Artikel

Bola

Eko Nurhuda

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Blogger, writer-wanna-be, banknote dealer, football lover (proudly saying that I am Liverpudlian!), lucky husband of a wonderful woman, and happy father of 2 cute babies. Living happily with his little family in Pemalang, Central Java, ID. Please visit www.bungeko.com, or follow me @bungeko. Thanks...

Harmonisasi Pangkal Prestasi


OPINI | 15 October 2011 | 05:26 Dibaca: 108   Komentar: 0   Nihil

BEGITU gawang Feri Rotinsulu jebol hanya seperempat jam setelah kick off, tersembul ketakutan Indonesia bakal kalah lagi di PPD 2014. Kekhawatiran ini bukannya tanpa alasan. Indonesia lebih sering kalah jika tertinggal lebih dulu. Apalagi melawan tim yang jauh lebih kuat.

Benar saja. Dua gol Cristian Gonzales yang membuat babak pertama berakhir imbang 2-2 hanya menunda kegetiran. Sempat menekan habis di awal babak kedua, semangat pemain Indonesia langsung habis begitu Qatar membukukan gol ketiga. Meski punya waktu membalas lebih dari setengah jam, Bambang Pamungkas cs. keluar lapangan dengan kepala tertunduk.

Hasil ini tentu saja menutup harapan Indonesia. Lolos ke babak keempat zona Asia hanya tinggal harapan kosong. Tiga laga sisa yang bakal dilakoni pun sekedar formalitas belaka. Perjalanan Indonesia di PPD 2014 tamat berbarengan dengan selesainya pertandingan di SUGBK, Selasa (11/10) lalu.

Faktor Nonteknis
Mencari kambing hitam atas kekalahan dari Qatar bukanlah tindakan bijak. Ya, blunder Djohar Arifin yang memecat Alfred Riedl secara sewenang-wenang memang punya andil besar di sini. Andai Riedl tak diganti waktu itu, persiapan Indonesia menghadapi PPD 2014 bakal jauh lebih matang.

Dengan persiapan yang lebih baik tentu timnas bisa berbicara lebih banyak. Memang tak ada jaminan timnas tidak terus-terusan kalah atau tidak tersingkir secepat ini jika yang menangani masih Riedl. Namun, andaipun tersingkir setidaknya pemain mampu menunjukkan permainan menawan.

Kalah dalam sepak bola hal biasa. Tapi Indonesia di tangan Wim Rijsbergen kalah luar-dalam. Bukan cuma kalah skor, tapi juga kalah permainan dan mental.

Nah, soal permainan dan mental ini erat kaitannya dengan kondisi internal timnas. Ini faktor nonteknis di luar lapangan, namun justru sangat menentukan hasil akhir pertandingan.

Belum Harmonis

1318630979425959060

Wim Rijsbergen, belum mengenal karakter sepak bola dan juga pesepak bola Indonesia. Tak kenal maka tak menang, Meneer…

Satu hal penting yang membedakan Riedl dari Wim adalah harmonisnya hubungan Riedl dengan para pemain. Tak cuma Riedl, Wolfgang Pikal dan Widodo C. Putro di posisi asisten pelatih pun tampak begitu akrab dengan pemain. Buahnya adalah penampilan mengesankan di Piala AFF lalu.

Wim yang baru 3 bulan menangani timnas tampak belum mampu menyatu dengan para pemainnya. Ia pun terlihat masih belum paham benar kultur orang dan sepak bola Indonesia. Isu perpecahan timnas pascalaga kontra Bahrain sedikit-banyak membuktikan hal itu.

Wajar saja, pengalaman melatih PSM Makassar selama 6 bulan jelas tidak cukup bagi Wim untuk memahami sepak bola Indonesia. Apalagi PSM kala itu berlaga di LPI yang sama sekali tidak merepresentasikan sepak bola nasional.

Cerita jadi semakin rumit kala PSSI memasang Liestiadi sebagai asisten Wim. Okelah mereka pernah bekerja sama di PSM dalam mengarungi LPI. Tapi, mayoritas pemain timnas bermain di Liga Super (LSI). Lain padang lain belalang. Duet Wim-Liestiadi dan para pemain timnas ibarat belalang-belalang yang berasal dari padang berbeda.

Pendek kata, duet Wim-Liestiadi belum mengenal pemain-pemainnya sendiri. Waktu 3 bulan terlalu pendek untuk menumbuhkan chemistry diantara kedua pihak. Di tengah belum harmonisnya kondisi internal timnas, tentu sulit mengharapkan hasil terbaik di atas lapangan.

Melihat fakta ini, ada baiknya PSSI mencari asisten pelatih tambahan yang berpengalaman dan mengenal betul seluk-beluk sepak bola nasional. Semua demi terciptanya suasana harmonis di internal timnas menjelang Piala AFF 2012. Tapi ini hanya usul lho, Prof. Djohar, bukan bermaksud menggurui. Tolong sampaikan ke Bos Anda.

Eko , for better Indonesian football

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: