
Blogger, writer-wanna-be, banknote dealer, football lover (proudly saying that I am Liverpudlian!), lucky husband of a wonderful woman, and happy father of 2 cute babies. Living happily with his little family in Pemalang, Central Java, ID. Please visit www.bungeko.com, or follow me @bungeko. Thanks...
Dibaca: 33
Komentar: 0
Nihil
SATU poin positif Orde Baru yang belum bisa ditiru pemerintah sekarang adalah perencanaan pembangunan berjangka. Presiden Soeharto kala itu punya rencana pembangunan jangka pendek lima tahun (Repelita), dan rencana pembangunan jangka panjang 25 tahun.
Sebagai contoh, Presiden Soeharto punya target jangka panjang yang diharapkan tercapai dalam 25 tahun mendatang. Untuk mencapainya, ia memecah target tersebut menjadi lima target jangka pendek, lima Repelita. Masing-masing bagian difokuskan pada satu target antara yang saling berkesinambungan.
Hasilnya, karena telah mempunyai grand design, pembangunan Indonesia terus berkelanjutan sekali pun pelaksananya di tingkat menteri beganti-ganti tiap usai Pemilu.
Sayang, seiring stigma negatif yang melekat pada Orde Baru, perencanaan pembangunan berjangka model begini tidak diteruskan pasca-Reformasi 1998. Dari empat presiden sepanjang 13 tahun sejak Presiden Soeharto mundur pada Mei 1998, tak satu pun yang punya rancangan pembangunan serapi Orde Baru.
Efeknya, proses pembangunan seolah selalu dimulai dari awal lagi sehabis Pemilu. Setiap terjadi pergantian pemimpin, berganti pula kebijakannya. Berputar-putar begitu terus setiap lima tahun sekali. Maka, tak heran jika Indonesia tak maju-maju.
Cuci Gudang ala PSSI
Penyakit serupa tampaknya menjangkiti PSSI. Berdalih mengusung perubahan, pengurus PSSI yang baru terpilih beberapa bulan lalu langsung melakukan sapu bersih. Meski banyak tugas berat menanti, Djohar Arifin justru lebih sibuk menyingkirkan pengurus lama dari PSSI agar ada posisi lowong buat para pendukungnya.
Gebrakan pertama yang dilakukan PSSI, yakni memecat Alfred Riedl secara sepihak dan menggantikannya dengan Wim Rijsbergen, malah terkesan sebagai sebuah blunder daripada pemikiran visioner. Indonesia memang berhasil lolos ke babak III Prakualifikasi Piala Dunia 2014 zona Asia. Namun Turkmenistan berperingkat di bawah Indonesia, dan timnas hanya menang dengan agregat tipis 5-4. Beruntung sekali.
Pembubaran badan-badan seperti BLI, BLAI, BPPUM, hingga tidak digunakannya PT Liga Indonesia sebagai pemutar kompetisi mulai musim mendatang, seolah semakin menegaskan adanya aksi bersih-bersih tersebut. Kebetulan badan-badan tersebut dipimpin orang-orang pro status quo. Apapun alasan Djohar cs., publik secara telanjang dapat membaca apa yang sebenarnya terjadi.
Yang paling disayangkan tentu perubahan format kompetisi. Liga Super Indonesia yang mulai meningkat kualitasnya dihentikan begitu saja. Konyolnya lagi, PSSI mengulang kompetisi dari nol dan mengabaikan hasil musim lalu. Peserta-peserta diverifikasi ulang untuk ditempatkan di level 1 atau level 2.
Tentu saja keputusan ini mengundang protes keras. Saat liga yang diberi nama Indonesian Premier League (IPL) tersebut resmi bergulir, pesertanya rontok satu-satu sehingga hanya diikuti 12 klub. Liga tandingan yang notabene liga musim lalu, LSI, digulirkan. Mengingatkan memori kita pada dualisme LSI vs LPI awal tahun ini. Kalau dulu LSI yang sah dan LPI yang ilegal, kini ceritanya jadi terbalik.
Jalan di Tempat
Sadar atau tidak, PSSI telah mengorbankan proses pembinaan sepak bola nasional demi memuluskan ego segelintir orang. Sebuah kebijakan yang jauh dari sifat bijaksana. Alih-alih membawa kemajuan, perubahan format liga malah menimbulkan masalah-masalah baru.
