain South Hobart, sedikitnya dua klub wanita lain juga menyatakan keberatannya atas partisipasi Delaney. Pasalnya, secara genetik Delaney tetaplah seorang pria yang mempunyai fisik lebih kuat dibanding wanita. Tak heran jika di usianya yang hampir berkepala lima Delaney tetap tampil dominan.
Delaney tentu saja menampik anggapan itu. Dia menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak mempunyai keunggulan dan juga keuntungan secara fisik dibanding pemain wanita lainnya. “Beberapa wanita yang pernah berhadapan dengan saya beberapa bulan lalu justru memiliki otot yang lebih besar daripada saya,” katanya.
Banyak menerima kritik, tapi Delaney juga didukung oleh banyak pihak. Dukungan terbesar tentu saja datang dari klubnya, Clarence United, dan rekan-rekannya satu tim yang membelanya 100%. Beberapa pihak yang bersimpati pada Delaney juga memberikan dukungan moral saat bertemu waria itu di tempat-tempat umum.
Berangkat dari kasus ini, tampaknya FIFA harus mempertimbangkan dibentuknya satu wadah khusus bagi kaum waria. Seperti halnya kaum wanita, para waria sepertinya juga perlu mempunyai satu kompetisi khusus. Paling tidak, aturan mengenai trans jender seperti kasus Delaney harus segera dibuat agar kasus serupa tidak terulang lagi.
Menyikapi pro-kontra atas kasusnya, Delaney sempat berujar, “Menurut aturan, jika saja saya masih muda dan cukup kuat, saya sah turun di kelas wanita pada Olimpiade. Jadi, kalau saya sah bertanding di Olimpiade, kenapa di liga wanita Tasmania status saya dipermasalahkan?”
Ya, kenapa mesti dipermasalahkan kalau tak menyalahi aturan? Mungkin jawabannya hanya satu; karena kasus ini unik dan aneh. Ah, ada-ada saja…
– Bung Eko –
follow me @bungeko