Potensi masalah bahkan sudah tampak sejak Sihar Sitorus mencetuskan wacana penggabungan klub-klub LPI ke LSI pada awal musim ini. Klub-klub Divisi Utama hingga Divisi Tiga menjadi pihak yang paling dirugikan jika rencana ini benar-benar diwujudkan.
Bayangkan bagaimana perasaan klub-klub seperti PS Palembang, PS Bengkulu, atau PS Mojokerto Putra, yang sudah bertahun-tahun berjuang keras menuju LSI, melihat Batavia Union, Tangerang Wolves maupun Aceh United yang baru berdiri kurang dari setahun tapi langsung dinaikkan ke kasta teratas.
Nama klub-klub eks LPI memang tak ada dalam daftar peserta IPL 2011/2012. Namun siapapun tahu jika, sebagai contoh, Persija yang diloloskan PSSI adalah Persija versi Hadi Basalamah, eks pentolan Jakarta FC 1928. Lalu Persiraja Banda Aceh kini bergabung dengan Aceh United. Catat pula, tiga klub yang dulu membelot dari PSSI demi LPI kini dipulihkan statusnya dan langsung melenggang ke kasta teratas.
Blueprint Pembinaan
PSSI tampaknya lupa, kompetisi yang kacau hanya akan menghasilkan timnas yang kacau pula. Penggabungan klub-klub LPI ke LSI, bagaimanapun modusnya, merupakan sumber kekacauan kompetisi. Belum terlambat bagi PSSI untuk memperbaiki blunder ini. Mumpung liga belum berjalan normal, mumpung jadwal liga masih bisa diotak-atik menyusul aksi boikot klub-klub LSI.
Sudah saatnya PSSI menatap jauh ke depan. Jangan sampai sepak bola Indonesia selalu jalan di tempat karena pengurus federasinya terus-menerus mengulang kesalahan yang sama.
Mencontoh Presiden Soeharto, PSSI seharusnya mulai menyusun cetak biru pembinaan sepak bola nasional untuk 20 atau 25 tahun ke depan. Lalu buat target-target jangka pendek, per tahun dan per lima tahun, yang membuat target jangka panjang tersebut semakin mudah dicapai.
Untuk menuju ke sana, langkah pertama yang harus ditempuh adalah mengakhiri pengkotak-kotakan status quo dan pro perubahan. Penuhi janji rekonsiliasi yang sempat diutarakan Djohar saat terpilih di Solo, lalu ajak pengurus lama yang berkompeten dan telah berpengalaman untuk menjalankan program kerja PSSI. Demi kemajuan sepak bola nasional, apa salahnya sih menyingkirkan ego pribadi?
Berikutnya, mulailah PSSI menyusun sebuah visi jangka panjang. Katakanlah lolos ke Piala Dunia 2022. Maka, buat target-target berjenjang dalam jangka pendek untuk mencapai target impian tersebut. Lolos ke Piala Dunia sama sekali tidak mustahil bagi Indonesia, sepanjang strategi pembinaan yang diterapkan PSSI tepat. Persoalannya, boro-boro ke tingkat dunia, di jenjang Asia Tenggara saja kita masih keteteran.
Di SEA Games, timnas terakhir kali meraih medali emas di tahun 1990. Wow, itu sudah 21 tahun yang lalu! Di Piala AFF, Indonesia cuma mampu menjadi runner-up. Empat kali tampil ke final tak sekalipun mampu dikonversi menjadi gelar juara. Emas SEA Games 2011 yang jadi target utama juga gagal diraih. Jadi, tak salah rasanya jika fokus PSSI saat ini dicurahkan untuk fokus mengejar gelar juara Piala AFF 2012.
Setelah mampu mendominasi Asia Tenggara, barulah tetapkan target lebih tinggi: jadi langganan Piala Asia. Awalnya cukup tidak menjadi juru kunci grup, lalu tingkatkan target menjadi setidak-tidaknya lolos ke babak knock out. Nah, setelah mampu berbicara banyak di tingkat Asia, barulah mulai membahas Piala Dunia.
Eit, sebelum terlalu jauh ke sana PSSI tentu saja harus secepatnya membereskan urusan liga. Kalau terus-terusan ada dua liga, boro-boro mau berprestasi.